Thursday, December 6, 2007
Menghadiri Acara HASS
Sebelum berangkat saya punya gambaran awal tentang acara ini, yang hanya akan berisi kumpulan sambutan-sambutan para tetua. Lalu cerita tentang keberhasilan dan ditutup dengan harapan untuk memajukan minangkabau. Tanah minangkabau dan orangnya. Dan memang, gambaran awal saya ini terbukti. Menambah rasa pesimis saya dengan kegiatan-kegiatan seperti ini.
Acara dipandu oleh seorang laki-laki cukup berumur. Dan kenapa harus dia? Memangnya tidak ada orang muda yang mampu buat menjadi pembawa acara. Lalu rangkaian pidato seperti biasa. Ini juga masih tokoh-tokoh yang sama. Yang seharusnya sudah tidak berada di depan lagi breteriak-teriak. Cukuplah menjadi seorang tempat bertanya ketika akan pergi dan berberita ketika sudah pulang. Apakah yang muda tak ada yang berani muncul, ataukah para tetua tetap menjadi seorang banci tampil?
Di acara ini saya mencoba membuat sebuah analisa (yang sangat dini tentunya) tentang orang-orang yang hadir. Dan ketika itu pula saya ingat ucapan seorang guru saya, tentang sebuah komunitas. Katanya, dalam sebuah komunitas apapun bentuknya. Jumlah anggotanya yang aktif, maksimal adalah akar kuadrat dari komunitas tersebut. Jika ada 100 orang, yang akan aktif maksimal hanyalah 10 orang. Saya coba menguji hipotesa guru saya ini terhadap organisasi HASS. Lalu Gebu Minang, SSM dan seterusnya. Irisan atau overlap anggotanya sangatlah besar. Universe HASS, Gebu Minang dan SSM rasanya itu-itu juga. Berlaku juga untuk anggota yang aktif sebagai akar kuadrat komunitas ini.
Artinya. Penggiatnya organisasi minang ini adalah L4. Loe Lagi Loe Lagi.
Nah, maka dari itu. Kenapa organisasi minang tidak kita jadikan satu saja. Toh program-programnya itu-itu juga, apalagi penggiatnya. Parat tetua yang akan memberikan pidato juga masih orang-orang yang sama. Biar efisien dan efektif saja tentunya.
Note:
HASS: Himpunan Alumni SMA Se-Sumbar
MPKAS: masyarakat Pencinta Kereta Api Sumbar
MAPPAS: Masyarakat Peduli Pariwisat Sumbar
Saturday, October 27, 2007
Istanbul, Sebuah Timur di Barat...2
Bonaparte pernah berujar, jikalau dunia ini adalah sebuah negara tunggal, Istanbul adalah ibukotanya. Mungkin ucapan ini terlontar karena keindahan kota Istanbul, atau bisa jadi karena posisi geografis Istanbul yang memang cukup ideal sebagai sebuah ibukota di masa itu. Apalagi dikaitkan dengan adanya benteng alami bernama selat bosphorous dan golden horn, yang membuat perlindungan kota lebih gampang. Di masa, dimana peperangan memang lumrah terjadi kapan saja.
Bagiku, kedua alasan ini masuk akal. Istanbul memang indah dan strategis. Selama 5 hari di kota ini, aku menyempatkan diri mengenal keindahan fisik dan eksotisme budayanya.
Satu hal yang menggelitik selama berada disana adalah soal pemerintahannya. Baik di masa lalu, setengah lalu, setengah kini dan saat ini. Bagiku Istanbul (baca Turki) sungguh sangat unik dan membuat ingin tahu. Perbincanganku dengan kawan-kawan penduduk asli memperkaya pemahamanku jauh di luar informasi yang aku dapat selama ini tentang Turki. Kebanyakan yang kukenal disana, adalah pendukung sekularisme. Sedikit saja yang masih berbau puritan.
Aku selalu memancing dengan pertanyaan kenapa Partai Islam yang menang di tengah prinsip dasar sekluarisme negara anda. Aku berada disana ketika belum ada kepastian pelantikan Abullah Gul sebagai Presiden. Jawaban mereka sungguh beragam, sesuai dengann latar belakang pandangan mereka terhadap sekularisme. Sebagian besar menjawab, masyarakat memilih Erdogan (dan partainya) lebih karena bukti kinerjanya ketika memerintah Istanbul. Seorang kawan malah mengatakan, karena keberhasilan Erdogan membersihkan Golden Horn (teluk Istabul) ketika menjadi walikota. Sehingga sekarang ia jadi bisa memancing dari pinggir jembatan, tak seperti dulu airnya sangat hitam dan pekat.
Satu orang yang menjawab karena, masyarakat Turki rindu akan sebuah sistem pemerintahan Islam masa Ottoman. Satu orang inilah yang menemaniku di masjid biru, ketika aku bilang hendak mencoba Shalat Ashar di mesjid tersebut. Sementara yang kawan-kawan yang lain menunggu di sebuah cafe sambil meminum bir khas turki ”efes”. Sebuah minuman, yang aku juga suka.
Note: Ketika Transit dalam perjalanan pulang, terdengar berita kalau Abullah Gul telah dilantik sebagai Presiden Turki.
Tuesday, October 23, 2007
Baru Sebatas Barandai
Rasanya kita cocoknya memang sekadar berkumpul bersama, merencanakan dan melaksanakan pertunjukkan randai, saluang, domino barabab dan sebagainya. Lebih dari itu. Susah rasanya. Lihatlah contoh ka nan sudah dan tuah ka nan manang. Usulan mangumpuakan pitih seribu yang dilontarkan Soeharto di tahun 80an, tak pernah berkembang dengan baik. Cuma begitu-begitu aja. Tak sepenuhnya salah, ada orang yang beranggapan organisasi ini hanya jadi alat mempopulerkan pengurusnya, atau mempertahan posisi publik pengurusnya.
Menurut kawan saya, sesama minang kita tidak punya lagi yang namanya trust. Katanya lagi, bisa jadi karena orang yang selama ini diberikan kepercayaan, tak pernah sungguh menjalankannya. Pragmatis belaka. Katanya juga, tak heran sebuah organisasi pengumpul dana abadi sosial, performancenya tak lebih bagus dari sebuah panitia pembangunan mesjid. Padahal organisasi ini dipayungi oleh orang nomor satu di ranah dan rantau. Pelaksananya juga banyak bergelar profesor, dan sebagian besar pengurusnya adalah orang yang berkategori well educated.
Sekali lagi, ini menurut kawan saya. Dan, saya lagi menimbang-nimbang komentar kawan saya ini. Hmmm.... rasanya kawan saya ini ada benarnya.
Salam
Tuesday, October 9, 2007
Bengkulu
dulu.
Yeltsin
Monday, October 8, 2007
Nation State
Kapan giliran kita??
Thursday, October 4, 2007
Bung, aku kecewa!
kecewaku padamu
meyakinkan Yamin saja kau tak mampu
tentang tak perlunya Papua dalam Indonesia
tentang statebond dan federalismenya bentuk negara
kecewaku padamu
tentang kegagalanmu
menjelaskan pada pendiri negara ini
tentang ketakutanmu pada sebuah nasionalisme chauvinistik
dan berhala persatuan
kembali ku kecewa padamu
tentang ketidakbisaanmu menahan laju
luapan semangat persatuan simbolik
tentang semangat kejayaan masa lalu nan semu
kecewaku padamu
FYI, saat terlalu banyak gegap gempita
teriakan asbun en ka er i
dari orang yang kami namakan tokoh