Thursday, September 6, 2007

ISTANBUL, Sebuah Timur di Barat...1

Rasa lelah 12 jam perjalanan udara dari Singapura langsung hilang, ketika roda pesawat Turkish Airlines menyentuh landasan Bandara Internasional Attaturk di kota Istanbul, Turki. Rasa penasaran akan sebuah kota penuh sejarah ini langsung memenuhi pikiran ini. Otakku langsung dipenuhi imajinasi berseting Turki di akhir abad ke 19 seperti dalam Novel Tariq Ali berjudul Perempuan Batu, selang setahun lalu kutamatkan. Kisah tentang keluarga bangsawan diplomat kesultanan Usmaniyah.

Selepas urusan kantor, sorenya aku langsung berjalan-jalan menyusuri kota ini. Beruntung ada yang menjadi guide bagiku menikmati perjalanan selepas jam kerja ini. Alhamdulillah ini summer, matahari baru terbenam pukul 8 malam. Jadi, aku masih sempat menikmati pemandangan siang kota dua benua ini.

Betapa aku berdecak kagum di tengah lalu lalang ribuan orang di Taksim Square. Sebagian besar terlihat berlari mengejar waktu. Sebagian kecil terlihat duduk santai, menikmati sajian teh khas turki di lorong jalan Istiqlal. Sebagian lagi juga larut dalam kenikmatan simbol-simbol modern. Starbucks, Burger King dan Pizza Hut. Kukagumi setiap perempuan muda turki yang terlihat. Begitu cantik dan eksotiknya. Perpaduan postur eropa dan balutan kulit lembut asia. Sungguh, mereka akan selalu terlihat cantik bagiku.

Kembali aku membayangkan masa lalu dimasa kesultanan Usmaniyah. Tetap bersetting Novel Perempuan batu, selang setahun lalu kutamatkan. Sapaan Effendi dan Hanim Effendi, berseliweran di kupingku. Para perempuan dan laki-laki memakai pakaian khas turki. Berseling dengan laki-laki asing berpakaian jas atau berjubah khas arab. Sebagian mereka adalah para diplomat asing dan para musafir niaga. Mungkin aku akan mencoba duduk bersama mereka di sebuah kedai kopi, bercerita tentang negeri kami masing-masing. Akan kuceritakan kepada mereka tentang islam di negeriku , sebuah negeri di timur jauh. Sambil sesekali meneguk Raki* atau Ouzo dari negeri tetangga mereka, Yunani.

Sempat aku berdoa, di Taksim Square ini kutemukan mesin waktu. Agar aku bisa melihat langsung semua suasana itu. Tak sebatas khayal dan lamunan lagi.

* Raki (baca rake, sejenis arak khas Turki)

Thursday, August 16, 2007

Amir dan Thomas Edison

Dari kecil Amir begitu mengagumi Thomas Alfa Edison. Itu bermula ketika Guru SD Amir bercerita tentang penemu listrik. Walaupun ketika tiba di rumah, Ayah dan Ibunya merevisi, bahwa Edison sebenarnya adalah penemu bola pijar. Apa pun itu, Amir tetap menganggap Edison adalah orang hebat. Bahkan ketika di kelasnya ada anak baru, pindahan dari Jambi bernama Edison, Amir sempat iri bin bingik. Kenapa ia dulu tidak diberikan nama Edison oleh ayah ibunya.

Menurut Amir kecil, kalau tidak ada Edison ia tidak akan bisa menonton TV seperti sekarang ini. Menyaksikan Film Si Unyil, Dari Gelanggang ke Gelanggang terutama bagian relly mobilnya, atau menyaksikan film Flash Gordon. Ketika listrik padam di rumahnya, kekagumannya pada Edison makin tak terbatas. Benar-benar gelap dunia ini tanpa Ediosn, begitu kira-kira. Di perpustakaan SDnya, Amir menemukan sebuah buku bergambar yang bercerita tentang Edison. Di buku itu tertulis, kalau Edison memiliki puluhan paten atas namanya. Ketika di luar, orang berbicara tentang kepatenan. Amir dengan lantang akan berkata, dia tidak berhak disebut "paten". Di dunia ini yang berhak disebut paten hanyalah Edison. Yang lain cuma sok paten.

Di kelas IV SD, Amir menangis sedih ketika Guru Agama menceritakan semua orang yang bukan islam akan masuk Neraka. Berarti Thomas Edison dan Om Sinaga tukang kredit Ibunya akan masuk Neraka. Edison adalah orang hebat. Om Sinaga adalah orang baik. Suka memberikan kipang kacang padanya. Membantu ibu-ibu membelikan Panci, Seprai, Lapiak lipek dan sebagainya. Termasuk memberikan Imsakiyah menjelang bulan puasa, yang dihisab oleh Bapak Arius Saikhi. Amir tidak terima kalau Edison dan Om Sinaga masuk neraka.

SMP dan SMA, Amir sudah mulai melupakan Edison. Ia lebih tertarik dengan wanita. Juga lagu Metallica. Sebenarnya dangdut juga. Cuma Amir sedikit gengsi. Soalnya di majalah HAI yang ia baca, Metallica dan kawan-kawanlah yang dianggap gaul di Jakarta. Nike Ardilla dan Deddy Dorres aja dianggap kampungan, apalagi Kalau Dangdutnya Anis Marsela. Begitu juga lagu Malaysia.

Dan, Amir pun kuliah di tanah Jawa. Sekamar dengan Bang Rajab asal Sidempuan. Dari si Abang, Amir banyak belajar tentang dunia, di luar kuliah dan teman wanita. Amir dan Rajab sering berbincang tentang apa saja. Akhirnya sampai juga pembicaraan tentang Thomas Edison. Ketika bicara tentang Edison, abang biasa saja menanggapi. "Tak adalah itu, kalaupun si Edison tidak ada lampu pijar pasti ditemukan orang juga nya", begitu kata abang. Paling juga tertunda 5 tahun saja. Tapi Amir memang Minang sajati: Iyo kan nan di urang laluan nan di awak. Baginya Thomas Edison tetap orang hebat.

Amir pun mulai terlibat dalam pergulatan pemikiran dengan Bang Rajab. Banyak hal mereka sulit untuk sepakat. Dari sedikit yang mereka sepakati hanyalah soal ketidakadilan konsep penghuni sorga dan neraka versi mutakhir kawan-kawan lain. Bagi Rajab dan Amir, kebajikan seseorang kepada manusia dan peradaban adalah sorga itu sendiri. Bukan yang lain. Lalu Rajab dan Amir mulai berdoa, "Ya Allah. Ya Tuhan kalau memang sorga akan kau berikan kepada manusia ini. Berikan juga untuk Thomas Edison, Abu Thalib dan Isaac Newton. Betapa mereka telah banyak berbuat kebaikan untuk dunia ini. Layaklah sorga-Mu itu sebagai apresiasi bagi mereka. Kalaupun mereka tidak pernah menjadi muslim, Bukankah mereka juga mengakui Tuhannya Ibrahim sebagai Tuhan mereka pula... Amin".

Amir dan Rajab segera menyalakan Sampoerna Mild. Mengambil gitar, menyanyikan lagu Isabella yang lagu Malaysia. Diteruskan dengan Manuk Dadali yang lagu Sunda. Kemudian bercerita tentang pacar-pacar mereka. Mereka, udah loe apain aja....?

Wednesday, August 15, 2007

Pulang Kampung (Surat Untuk Seorang Perantau)

Assalamualaikum,
Dunsanak,
Sama seperti anda, saya juga perantau. Saya berada dalam barisan besar gerombol orang minangkabau yang disebut perantau. Merantau sebenarnya adalah pilihan terakhir buat saya. Kalau boleh memilih, sebenarnya saya ingin tinggal di kampung. Mengurus sawah, parak gatah dan sekali-kali mencari ikan di batang sinama. Namun apa daya, orang tua menyekolahkan ke tanah jawa. Keinginan pun menjadi berubah. Sisi materialistis telah muncul menjadi sebuah hal yang sangat penting. Keinginan sederhana masa kecil telah dikalahkan oleh hasrat untuk mencari bentuk kesuksean lain berupa materi dan posisi publik.

Telah menjadi kebiasaan saya sejak bekerja dan lulus sekolah untuk pulang kampung tiga bulan sekali. Tetap ada sisi romantis dalam diri ini untuk tetap mengunjungi kampung tercinta. Setahun pertama, kepulangan saya ke kampung baru sebatas berkumpul dengan keluarga dan teman-teman lama. Kesan pamer tak bisa dihindari. Saya sudah merasa paling hebat dibanding orang-orang kampung. Kerjaan saya hilir mudik, trus nongkrong di lapau. Setiap menit saya benar-benar begitu menikmati sapaan “Hey, bilo tibo? Iyo alah sanang kini yo?”. Tak peduli sapaan itu benar-benar tulus atau hanya basa basi belaka. Yang penting saya benar-benar jadi besar kepala. Kebetulan rumah kami bertetangga dengan rumah wali nagari, setiap pulang selalu saya sempatkan main ke sana. Di depan Pak Wali saya kembali terlihat sok hebat. Saya berkoar-koar menyampaikan nasehat buat kemajuan kampung ini. Dan kembali saya tetap tak peduli, apakah pak wali benar-benar tulus mendengarkan atau tertawa dalam hati.

Beberapa teman-teman lama pengurus karang taruna semangat pula mengajak saya berdiskusi. Pernah pula saya diajak beraudiensi dengan Pak Camat. Bahkan saya diminta untuk menyusun proposal menyusun feasibility study proyek kelompok usaha ikan keramba milik Karang Taruna. Modalnya berasal dari Dinas Koperasi Kabupaten. Seperti biasa, proyek ini hanya berlangsung satu siklus produksi saja. Namun tak apalah, sebagian uang pakan ikan ada dibelikan ke bola voli dan biaya organ tunggal malam hiburan. Di acara itu, saya sempatkan pula membeli singgang ayam lewat acara lelang.


Dunsanak,
Setelah sekian kali saya pulang kampung. Saya mulai bosan dengan public appereance seperti yang sudah-sudah. Kebosanan ini sengaja dibikin pedih oleh garah kudo seorang teman di lapau yang katanya saya hanya mampasamak kampuang dan mampadiah parasaan urang kampuang. Segera saya teringat ungkapan seorang teman di sebuah milis yang katanya, orang rantau minang hanya bisa membuat orang-orang minang yang ada di kampung punya hasrat ikut-ikutan merantau. Atau, mereka tak mampu membuat orang-orang berhenti merantau. Ucapan ini sangat terasa benarnya. Saat ini kampung kita benar-benar sekarat, yang hidupnya cukup lumayan tinggal kelompok pegawai negeri dan birokrat lainnya. Secara ekonomi kampung kita sudah sakit.


Dunsanak,
Saya bukanlah perantau sesukses anda, apalagi kalau indikator kesukesan berbentuk materi dan kedudukan. Saya sangatlah jauh di bawah. Tapi di balik kecilnya peran sosial dan terbatasnya materi, saya mulai mencoba bergerak nyata di kampung saya. Soal hasil, itu urusan nomor dua. Setiap kepulangan berikut, saya mencoba melakukan sesuati yang lebih nyata. Terutama untuk keluarga satu rumpun dulu. Mulailah kami berkolam ikan dan pelihara bebek. Semua tak pernah lagi melibatkan Pak Walinagari termasuk Karang Taruna juga. Duduak di lapau atau hilia mudiak keliling kampung pun sudah saya kurangi. Saya baru sadar, kepuasan terhadap achievement kita terletak pada hati nurani kita sendiri, bukan pada ekspose media apalagi penerimaan penguasa.


Wassalam

Thursday, August 2, 2007

Bilih Singkarak

Hari ini aku makan bilih. Seorang kawan lama mengantarkan ke rumah. Langsung dari Paninggahan, sebuah nagari di tepian barat danau singkarak. Setelah sebulan sebelumnya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Ia pun bercerita, kalau hendak pulang kampung. Tak lupa kuminta dititipkan bilih goreng.


Ingatanku kembali ke masa kecil di Paninggahan, dan nagari-nagari lain di tepian danau singkarak. Dua belas tahun awal kehidupan kuhabiskan disini. Dua adikku dilahirkan di Singkarak, yang bungsu lahir di Paninggahan. Aku sendiri lahir di Sulit Air. Danausingkarak begitu mempengaruhi masaku tumbuh.


Banyak kenanganku di Paninggahan. Sebagian besar daerah ini sudah aku jelajahi. Mulai dari gando di sisi timur sampai Subarang di perbatasan Malalo. Ke selatannya juga aku sudah pernah. Daerah kapalo aia dan gagauan. Kalau diteruskan kita bisa sampai ke kawasan hutan tempat Gamawan Fauzi pernah nyasar.



Salah satu yang masih kuingat adalah alahan di tepian danau singkarak. Alahan adalah tempat nelayan danau menangkap bilih. Sebenarnya alahan adalah muara banda atau sungai kecil di danau singkarak. Ikan bilih biasanya sangat senang berkumpul di muara banda ini. Mungkin karena kandungan oksigen air yang masuk lebih tinggi daripada air di tengah danau. Biasanya subuh-subuh nelayan danau menangkap ikan. Alahan ini akan mereka bendung pada subuh. Dan ikan yang sudah ada akan terperangkap. Mereka menggunakan tangguak untuk menangkapnya. Biasanya mereka memakai sejenis daun yang bisa membuat ikan lemas. Mirip-mirip proses hibernasi pada udang ketika hendak diekspor.



Aku pernah beberapa kali menemani ayah ke alahan di subuh hari. Ayah langsung ke alahan kalau hendak membeli bilih dengan jumlah besar. Minimal 3 ember. Biasanya kalau ada acara jamuan besar di kantor ayah. Pernah pula kita subuh-subuh ke alahan karena ada permintaan dari Gubernur. Beliau mau mengadakan jamuan di Padang buat pejabat-pejabat Jakarta.



Aku begitu menikmati proses penangkapan ikan di alahan ini. Bangun subuh. Naik motor dibonceng ayah. Melihat kesibukan orang di subuh hari. Memakai sebo hitam dan lampu senter. Berendam dalam air. Lalu menangguk bilih. Kemudian bilih mulai dicurahkan ke dalam ember-ember milik pedagang. Siap untuk dikirimkan ke pakan-pakan di wilayah Solok dan sekitarnya. Bau anyir tak pernah menggangguku. Yang aku lihat hanyalah kilatan putih bilih di temaramnya fajar. Sungguh, aku rindu masa-masa itu.



Lebaran 2002, saya ke Paninggahan. Ayahku ingin kesana katanya. Katanya disanalah bagian paling mengesankan dalam karir kerjanya. Ternyata selama 7 tahun diparkirkan karena dianggap anak PKI, ayah selalu merindukan Paninggahan. Mungkin ayah menganggap, hadiah naik haji yang diberikan negara banyak disumbangkan oleh periode tugasnya di Paninggahan. Jadi sebelum berangkat haji, kita berkunjung ke Paninggahan.


Tak banyak yang berubah di nagari ini. Sapaan masyarakatnya masih khas. Rumah-rumah di sepanjang jalan utama masih terlihat padat. Di Jorong Subarang kami mampir di rumah teman ayah. Rumahnya dekat dari danau. Danaunya bersih karena jauh dari rumah penduduk. Dari perkampungan ke danau, kita harus melewati persawahan lebih dulu. Disitu dulu kita sering berenang. Mencari bekas sendal jepit. Diberi layar. Berharap dibawa riak sampai ke Ombilin di seberang sana. Menyapa penumpang bus yang lagi makan di Rumah Makan Angin Berembus....



* Pernah diposting di milis RantauNet

Thursday, July 26, 2007

Alang Alang Darek

Orang eskimo punya banyak nama untuk varian salju. Orang-orang bermakan pokok beras, juga punya bermacam-macam nama bagi benda-benda yang dinamakan orang inggris hanya "rice". Orang China juga punya hal yang sama untuk makhluk berkategori bambu. Begitu juga orang minang. Bambu punya banyak varian yang berkata tunggal. Mulai dari rabuang, talang, aua, pariang dan seterusnya.

Pariang adalah sejenis bambu yang biasa yang sering dijadikan bahan dasar membuat layang-layang. Terutama alang-alang darek. Selanjutnya akan saya sebut saja layangan saja. Pariang adalah sejenis bambu berukuran sedang, berbuku panjang dan memiliki kelenturan tinggi. Sehingga, pariang sangat cocok dibuat sebagai layangan.

Di kampung saya pariang tidak banyak tumbuh, beda halnya dengan batuang yang bisa ditemui di banyak tempat. Di pekarangan belakang rumah saya sekarang saja, ada rumpun batuang. Seingat saya pariang hanya tumbuh di tiga tempat. Pertama di rumah bako saya, dipinggir sawah godang. Yang kedua di daerah sawah laweh, dan ketiga di kawasan sawah bungo. Enaknya tinggal di kampung, kita tak perlu membeli pariang perbekal layangan. Cukup meminta pada yang punya, kita sudah boleh langsung menebang pariang. Kalau pun tidak meminta, juga tidak apa-apa. Pariang sepertinya sudah menjadi milik bersama. Beda halnya dengan ubi kayu, yang secara konvensi diakui sebagai milik yang punya tanah atau yang menanam. Tapi pada prakteknya, anak muda seperti bersaing dengan babi hutan untuk menguasai ubi kayu yang ada di sebuah kebun.

Bulan Juni-Juli adalah bulan liburan sekolah. Biasanya kita menyebutnya libur panjang, pakansi panjang dan sebagainya. Di masa kecil, saya sangat menanti-nantikan masa liburan ini, karena saya pasti akan pulang kampung. Ini adalah masa yang indah, biasanya bulan ini jatuh pada musim kemarau. Padi telah selesai dipanen, pohon karet sedang berganti daun, petani libur menyadap. Sungai di kampung kami pun sedang sangat bagus-bagusnya buat dijadikan tempat mandi. Airnya tidak terlalu besar dan keruh. Jadi, sungai akan selalu ramai sepanjang hari. Mulai dari anak-anak sampai urang nan jolong gadang, bahkan para gaek yang lagi marando tagang.

Salah satu kegiatan yang cukup digemari di periode ini adalah main layangan. Ada beberapa tempat yang diminati sebagai arena bermain layangan. Yang pertama lapangan bola di tengah kampung. Lalu lapangan bola biaro dan ketiga di sawah gadang. Saya belajar membuat layangan pada Mr Buyuang Ladang, pada sebuah liburan kenaikan kelas SD di tahun 1988. Awalnya masih membuat alang-alang maco. Benang yang dipakai juga masih benang cap jaguang. Bukan benang nilon seperti yang lain. Tahun berikutnya, barulah saya diajarkan membuat alang-alang darek.

Ketika sudah SMP, saya sudah cukup lihai membuat layangan. Bersama dua orang mamak, saya mulai menjual layangan. Biasanya kami pasarkan pada anak-anak pegawai negeri di kampung kami. Mulai dari anak Pak Camat, Pak Polisi sampai anak guru-guru. Kalau anak kampung kami agak gengsi membeli layangan. Kalaupun tidak bisa, mereka cukup minta dibuatkan ke buyuang ladang. Pulangnya diberikan sebungkus Comodore atau Gudang Garam Filter.

Tahun berikutnya, kami mulai melakukan ekspansi bisnis layangan. Wilayah kampung dirasa sangat tidak cocok untuk bisnis ini. Penetrasi pasar sudah sangat tinggi, pemain juga banyak. In term of Quality, juga kami kesulitan bersaing. Kami mulai membidik pasar baru. Kali ini tidak lah tanggung-tanggung, langsung menyerbu ibukota propinsi. Cuma kami tidak menjual dalam bentuk barang jadi, yang kami bisniskan adalah bahan baku. Yaitu: Pariang! Seminggu dalam liburan, kami pergi ke Padang buat berjualan pariang. Pariang kami potong dan belah sepanjang dua ruas, seukuran bilah buat pagar. Untuk keperluan ini, kami membuat deal dengan keluarga bako saya dalam pengadaan pariang ini. Saya lupa harga per batangnya. Yang jelas, kami ketika itu menjual sebilahnya di Padang sebesar 1500 - 2000 rupiah. Seminggu di Padang, kami bisa membawa uang 2 jutaan.

Jadi, kalau dunsanak pernah tinggal di Wisma Indah III dan IV. Atau yang tinggal di komplek Jondul Rawang di era 1990 - 1995, mungkin kita pernah berbisnis. Dan kala itu, saya cukup senang berbisnis dengan anda.


Salam

UBGB
http://ubgb.blogspot.com/

Wednesday, July 11, 2007

Adat dan Estetika 2

Martin Luther pernah berselisih paham hebat dengan seorang tokoh lain penentang utama kepausan Roma. Berdasar pada teori musuh dari musuhmu adalah sekutumu, tak seharusnya mereka berselesih sebegitu hebatnya. Mereka menjadi berkelahi sebegitu hebatnya hanya karena tidak sepakat soal pengandaian roti dan anggur. Padahal semua orang tahu, roti ya roti, anggur ya anggur.

Saya tak hendak menjadi seorang Martin Luther dalam adat minang. Tak perlu nama ini terpaku dalam sejarah peradaban minangkabau ini. Saya hanya ingin menjadi paku kecil saja. Tentu sebagian kita pernah membeli secara knock down sebuah rak buku atau rak TV bermerek Olympic dan sejenisnya di toko serba ada. Ketika merangkai kembali potongan-potongan rak tersebut di rumah, kita akan berhadapan dengan sekrup dan paku-paku. Baik besar ataupun kecil. Biasanya bagian terakhir yang kita pasang dan paling gampang pula adalah triplek penutup sisi belakang. Direkatkan ke bingkai-bingkai utama dengan paku-paku kecil. Itulah mimpi saya: menjadi sebuah paku kecil di belakang itu.

Kembali soal adat dan estetika, bagi saya memang sudah begitu. Soal hormat kepada orang tua, membantu yang susah, apalagi memandang air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tak menjadi minang pun seyogyanya kita memang sudah harus begitu. Saya yakin dan percaya, masyarakat aztec atau suku inca juga punya nilai yang sama.

Tapi ini soal lain!

Ini soal ulayat, tata cara mengalokasikan tanah garapan oleh mamak kapalo kaum. Kebiasaan acara baralek, batagak pangulu atau tata cara berdukacita dan seterusnya. Apalagi hanya acara barundiang salasai makan, bajalan salapeh arak, soal tempat duduak urang sumando, induak-induak yang hanya mengurus hidangan saja. Lalu ketika keputusan sudah bulat, mamak kepala kaum berteriak ke induak-induak menyuarakan hasil keputusan. Disanalah ia menjadi estetika. Disana juga ia menjadi taplak meja dan pot bunga. Model rumah juga bisa. Kalau masih senang, silakan dipakai. Kalau tak senang lagi, cari model baru.

Thursday, June 28, 2007

Mancigok

Bagi sebagian orang, cerita ini agak sedikit ofensif


Sebagian lelaki minang yang besar di kampung, dimasa remajanya pasti punya pengalaman mengintip lawan jenisnya. Baik sengaja direncanakan atau sengaja karena ada kesempatan. Baik mengintip lawan jenis mandi atau mengintip sebeang kawan sekelas. Terutama, di masa pemandian umum masih ramai digunakan dan ketika di sekolah umum belum banyak perempuan berkerudung.

Saya punya pengalaman unik soal cigok-mancigok ini. Ketika saya tinggal di pinggiran Danau Singkarak, walaupun di rumah sudah ada kamar mandi dan sumur pompa, saya masih sering dengan kawan-kawan mandi di tepian danau. Disana disebut pasia. Sebenarnya tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah. Laki-laki berada di sisi kanan dan permpuan di sisi kiri. Dua sisi ini dipisahkan oleh sebuah surau. Cuma, yang namanya anak kecil jolong gadang, sering juga sekali-kali berenang dekat-dekat tepian perempuan. Di sinilah proses pengintipan dimulai.

Di kampung saya lain lagi, pemandian umum ada dua. Pertama adalah mata air kecil di dasar lereng, kami terbiasa menamakan sumua. Biasanya terletek di pinggir sawah. Tempat kedua adalah tapian batang sinama. Ada bermacam-macam tapian yang saya kenal, yakni tapian godang, tapian aia tajun, tapian muro dan seterusnya. Di sumua ini, biasanya sudah diperuntukkan dengan jelas antara sumuanya laki-laki dan sumuanya perempuan. Kecuali untuk beberapa sumua kecil, biasanya bergantian saja mandi disana. Kalau di tepian batang aia, pemisahan tempat mandi laki dan perempuan tidak begitu jelas. Kalaupun ada, pandangan antar tepian ini tidak begitu tersangkut. Kita masih bisa melihat, siapa saja yang mandi di tepian perempuan.

Di kampung, yang mandi telanjang bulat hanyalah anak-anak kecil. Paling besar mungkin kelas 3 SD. Usia rata-rata orang kampung disunat. Yang lain mandi menggunakan kain basahan. Kalau laki-laki menggunakan celana pendek. Beberapa orang, ada juga yangg menggunakan celana kolor segitiga. Biasanya bermerk Hings atau Swan. Perempuan menggunakan kain basahan berupa sarung, yang disarungkan di bagian atas dada. Walaupun tertutup sopan, tentu saja masih menyisakan sedikit ”sebeang” objek intipan laki-laki kecil jolong gadang atau para gaek-gaek gata. Sebeang-sebeang ini ditambah juga oleh aliran sungai dan gerak si perempuan mandi. Beberapa ada juga yang menggunakan langsung daster/baju lalok untuk mandi di sungai.

Mengintip yang mandi di sungai jauh lebih mudah. Cukup pura-pura berenang ke tengah, bermaksud mencari arus air yang cukup bersih. Lalu mulailah mencuri-curi pandang ke tepian mandi perempuan untuk melihat sebeang. Beberapa orang memang ada yang sengaja mengintip dari balik semak. Biasanya dilakukan oleh laki-laki marando lamo atau gaek-gaek gata. Saya dan kawan-kawan tak pernah melakukan metode pengintipan seperti ini. Amit-amit...

Ini cerita nyata lain lagi. Kejadiannya ketika saya kelas 3 SMP dan sudah mimpi basah pula. Saya sedang libur panjang di kampung. Suatu siang, saya dan kawan-kawan merencanakan mencari pauah. Mencari pauah ini adalah cerita menarik juga, nanti akan saya ceritakan suatu saat. Kembali ke topik. Kali itu, kami berniat mencari puah di sebuah tempat bernama ujuang tanjuang. Untuk ke sana, harus melewati persawahan bernama sawah ilia. Di tengah perjalanan, kami melihat seorang perempuan muda sedang berjalan sendiri menuju sebuah dangau sawah. Let’s say namanya Dewi. Kawan saya berbisik, itu si Dewi sedang mau pacaran tuh, tunggu sebentar lagi akan lewat pacarnya Dewa (nama palsu juga). Lalu kami bersembunyi di balik semak kebun kopi yang tak terurus.

Ternyata benar, sekitar lima belas menit berselang sang arjuna Dewa terlihat berjalan sendiri menuju tempat yang sama dengan Dewi. Kami menunggu beberapa saat sambil menyusun rencana pengintipan. Lima belas menit setelah Dewa, kami pun bergerak menuju tempat yang sama. Mulailah kami bergerak pelan, tanpa menimbulkan derak bunyi apa pun. Mulai merapat ke dinding dangau sawah. Dan memang, Dewa dan Dewi melakukan sebuah pekerjaan purba yang seharusnya disakralkan. Kami mengikuti adegan ini selama 5 menitan. Takut ketahuan, kami pun segara kabur meninggalkan dangau ini. Melanjutkan mencari pauh, sambil terus membicarakan adegan 5 menit tadi. Jujur, waktu itu terangsang juga...;)