Thursday, October 9, 2008

Refleksi Seorang Pemudik

Alhamdulillah, perjalanan mudik yang saya lakukan berjalan dengan lancar, selamat pulang pergi. Secara total, perjalanan mudik menempuh angka lima ribu kilometer. Semua mencakup perjalanan pulang pergi dan mondar-mandir selama di kampung. Semua dilakukan atas nama sebuah kegiatan pulang kampung alias mudik di hari yang suci ini. Silakan pro dan kontra dengan hajatan ini. Sampai hari ini, bagi saya mudik lebaran masih merupakan sebuah "exciting moment". Sebuah pengalaman indah, berkumpul dengan kedua orang tua, adik-kakak dan seluruh sanak keluarga lainnya. Terlebih lagi, keluarga besar masih banyak yang tinggal di kampung. Perantau masih berhitung jari.


Walaupun saya berbakat untuk komplain atau bahkan mungkin bernama tengah "protes", untuk urusan mudik sulit bagi saya untuk melakukan protes kepada pemerintah, terutama berkaitan dengan infrastruktur. Asumsi dasar pembangunan infrastruktur bukanlah pada kondisi hondoh poroh saat mudik. Asumsi yang dipakai adalah sebuah kondisi mobilitas normal. Untuk kondisi normal saja mereka sudah acak-acakan, konon kok pula ketika mudik. Untuk alasan ini, saya bisa menerima berantri naik ferri selama 4 jam mobil terparkir di Merak. Justru saya menyesalkan keberadaan negara ini untuk melayani masyarakat hanya terlihat ketika mudik tiba. Seolah mereka bekerja sepenuh hati hanya ketika mudik. Polisi-polisi terlihat semangat berpatroli dengan pos-pos yang tersebar dimana-mana. Mereka gesit mengatur lalu lintas. Petugas SAR dan paramedik bersiaga penuh. Kendaraan laut, darat dan udara bersedia siaga penuh selama kurun mudik. Pak Camat, lurah dan seterusnya juga tidak boleh meninggalkan wilayah kerja dan harus tetap terus berkoordinasi. Jalan-jalan segera diaspal licin, lampu jalan di tambah, alat-alat berat stand by di lokasi rawan longsor. Padahal semestinya, tanpa kurun mudik pun mereka memang sudah bekerja dengan semangat yang sama. Memang sudah kewajiban mereka seperti itu. "Minimum requirement" orang-orang yang saya sebutkan di atas memang seperti itu. Kurun lebaran atau tidak.


Setiba di kampung halaman, setiap moment silaturahim memang saya nikmati. Jauh di lubuk hati, saya sudah bertekad untuk menghindari kesan pamer untuk setiap kepulangan mudik. Appearance berbentuk penyumbangan atau ota-ota untuk memajukan kampung tidak akan saya lakukan lagi. Saya pulang murni untuk bersilaturahmi. Kalaupun ada halal bi halal kaum dan nagari, saya hadiri memang untuk bersilaturahmi. Saya tidak mau menyumbang di acara itu, walaupun pembawa acara dan peminta sumbangan terus berteriak. Saya hanya jawab nanti lah. Berpendapat sok tau dan menggurui pun tidak dilakukan. Banyak diam dan mendengar saja. Kalaupun nanti saya dianggap sampilik dan sombong, saya sudah tidak peduli. Saya pulang hanya untuk bersilaturahmi. Soal sumbangan kepada kampung, ada cara dan jalan yang lain.

Maunya saya, masyarakat di kampung menanggapi sekadar saja terhadap para pemudik atau para perantau pulang basamo. Tak perlu lah tebaran spanduk mengucapkan selamat datang. Tak ada decak kagum berlebihan lagi. Kalaupun mereka pulang, salami saja lah dengan sebuah salaman dek alah lamo indak basuo. Tak perlu lagi drum-drum bekas di tengah labuah lengkap dengan orang membawa tangguak meminta kerilaan perantau untuk membangun masjid atau turnamen bolakaki.

Maunya saya lagi, perantau pemudik tak lagi berebut membeli singgang ayam ketika pulang. Tak perlu juga bertingkah-meningkah dalam menyebutkan jumlah sumbangan untuk surau dan masjid. Cerita sok tau berupa seolah brief untuk kemajuan kampung perlu kita kurangi. Kita pulang untuk bersilaturahim dan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai di kampung halaman. Memaksakan diri untuk terlihat bergaya di kampung halaman mudah-mudahan tidak lagi kita lakukan. Kita pulang apa adanya saja.

Di kampung, saya lihat kehidupan berjalan seperti nan taralah. Menjadi Pegawai Negeri Sipil masih terlihat sebagai jalan keluar utama penyambung hidup. Bagi sebagian orang berharap dengan menjadi anggota legislatif. Spanduk dan baliho berisi lambang partai, foto diri dan ucapan selamat idul fitri bertebaran di seluruh pelosok kampung. Sebagian masih berharap dari rasaki harimau, berharap menemukan emas di sepanjang sungai. Sebagian apak dan mamak kita, masih gadang ota dan sok tau. Sebagian lagi masih setia bertani di sawah, menggembalakan ternak dan berladang. Sebagian anak muda masih rajin ke sekolah, surau dan masjid. Sebagian muda lagi, rambutnya sudah diwarnai. Kampung kita masih mengalir dan bergerak. Kampung juga sebuah kedimanisan. Tapian tampek mandi sudah di setiap sudut kamar tidur.

Bagi saya, mudik tetaplah sebuah keindahan dan momen berharga. Selamat menjadi pemudik. Insya Allah, lebaran tahun depan saya akan mudik lagi.

Thursday, August 21, 2008

Rindu Kejutan F1

Menyaksikan pertunjukan F1 adalah menyaksikan sebuah pertarungan para pemilik modal dan penganut utama mahzab glamoritas. Lihatlah uang dibelanjakan dan gaya hidup para pelakunya. Mulai dari para eksekutif team, pembalab, teknisi, mekanik dan sampai pada sebagian besar penikmat setia tontonan ini. Semua terlihat wah untuk ukuran rata-rata penduduk dunia. Sulit bagi kita untuk membayangkan tontonan bareng F1 dilakukan di lapangan bulutangkis sebuah RT di tengah-tengah perkampungan Jakarta. Sebenarnya tidak ada yang salah. Alasan terkuat bagi para sponsor untuk mensponsori sebuah team atau tontonan F1 adalah eksklusifitas itu sendiri. Kemewahan dan premiumness adalah magnet utamanya. Ia meninggalkan konsep dasar efisiensi sebuah brand exposure. Apa yang biasanya disebut sebagai biaya per kontak.

Saat ini kemewahan F1 menjadi seperti lepas kendali. Ruang untuk ”team sekadar” menjadi tidak ada. Pertunjukkan F1 semakin melambung ke atas. Tempat yang tersedia hanyalah bagi pemodal-pemodal besar. Musim 2008 belum berakhir, sebuah team sudah menarik diri dari pertempuran. Alasan finansial membuat Team Super Aguri colong playu. Mundur dari gelanggang, karena isi kantong yang sudah kosong.

Bermacam aturan telah dicoba untuk mengerem agresifitas team-team besar. Namun hasilnya belum lah signifikan untuk mampu membuat jarak antar team menjadi dekat. Sebelum race dimulai, kita sudah bisa menebak team-team yang akan muncul di podium. Bahkan lebih jauh lagi, sebelum sebuah session dimulai. Akibatnya unsur kejutan sebagai sebuah daya tarik pertunjukkan menjadi sangat minim di F1. Ada kecenderungan Formula One Race bergerak ke arah kemonotonan. Walaupun di luar sirkuit, kita masih mendengarkan kejutan-kejutan dari persaingan antar team. Tapi secara teknis, kondisi monoton memang sudah di depan mata.

Sudah saatnya F1 memuaskan keiniginan penikmat layar kaca. Yang selalu berharap dengan kejutan-kejutan di setiap balapan. Biar taruhan-taruhan kecil bisa dilakukan, sebagai sebuah pelengkap menikmati sebuah tontonan. Perlu aturan-aturan dahsyat sebagai pengerem agresifitas team-team kaya. Atau, mungkin para team besar ini membutuhkan pendekatan lain. Sebuah sentuhan hati nurani, misalnya. Yang jelas, salib-menyalib di tengah race semakin sering disaksikan. Agar kami tak cepat bosan lalu beralih ke tempat lain. Ingat, kami punya sebuah alat bernama Remote Control!

Friday, May 23, 2008

Menjadi Biasa......

Merenung diri menemukan cara pandang baru terhadap Indonesia adalah hal yang ingin sering saya lakukan saat ini. Objektif perenungan ini adalah sebuah hal yang sederhana. Yakni menemukan cara memandang Indonesia secara netral. Sudah terlalu sering saya merasakan naik turunnya suasana bathin ketika nama Indonesia disebut. Kadang saya begitu mencintainya, membencinya, terkadang meringis atau malah sangat skeptis. Kali ini berharap untuk netral-netral saja. Seperti halnya ketika saya membaca headline berita olah raga yang membahas liga Jerman. Tak ada perubahan perasaan saya membaca hasil-hasil pertandingan. Terserah siapa yang menang dan kalah. Klub mana yang juara atau terdegradasi ke liga dibawahnya.

Berharap tak lama dari saat ini, saya menjadi biasa saja mendengar Malaysia mematenkan motif batik dayak dan pekalongan. Kalaupun saya meringis tentang TKI yang diperkosa majikannya, kadar ringisan saya sama dengan berita tenaga kerja Zimbabwe yang mengalami penderitaan sama. Sebuah simpati sebagai sesama anak manusia. Bukan ringisan yang terlontar karena ketidakrelaan terhadap perlakuan yang diterima seorang anak bangsa. Maunya ketika Olimpiade tiba, terhadap perolehan medali Indonesia sama dengan komentar saya terhadap perolehan medali Fiji atau Pasifik Samoa. Tak ada lagi rasa gemas dan nelangsa, ketika melihat Tim Bulutangkis kita gagal meraih Piala Thomas. Tak lagi mencak-mencak ketika Bambang Pamungkas gagal menyarangkan bola ke gawang lawan. Juga diam saja ketika melihat Markus Horizon berkali-kali memungut bola dari gawangnya. Sebuah diam tanpa emosi tentunya.

Sungguh. Inginnya ketika berada di Orchard Road melihat para pelancong Indonesia menenteng tas belanja di kiri dan di kanannya, saya menjadi biasa. Tanpa ada umpatan dalam hati, mereka telah mengeringkan ekonomi dalam negeri demi memajukan negeri red dot-nya Habibie. Kembali saya berharap, saya tak lagi ngedumel melihat pungli RT, Lurah, Camat dan seterusnya. Tak peduli lagi pada realita pegawai golongan IVB -bergaji pokok dan tunjangan resmi sekitar tiga setengah juta- bisa membelikan ketiga anaknya Honda Jazz. Atau tetangga saya yang seorang jaksa, yang mampu punya 3 mobil dengan kapasitas mesin diatas 3000 cc semuanya.

Saudara-saudara. Mohon doakan saya bisa menjadi biasa saja dengan itu semua.

Wednesday, May 7, 2008

Manjadi Gubernur

Gara-gara mencalonkan kawan saya Benni menjadi Gubernur Sumatera Barat, saya menjadi mimpi tadi malam. Mimpinya benni menolak menjadi calon gubernur dan sepenuhnya mendukung saya maju. Dan tiba-tiba saya sudah menjadi gubernur saha, siapa lawan saya dalam pemilihan dan berapa persentase kemenangan saya tidak terpapar jelas dalam mimpi itu. Proses pelantikannya juga tidak ada.

Satu point yang saya catat mengikuti cerita Goethe, bahwa ternyata jauh di alam bawah sadar saya menginginkan menjadi pejabat publik atau pemimpin komunitas. Padahal prestasi besar saya dalam mengurus orang hanyalah menjadi ketua kelas waktu SMA dan ketua seksi transportasi panitia outing kantor. Kalau mengikuti ramalan seorang saudara jauh, ini adalah sebuah tanda bahwa saya memang akan ditakdirkan menjadi seorang kapalo rombongan. Ia dulu pernah menyatakan saya nanti akan menjadi serikat buruh atau pengurus YLKI. Alhamdulillah sampai sekarang, belum kesampaian ramalan saudara jauh saya ini. Sampai saat ini, saya masih menjadi kacung kampret. Walaupun di kantor dibilangin kacung kampret yang tengil. Karena dari satu rombongan, hanya saya yang bisa membawa barang duty free negara lain ke dalam pesawat tujuan Jakarta ketika transit di Changi. Sementara dalam rombongan sayalah kacung paling terkacung. Saya bisa karena saya masuk boarding room paling terakhir, ketika berantem soal barang duty free saya langsung menanyakan siapa yang in charge untuk urusan ini.

Kembali ke soal mimpi tadi. Saya tiba-tiba terbangun dan mendapatkan semuanya hanya mimpi. Mandi berberes dan saya langsung berangkat kantor. Selama perjalanan ke kantor, di tengah kemacetan saya melamun dan bermenung tentang menjadi gubernur. Dalam lamunan ini saya mulai berandai-andai soal program saya menjadi gubernur. Pertama kali yang saya lakukan setelah dilantik mendagri adalah berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan tentunya untuk menjadi muslim yang benar. Terutama shalat saya. Saya berjanji akan mendirikan shalat sesuai perintahnya sebanyak lima kali sehari dan selalu di awal waktu. Bersamaan dengan itu, saya akan melakukan review perda syariah terutama yang berkaitan dengan jilbab. Saya akan mengusahakan perda jilbab tidak ada lagi. MTQ akan saya review siklus penyelenggaraannya menjadi siklus lima tahunan saja. Urusan spiritual dan keagamaan akan dikembalikan kepada masing-masing pribadi.

Setelah itu saya akan mengumpulkan teman-teman kecil saya dulu. Mulai dari Tanjung Balik, Singkarak, Paninggahan, Sawahlunto. Akan saya katakan kepada mereka, bahwa saat ini teman anda menjadi gubernur. Tolong beri saya masukan tentang apa permasalahan kalian saat ini dan menurut kalian apa jalan keluarnya. Masukan mereka akan saya jadikan brief dasar program kerja kegubernuran.

Selepas itu pemasok brief akan saya minta kepada para ibu-ibu yang sedang bekerja di sawah. Caranya tidak akan pernah lewat kelompok tani binaan pemda. Langsung saya berhentikan mobil di tempat ibu-ibu yang sedang menanam padi, tanpa memakai atribut gubernur saya mencoba mencari tahu keluhan dan harapan mereka. Caranya tentu tidak "ujug-ujug" bertanya seperti itu. Saya akan berpura-pura menjadi orang yang akan membeli tanah di daerah itu, untuk mendirikan penggilingan padi.

Pemasok brief berikutnya adalah dari para dosen perguruan tinggi di Padang. Dosen yang saya tanyakan adalah dosen yang masih menggunakan kijang tahun 84 atau sepeda motor bebek untuk berulang ke kampus. Bukan dosen yang manjadi ketua jurusan, pimpinan fakultas/universitas juga bukan dosen yang sudah menggunakan mobil ke kampus. Caranya? Gampang, saya tanyakan kepada adik dan sepupu saya, siapa dosennya yang paling kere dan miskin. Saya temui. Pendapat mereka akan saya rekap untuk saya jadikan brief.

Bagaimana dengan perantau? Sudah tentu saya jadikan sumber masukan. Tapi mohon maaf, bukan perantau yang bergabung dengan Gebu Minang, FSSM atau ikatan keluarga level kabupaten. Yang akan saya dengarkan dan kumpulkan pendapatnya adalah perantau yang baru turun di terminal rawamangun, pengusaha sogo jongkok, rumah makan padang 4 meja dan para penjual DVD. Lalu saya coba menghubungi para dosen asal minang, yang kalau pulang kampung hanya bertemu sanak saudara belaka. Saya bertanya, lalu mereka menjawab, dan saya kumpulkan menjadi semacam brief resmi.

Terakhir dan memang kurang begitu penting. Temuan Bappeda, Anggota DPRD dan institusi resmi lainnya. Ini hanya sekadar syarat saja. Mereka saya iyakan, tapi yang lalu yang saya punya.

Thursday, April 3, 2008

Melawat Jiran

Bulan maret ini saya harus dua kali membayar fiskal kepada negara. Kedua-duanya karena melawat ke negara jiran, dima visa sudah tidak diperlukan lagi. Kunjungan ke negara pertama adalah sebuah tugas kantor, yang mau tak mau harus dipenuhi. Lagian saya memang cukup lama juga tidak menyambangi. Sekali-kali kita memang perlu juga meyambangi "red dot-nya habibie" ini. Mentune-up jiwa kita akan sebuah kerapihan dan sebuah keseriusan pemerintahan. Tapi jangan lama-lama tinggal disana. Sensitivitas humanistik kita bisa menurun. Bisa jadi akan bermuara pada sebuah kekakuan dan kegaringan.

Belanja di Singapura adalah pilihan terakhir aktifitas saya selama di sana. Tak perlu lagi biasanya kita membahas bagaimana pola dan tingkah laku kebanyakan orang Indonesia dalam berbelanja di sana. Apalagi di musim, sale-salean tiba. Sudah banyak yang membahas dan mengomentari itu. Dan sialnya, saya pernah menjadi bagian dari team provokator orang-orang Indonesia agar menggila dalam berbelanja. Di perjalanan kemarin itu, saya hanya membeli sekantung coklat, sebuah tas untuk orang tersayang dan beberapa buku cerita.

Negeri "red dot" ini masih seperti biasa saya lihat. On weekdays, penduduk asli terlihat sibuk mondar-mandir di pagi dan sore hari. Di akhir pekan, negara kota ini sudah dipenuhi oleh pelancong belanja-yang kebanyakan dari Indonesia. Atau para tenaga kerja asing, yang sedang pesiar sekadar cuci mata atau mencari tambatan hati. Jadi ingat pada sebuah penggalan masa, ketika menjadi tenaga kerja asing disana. Ketika memamerkan tempat gedung kantor, flat dan jenis pekerjaan adalah sebuah kebanggaan tersendiri kepada mbak-mbak di Lucky Plaza. Menikmati keterperangahan mereka tentang betapa beruntungya si Sijunjung norak ini. Tapi ya sudahlah, itu hanyalah masa lalu dari cerita jiwa yang masih sangat muda.

Dua minggu berlepas, jiran lain saya jelang. Sebuah jiran yang saya benci dan juga saya bangga. Saya banggakan mereka karena bisa membuktikan orang melayu juga bisa maju dan diatur. Walaupun selentingan saya dengar, melayu-melayu asli sana semakin malas dan manja saja. Saya membenci karena kok mereka bisa maju, sementara guru saja mereka pernah mengimpor dari kita. Kok bisa ya, orang yang sama-sama suka Kangen Band, Matta, Ungu, Radja dst bisa lebih maju daripada kita. Kalau soal mereka menyolong-nyolong budaya kita mah, saya tidak peduli. Kita aja yang bego. Tak bisa memanfaatkannya.

Perlawatan ke KL adalah sebuah kegiatan iseng-iseng berhadiah. Bahasa Sijunjungnya, side job atau mencari other income. Mumpung di Indonesia sedang libur panjang, lalu di Malaysia ada perhelatan balap bernama Formula Satu. Seperti standarnya orang-orang kaya (juga setengah kaya) Indonesia, tentu mereka ingin sekali menyaksikan balapan ini. Tak peduli mereka tahu apa itu F1, siapa itu Kimi, Force India dan sebagainya. Kalau Hamilton ya semua mungkin tahu, orang kulit hitam pertama yang membalap di F1. Tapi itu tidak menjadi penting. Yang penting presence. Foto sana foto sini di circuit. Beli merchandise (dengan mengomel tentunya karena mahal). Semua sudah cukup. Yang penting, ketika orang ngoceh tentang Sepang. Kita ngoceh juga.

Berawal dari ajakan seorang kawan agar saya menemani menjadi salah satu kru yang mengurus perjalanan mereka. Saya pun mengiyakan. Lumayanlah, dapat uang saku dan jalan-jalan ke luar negeri pula. Akhirnya berangkat lah saya. Sekitar tiga hari saya mendampingi mereka. Menjadi orang yang sok tahu, mencoba memahami keinginan presence-presence mereka.


Foto disana, foto disini. Ceritanya antar belanja. Sedikit belanja banyak fotonya. Tapi tak apalah, yang penting semuanya bahagia. Everybody happy! Malaysia happy, ekonominya bertumbuh. Indonesia senang, dapat fiskal sejuta per kepala. Ditambah alasan PR (Public Realtion-pen) pemerintah, bahwa ekonomi kita juga tumbuh. Buktinya jumlah kunjungan ke luar negeri meningkat. Siapa bilang pemerintah tak bekerja. Saya juga dapat uang saku. Bisnis kawan saya tetap bisa berjalan. Walaupun seorang kawan mengatakan saya sedikit mengeringkan perekonomian Indonesia, uang malah dibawa keluar. Coba biaya orang ke Sepang diconvert jadi cendol dan martabak, berapa tukang martabak dan cendol yang akan kaya. Ia benar. Tapi saya sudah ilfil ama negara ini.

Thursday, February 7, 2008

Manampiak dan Manukiak

Bagi yang sering bermain layangan di kala kecil, kedua kata ini bukanlah istilah asing. Kata yang menjadi judul postingan ini adalah istilah umum orang minang dalam permainan layangan. Keduanya memiliki hasil akhir sama, yakni layangan gagal terbang setelah untuk beberapa saat pernah mengangkasa di udara. Walaupun begitu, proses untuak kedua kata ini sangat bertolak belakang dalam memanfaatkan angin dan melakukan proses tarik ulur.

Manampiak adalah posisi layangan kehilangan daya angkat, akibat terlalu banyak mengulur. Biasanya terjadi ketika pemain layangan over confidence dengan arah angin dan laju perubahan ketinggian yang cukup berpihak. Ketika ini terjadi, layangan menjauh. Benang terus terulur, tapi ia menjadi lebih rendah. Dan pada akhirnya menyentuh tanah.

Manukiak adalah proses sebaliknya. Terlalu semangat menarik. Arah dan kecepatan angin kurang dipertimbangkan. Terlalu percaya diri dengan perubahan ketinggian vertikal yang terjadi. Mungkin dalam hati, berharap segara tagak tali. Sayang yang terjadi, layangan bergerak dengan kecepatan tinggi. Namun bukan ke atas, ia kembali bergerak ke bawah. Mencium tanah nun jauh di ujung kampung.

Manukiak dan manampiak adalah sebuah kegagalan. Walaupun begitu, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari keduanya. Pelajaran tentang kekurangcermatan membaca arah angin, kurang terlatih menarik-ulur. Yang satu terlalu asyik menarik. Satu lagi terlalu asik mengulur. Sayang layangan tak jadi menjulang tinggi di angkasa, ia kembali menyium tanah. Benang tak tergulung dan layangan tak pasti akan kembali ke tangan si empunya. Mungkin ia sudah beralih ke tangan pengejar layangan putus.

Proses berhukum formal mengacu ABS SBK di tanah minang, adalah sebuah cerminan proses menaikkan layangan. Rasanya dari masa 18-an kita sudah membicarakan ini. Masing-masing kubu sudah mencoba bertarik ulur dan membaca angin. Situasinya mungkin terlalu banyak menarik, sehingga ia manukiak. Atau terlalu asyik mengulur, dan ia pun menampik. Yang namanya layangan tak pernah juga naik ke atas. Mengangkasa dan menyapa kita-kita yang ada di bawah.

Di masa kekinian, kembali ada yang bermain layangan ini. Sayang sungguh sayang, baru sebatas "maanjuang". Mungkin ia tak akan pernah sampai pada sebuah proses tarik ulur. Baru maanjuang saja, benang sudah kusut. Atau angin berubah arah pula. Teman yang diharapkan membantu membawa layangan ke ujung padang, berganyi pula. Ia pun sepertinya hendak menaikkan layangannya sendiri.


* Di beberapa tempat di minangkabau, manampiak sering juga dilafalkan manapiak, atau malapiak.

Thursday, December 6, 2007

Menghadiri Acara HASS

Jumat malam saya ke PTIK. Karena dekat kantor, saya sempatkan kesana. Sekaligus menghilangkan penasaran terhadap organisasi kedaerahan seperti ini. Disana saya bertemu dengan beberapa orang yang pernah saya temui di beberapa rapat MAPPAS dan MPKAS.

Sebelum berangkat saya punya gambaran awal tentang acara ini, yang hanya akan berisi kumpulan sambutan-sambutan para tetua. Lalu cerita tentang keberhasilan dan ditutup dengan harapan untuk memajukan minangkabau. Tanah minangkabau dan orangnya. Dan memang, gambaran awal saya ini terbukti. Menambah rasa pesimis saya dengan kegiatan-kegiatan seperti ini.

Acara dipandu oleh seorang laki-laki cukup berumur. Dan kenapa harus dia? Memangnya tidak ada orang muda yang mampu buat menjadi pembawa acara. Lalu rangkaian pidato seperti biasa. Ini juga masih tokoh-tokoh yang sama. Yang seharusnya sudah tidak berada di depan lagi breteriak-teriak. Cukuplah menjadi seorang tempat bertanya ketika akan pergi dan berberita ketika sudah pulang. Apakah yang muda tak ada yang berani muncul, ataukah para tetua tetap menjadi seorang banci tampil?

Di acara ini saya mencoba membuat sebuah analisa (yang sangat dini tentunya) tentang orang-orang yang hadir. Dan ketika itu pula saya ingat ucapan seorang guru saya, tentang sebuah komunitas. Katanya, dalam sebuah komunitas apapun bentuknya. Jumlah anggotanya yang aktif, maksimal adalah akar kuadrat dari komunitas tersebut. Jika ada 100 orang, yang akan aktif maksimal hanyalah 10 orang. Saya coba menguji hipotesa guru saya ini terhadap organisasi HASS. Lalu Gebu Minang, SSM dan seterusnya. Irisan atau overlap anggotanya sangatlah besar. Universe HASS, Gebu Minang dan SSM rasanya itu-itu juga. Berlaku juga untuk anggota yang aktif sebagai akar kuadrat komunitas ini.

Artinya. Penggiatnya organisasi minang ini adalah L4. Loe Lagi Loe Lagi.

Nah, maka dari itu. Kenapa organisasi minang tidak kita jadikan satu saja. Toh program-programnya itu-itu juga, apalagi penggiatnya. Parat tetua yang akan memberikan pidato juga masih orang-orang yang sama. Biar efisien dan efektif saja tentunya.



Note:
HASS: Himpunan Alumni SMA Se-Sumbar
MPKAS: masyarakat Pencinta Kereta Api Sumbar
MAPPAS: Masyarakat Peduli Pariwisat Sumbar

Saturday, October 27, 2007

Istanbul, Sebuah Timur di Barat...2

Bonaparte pernah berujar, jikalau dunia ini adalah sebuah negara tunggal, Istanbul adalah ibukotanya. Mungkin ucapan ini terlontar karena keindahan kota Istanbul, atau bisa jadi karena posisi geografis Istanbul yang memang cukup ideal sebagai sebuah ibukota di masa itu. Apalagi dikaitkan dengan adanya benteng alami bernama selat bosphorous dan golden horn, yang membuat perlindungan kota lebih gampang. Di masa, dimana peperangan memang lumrah terjadi kapan saja.



Bagiku, kedua alasan ini masuk akal. Istanbul memang indah dan strategis. Selama 5 hari di kota ini, aku menyempatkan diri mengenal keindahan fisik dan eksotisme budayanya.

Satu hal yang menggelitik selama berada disana adalah soal pemerintahannya. Baik di masa lalu, setengah lalu, setengah kini dan saat ini. Bagiku Istanbul (baca Turki) sungguh sangat unik dan membuat ingin tahu. Perbincanganku dengan kawan-kawan penduduk asli memperkaya pemahamanku jauh di luar informasi yang aku dapat selama ini tentang Turki. Kebanyakan yang kukenal disana, adalah pendukung sekularisme. Sedikit saja yang masih berbau puritan.



Aku selalu memancing dengan pertanyaan kenapa Partai Islam yang menang di tengah prinsip dasar sekluarisme negara anda. Aku berada disana ketika belum ada kepastian pelantikan Abullah Gul sebagai Presiden. Jawaban mereka sungguh beragam, sesuai dengann latar belakang pandangan mereka terhadap sekularisme. Sebagian besar menjawab, masyarakat memilih Erdogan (dan partainya) lebih karena bukti kinerjanya ketika memerintah Istanbul. Seorang kawan malah mengatakan, karena keberhasilan Erdogan membersihkan Golden Horn (teluk Istabul) ketika menjadi walikota. Sehingga sekarang ia jadi bisa memancing dari pinggir jembatan, tak seperti dulu airnya sangat hitam dan pekat.



Satu orang yang menjawab karena, masyarakat Turki rindu akan sebuah sistem pemerintahan Islam masa Ottoman. Satu orang inilah yang menemaniku di masjid biru, ketika aku bilang hendak mencoba Shalat Ashar di mesjid tersebut. Sementara yang kawan-kawan yang lain menunggu di sebuah cafe sambil meminum bir khas turki ”efes”. Sebuah minuman, yang aku juga suka.



Note: Ketika Transit dalam perjalanan pulang, terdengar berita kalau Abullah Gul telah dilantik sebagai Presiden Turki.

Tuesday, October 23, 2007

Baru Sebatas Barandai

Lupakanlah harapan untuk orang minang perantauan bisa bekerjasama dan melakukan sebuah kerja besar. Apalagi bermimpi untuk menjadi sebuah gerakan kesukuan besar seperti orang Israel dan China lakukan. Jangan pernah kawan-kawan.

Rasanya kita cocoknya memang sekadar berkumpul bersama, merencanakan dan melaksanakan pertunjukkan randai, saluang, domino barabab dan sebagainya. Lebih dari itu. Susah rasanya. Lihatlah contoh ka nan sudah dan tuah ka nan manang. Usulan mangumpuakan pitih seribu yang dilontarkan Soeharto di tahun 80an, tak pernah berkembang dengan baik. Cuma begitu-begitu aja. Tak sepenuhnya salah, ada orang yang beranggapan organisasi ini hanya jadi alat mempopulerkan pengurusnya, atau mempertahan posisi publik pengurusnya.

Menurut kawan saya, sesama minang kita tidak punya lagi yang namanya trust. Katanya lagi, bisa jadi karena orang yang selama ini diberikan kepercayaan, tak pernah sungguh menjalankannya. Pragmatis belaka. Katanya juga, tak heran sebuah organisasi pengumpul dana abadi sosial, performancenya tak lebih bagus dari sebuah panitia pembangunan mesjid. Padahal organisasi ini dipayungi oleh orang nomor satu di ranah dan rantau. Pelaksananya juga banyak bergelar profesor, dan sebagian besar pengurusnya adalah orang yang berkategori well educated.

Sekali lagi, ini menurut kawan saya. Dan, saya lagi menimbang-nimbang komentar kawan saya ini. Hmmm.... rasanya kawan saya ini ada benarnya.

Salam

Tuesday, October 9, 2007

Bengkulu

I.
dulu.
bengkulu adalah wilayah administrasi Inggris
singapura administrasi Belanda
lalu keduanya dipertukarkan
begitulah di zaman dulu
orang Eropa mengkapling-kapling dunia
seperti kita membelah-belah lepis legit


.......................
mari kita hening sejenak
berpikir dengan hati dan logika
apa yang terjadi seandainya pertukaran itu tak pernah ada...
apakah singapura akan tetap maju seperti sekarang
jikalau hanya menjadi sebuah kota kabupaten di bawah propinsi kepulauan riau
kalau bernasib baik menjadi sebuah propinsi
apakah bengkulu semaju singapura sekarang
menjadi sebuah negara merdeka dan modern
bersih, teratur dan kaya pula


II.
dari sebuah notulen rapat BPUPKI
sekelompok orang pernah mewacanakan
semenanjung melayu dan british borneo
menjadi wilayah negara baru janjian jepang ini kelak
kelompok lain menjawab tak perlu
cukup wilayah administrasi hindia belanda saja
lalu katanya pula, ada permintaan dari saudara-saudara kita
di Sabah dan tanah Malaka
kalau memang tidak bisa menjadi wilayah negara godokan BPUPKI ini
tolong dikirimkan saja pemimpin-pemimpin dari Batavia di tanah Jawa
sampai orang melayu bisa memimpin pula
bayangkan kalau ini sampai terjadi..



III
Hittler adalah penjahatnya
memulai perang dunia II
dan kalah pula
semua menjadi berubah karenanya
negara-negara baru muncul hanya berdasar wilayah jajahan siapa
bukan karena "nation" usalinya
akibatnya terlahir negara bernama Indonesia


IV.
mari berandai perang dunia II tak pernah ada
......................................
di tahun 20-an
administrasi hindia belanda sudah benar rasanya
dari sekian ribu tentara KNIL, isinya sudah inlander hampir semuanya
pribumi sekolah semakin banyak jumlahnya
contoh lagi
bengkel kereta api untuk sumatera dibangun di Lahat
padahal jalurnya baru ada sampai linggau saja
baru ada lagi di Logas
belanda punya rencana
sumatera akan dihubungkan rel kereta api semuanya
lahat konon berada di tengah-tengah
saya bukan hendak beromantika
kalau Mega lebih bagus daripada SBY
Gusdur lebih hebat daripada Mega
Habibie jagoan dibanding Gus Dur
Soeharto lebih top daripada Habibie
Soekarno lebih bagus dibanding semuanya
Jepang, Belanda dan seterusnya

bukan..
sekali lagi bukan
saya hanya bermaksud membangunkan kita semua
tertutama diri saya sendiri

Yeltsin

Dunia Dalam Berita

1989.
Gorbachev, Ivan Lendl, van Basten, Tepi Barat Jalur Gaza, Najibullah Mujahiddin, tembok berlin diruntuhkan.

1990.
Gorbachev Yeltsin, Ivan Lendl, van Basten, Tepi Barat Jalur Gaza, Najibullah Mujahiddin.

2007.
Yeltsin meninggal



::::::::::::::::::::

Samar kumengerti waktu itu. Baru kelas VI SD. Uni Soviet bisa bubar. Tak banyak lagi berita laporan kegiatan Gorbachev. Yang sering terlihat hanyalah Yeltsin. Badan besar dan muka kaku. Beda dengan Gorbachev (kemudian aku tahu dia popular dipanggil Gorby) yang mukanya simpatik dengan bahasa tubuh menyenangkan.


:::::::::::::::::::
Yeltsin adalah orangnya. Sadar akan kemajemukan dan persatuan semu Uni Soviet. Padahal dia berasal dari anggota federasi terbesar. Yang biasanya adalah kelompok yang paling inginkan mempertahankan status quo.

Yeltsin tidak begitu. Ia sadar semua ini hanyalah semu. Satu saat semuanya pasti akan ambruk. Lebih baik, keambrukan ini direncanakan. Diatur sedemikian rupa, biar ia berjalan baik dan tak banyak membawa korban. Baik itu nyawa ataupun harta benda.

Selamat jalan Yeltsin...
berharap ada Yeltsin baru
DISINI!!

Monday, October 8, 2007

Nation State

Jangan ragukan rasa kebangsaan Indonesia saya sampai umur 22 tahun. Ketika mendengar ada propinsi yang hendak merdeka, hati saya sangatlah dongkol bukan kepalang. Bahkan ketika orang tua saya dicabut hak-haknya berkarir sebagai pegawai negeri sipil gara-gara isu tidak bersih lingkungan, rasa kebangsaan saya pun masih tinggi. Paman jauh saya, sejak tahun 70 sudah mengganti kewarganegaraan mereka sekeluarga. Ketika mereka pulang mudik di tahun 1993, hati saya masih marah betapa mereka dengan mudah mengganti kewarganegaraan.


Lalu bagaimana sekarang?

Biasa saja.

Saya malah menyayangkan kenapa kita semua pernah berada dalam administrasi hindia belanda.
Sangat saya sayangkan!! Timor Timur adalah sebangsa dengan NTT (Kupang dan Pulau Timornya). Cuma, ketika di eropa lagi musim mengkapling-kapling dunia asia dan afrika, mereka berbeda pengkapling. Dan akhirnya, mereka terpisah secara negara. Walaupun Soeharto pernah berusaha nekat mempersatukan si Timor Timur.


Ini mungkin cerita basi dan telah diulang berulang-ulang kali. Bahwa Sumatera lebih dekat ke Malaysia daripada tanah Jawa ini. Cuma, ketika di eropa lagi musim mengkapling-kapling dunia asia dan afrika, mereka berbeda pengkapling. Dan akhirnya, mereka terpisah secara negara.


Sampai saat ini, nation kita masih berada di tataran suku bangsa. Nation state building sudah berada di fase leg, tanpa melewati sebuah fase log yang ciamik. Artinya ia stagnan saja, tak berubah dari era 1908. Baru sebatas nation state sebagai bangsa dibawah administrasi hindia Belanda.


Benedict Anderson boleh saja berkoar-koar tantang gejala akan terbentuk komunitas khayal sebagai trend terbaru berkebangsaan dunia. Tapi faktanya? Di Indonesia belum duduk sampai sekarang permasalahan ini. Ketika menanyakan asal muasal seseorang, bertanya sesama Indonesia masih belum sama dengan orang amerika sesama mereka menanyakan hal yang sama. Enam puluh tahun sudah kita lewati masa trial end error ini. Dan apa yang kita dapat??


India, Pakistan dan Bangladesh, sebagai daerah yang pernah bermaharaja satu di London sana, tak lagi berada satu negara. Seorang Gandhi bahkan dari awal sudah menyadari, terlalu mahal biayanya jika dipaksakan terus bersatu.

Kapan giliran kita??

Thursday, October 4, 2007

Bung, aku kecewa!

kecewaku padamu

meyakinkan Yamin saja kau tak mampu

tentang tak perlunya Papua dalam Indonesia

tentang statebond dan federalismenya bentuk negara




kecewaku padamu

tentang kegagalanmu

menjelaskan pada pendiri negara ini

tentang ketakutanmu pada sebuah nasionalisme chauvinistik

dan berhala persatuan




kembali ku kecewa padamu

tentang ketidakbisaanmu menahan laju

luapan semangat persatuan simbolik

tentang semangat kejayaan masa lalu nan semu




kecewaku padamu

FYI, saat terlalu banyak gegap gempita

teriakan asbun en ka er i

dari orang yang kami namakan tokoh

Thursday, September 6, 2007

ISTANBUL, Sebuah Timur di Barat...1

Rasa lelah 12 jam perjalanan udara dari Singapura langsung hilang, ketika roda pesawat Turkish Airlines menyentuh landasan Bandara Internasional Attaturk di kota Istanbul, Turki. Rasa penasaran akan sebuah kota penuh sejarah ini langsung memenuhi pikiran ini. Otakku langsung dipenuhi imajinasi berseting Turki di akhir abad ke 19 seperti dalam Novel Tariq Ali berjudul Perempuan Batu, selang setahun lalu kutamatkan. Kisah tentang keluarga bangsawan diplomat kesultanan Usmaniyah.

Selepas urusan kantor, sorenya aku langsung berjalan-jalan menyusuri kota ini. Beruntung ada yang menjadi guide bagiku menikmati perjalanan selepas jam kerja ini. Alhamdulillah ini summer, matahari baru terbenam pukul 8 malam. Jadi, aku masih sempat menikmati pemandangan siang kota dua benua ini.

Betapa aku berdecak kagum di tengah lalu lalang ribuan orang di Taksim Square. Sebagian besar terlihat berlari mengejar waktu. Sebagian kecil terlihat duduk santai, menikmati sajian teh khas turki di lorong jalan Istiqlal. Sebagian lagi juga larut dalam kenikmatan simbol-simbol modern. Starbucks, Burger King dan Pizza Hut. Kukagumi setiap perempuan muda turki yang terlihat. Begitu cantik dan eksotiknya. Perpaduan postur eropa dan balutan kulit lembut asia. Sungguh, mereka akan selalu terlihat cantik bagiku.

Kembali aku membayangkan masa lalu dimasa kesultanan Usmaniyah. Tetap bersetting Novel Perempuan batu, selang setahun lalu kutamatkan. Sapaan Effendi dan Hanim Effendi, berseliweran di kupingku. Para perempuan dan laki-laki memakai pakaian khas turki. Berseling dengan laki-laki asing berpakaian jas atau berjubah khas arab. Sebagian mereka adalah para diplomat asing dan para musafir niaga. Mungkin aku akan mencoba duduk bersama mereka di sebuah kedai kopi, bercerita tentang negeri kami masing-masing. Akan kuceritakan kepada mereka tentang islam di negeriku , sebuah negeri di timur jauh. Sambil sesekali meneguk Raki* atau Ouzo dari negeri tetangga mereka, Yunani.

Sempat aku berdoa, di Taksim Square ini kutemukan mesin waktu. Agar aku bisa melihat langsung semua suasana itu. Tak sebatas khayal dan lamunan lagi.

* Raki (baca rake, sejenis arak khas Turki)

Thursday, August 16, 2007

Amir dan Thomas Edison

Dari kecil Amir begitu mengagumi Thomas Alfa Edison. Itu bermula ketika Guru SD Amir bercerita tentang penemu listrik. Walaupun ketika tiba di rumah, Ayah dan Ibunya merevisi, bahwa Edison sebenarnya adalah penemu bola pijar. Apa pun itu, Amir tetap menganggap Edison adalah orang hebat. Bahkan ketika di kelasnya ada anak baru, pindahan dari Jambi bernama Edison, Amir sempat iri bin bingik. Kenapa ia dulu tidak diberikan nama Edison oleh ayah ibunya.

Menurut Amir kecil, kalau tidak ada Edison ia tidak akan bisa menonton TV seperti sekarang ini. Menyaksikan Film Si Unyil, Dari Gelanggang ke Gelanggang terutama bagian relly mobilnya, atau menyaksikan film Flash Gordon. Ketika listrik padam di rumahnya, kekagumannya pada Edison makin tak terbatas. Benar-benar gelap dunia ini tanpa Ediosn, begitu kira-kira. Di perpustakaan SDnya, Amir menemukan sebuah buku bergambar yang bercerita tentang Edison. Di buku itu tertulis, kalau Edison memiliki puluhan paten atas namanya. Ketika di luar, orang berbicara tentang kepatenan. Amir dengan lantang akan berkata, dia tidak berhak disebut "paten". Di dunia ini yang berhak disebut paten hanyalah Edison. Yang lain cuma sok paten.

Di kelas IV SD, Amir menangis sedih ketika Guru Agama menceritakan semua orang yang bukan islam akan masuk Neraka. Berarti Thomas Edison dan Om Sinaga tukang kredit Ibunya akan masuk Neraka. Edison adalah orang hebat. Om Sinaga adalah orang baik. Suka memberikan kipang kacang padanya. Membantu ibu-ibu membelikan Panci, Seprai, Lapiak lipek dan sebagainya. Termasuk memberikan Imsakiyah menjelang bulan puasa, yang dihisab oleh Bapak Arius Saikhi. Amir tidak terima kalau Edison dan Om Sinaga masuk neraka.

SMP dan SMA, Amir sudah mulai melupakan Edison. Ia lebih tertarik dengan wanita. Juga lagu Metallica. Sebenarnya dangdut juga. Cuma Amir sedikit gengsi. Soalnya di majalah HAI yang ia baca, Metallica dan kawan-kawanlah yang dianggap gaul di Jakarta. Nike Ardilla dan Deddy Dorres aja dianggap kampungan, apalagi Kalau Dangdutnya Anis Marsela. Begitu juga lagu Malaysia.

Dan, Amir pun kuliah di tanah Jawa. Sekamar dengan Bang Rajab asal Sidempuan. Dari si Abang, Amir banyak belajar tentang dunia, di luar kuliah dan teman wanita. Amir dan Rajab sering berbincang tentang apa saja. Akhirnya sampai juga pembicaraan tentang Thomas Edison. Ketika bicara tentang Edison, abang biasa saja menanggapi. "Tak adalah itu, kalaupun si Edison tidak ada lampu pijar pasti ditemukan orang juga nya", begitu kata abang. Paling juga tertunda 5 tahun saja. Tapi Amir memang Minang sajati: Iyo kan nan di urang laluan nan di awak. Baginya Thomas Edison tetap orang hebat.

Amir pun mulai terlibat dalam pergulatan pemikiran dengan Bang Rajab. Banyak hal mereka sulit untuk sepakat. Dari sedikit yang mereka sepakati hanyalah soal ketidakadilan konsep penghuni sorga dan neraka versi mutakhir kawan-kawan lain. Bagi Rajab dan Amir, kebajikan seseorang kepada manusia dan peradaban adalah sorga itu sendiri. Bukan yang lain. Lalu Rajab dan Amir mulai berdoa, "Ya Allah. Ya Tuhan kalau memang sorga akan kau berikan kepada manusia ini. Berikan juga untuk Thomas Edison, Abu Thalib dan Isaac Newton. Betapa mereka telah banyak berbuat kebaikan untuk dunia ini. Layaklah sorga-Mu itu sebagai apresiasi bagi mereka. Kalaupun mereka tidak pernah menjadi muslim, Bukankah mereka juga mengakui Tuhannya Ibrahim sebagai Tuhan mereka pula... Amin".

Amir dan Rajab segera menyalakan Sampoerna Mild. Mengambil gitar, menyanyikan lagu Isabella yang lagu Malaysia. Diteruskan dengan Manuk Dadali yang lagu Sunda. Kemudian bercerita tentang pacar-pacar mereka. Mereka, udah loe apain aja....?

Wednesday, August 15, 2007

Pulang Kampung (Surat Untuk Seorang Perantau)

Assalamualaikum,
Dunsanak,
Sama seperti anda, saya juga perantau. Saya berada dalam barisan besar gerombol orang minangkabau yang disebut perantau. Merantau sebenarnya adalah pilihan terakhir buat saya. Kalau boleh memilih, sebenarnya saya ingin tinggal di kampung. Mengurus sawah, parak gatah dan sekali-kali mencari ikan di batang sinama. Namun apa daya, orang tua menyekolahkan ke tanah jawa. Keinginan pun menjadi berubah. Sisi materialistis telah muncul menjadi sebuah hal yang sangat penting. Keinginan sederhana masa kecil telah dikalahkan oleh hasrat untuk mencari bentuk kesuksean lain berupa materi dan posisi publik.

Telah menjadi kebiasaan saya sejak bekerja dan lulus sekolah untuk pulang kampung tiga bulan sekali. Tetap ada sisi romantis dalam diri ini untuk tetap mengunjungi kampung tercinta. Setahun pertama, kepulangan saya ke kampung baru sebatas berkumpul dengan keluarga dan teman-teman lama. Kesan pamer tak bisa dihindari. Saya sudah merasa paling hebat dibanding orang-orang kampung. Kerjaan saya hilir mudik, trus nongkrong di lapau. Setiap menit saya benar-benar begitu menikmati sapaan “Hey, bilo tibo? Iyo alah sanang kini yo?”. Tak peduli sapaan itu benar-benar tulus atau hanya basa basi belaka. Yang penting saya benar-benar jadi besar kepala. Kebetulan rumah kami bertetangga dengan rumah wali nagari, setiap pulang selalu saya sempatkan main ke sana. Di depan Pak Wali saya kembali terlihat sok hebat. Saya berkoar-koar menyampaikan nasehat buat kemajuan kampung ini. Dan kembali saya tetap tak peduli, apakah pak wali benar-benar tulus mendengarkan atau tertawa dalam hati.

Beberapa teman-teman lama pengurus karang taruna semangat pula mengajak saya berdiskusi. Pernah pula saya diajak beraudiensi dengan Pak Camat. Bahkan saya diminta untuk menyusun proposal menyusun feasibility study proyek kelompok usaha ikan keramba milik Karang Taruna. Modalnya berasal dari Dinas Koperasi Kabupaten. Seperti biasa, proyek ini hanya berlangsung satu siklus produksi saja. Namun tak apalah, sebagian uang pakan ikan ada dibelikan ke bola voli dan biaya organ tunggal malam hiburan. Di acara itu, saya sempatkan pula membeli singgang ayam lewat acara lelang.


Dunsanak,
Setelah sekian kali saya pulang kampung. Saya mulai bosan dengan public appereance seperti yang sudah-sudah. Kebosanan ini sengaja dibikin pedih oleh garah kudo seorang teman di lapau yang katanya saya hanya mampasamak kampuang dan mampadiah parasaan urang kampuang. Segera saya teringat ungkapan seorang teman di sebuah milis yang katanya, orang rantau minang hanya bisa membuat orang-orang minang yang ada di kampung punya hasrat ikut-ikutan merantau. Atau, mereka tak mampu membuat orang-orang berhenti merantau. Ucapan ini sangat terasa benarnya. Saat ini kampung kita benar-benar sekarat, yang hidupnya cukup lumayan tinggal kelompok pegawai negeri dan birokrat lainnya. Secara ekonomi kampung kita sudah sakit.


Dunsanak,
Saya bukanlah perantau sesukses anda, apalagi kalau indikator kesukesan berbentuk materi dan kedudukan. Saya sangatlah jauh di bawah. Tapi di balik kecilnya peran sosial dan terbatasnya materi, saya mulai mencoba bergerak nyata di kampung saya. Soal hasil, itu urusan nomor dua. Setiap kepulangan berikut, saya mencoba melakukan sesuati yang lebih nyata. Terutama untuk keluarga satu rumpun dulu. Mulailah kami berkolam ikan dan pelihara bebek. Semua tak pernah lagi melibatkan Pak Walinagari termasuk Karang Taruna juga. Duduak di lapau atau hilia mudiak keliling kampung pun sudah saya kurangi. Saya baru sadar, kepuasan terhadap achievement kita terletak pada hati nurani kita sendiri, bukan pada ekspose media apalagi penerimaan penguasa.


Wassalam

Thursday, August 2, 2007

Bilih Singkarak

Hari ini aku makan bilih. Seorang kawan lama mengantarkan ke rumah. Langsung dari Paninggahan, sebuah nagari di tepian barat danau singkarak. Setelah sebulan sebelumnya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Ia pun bercerita, kalau hendak pulang kampung. Tak lupa kuminta dititipkan bilih goreng.


Ingatanku kembali ke masa kecil di Paninggahan, dan nagari-nagari lain di tepian danau singkarak. Dua belas tahun awal kehidupan kuhabiskan disini. Dua adikku dilahirkan di Singkarak, yang bungsu lahir di Paninggahan. Aku sendiri lahir di Sulit Air. Danausingkarak begitu mempengaruhi masaku tumbuh.


Banyak kenanganku di Paninggahan. Sebagian besar daerah ini sudah aku jelajahi. Mulai dari gando di sisi timur sampai Subarang di perbatasan Malalo. Ke selatannya juga aku sudah pernah. Daerah kapalo aia dan gagauan. Kalau diteruskan kita bisa sampai ke kawasan hutan tempat Gamawan Fauzi pernah nyasar.



Salah satu yang masih kuingat adalah alahan di tepian danau singkarak. Alahan adalah tempat nelayan danau menangkap bilih. Sebenarnya alahan adalah muara banda atau sungai kecil di danau singkarak. Ikan bilih biasanya sangat senang berkumpul di muara banda ini. Mungkin karena kandungan oksigen air yang masuk lebih tinggi daripada air di tengah danau. Biasanya subuh-subuh nelayan danau menangkap ikan. Alahan ini akan mereka bendung pada subuh. Dan ikan yang sudah ada akan terperangkap. Mereka menggunakan tangguak untuk menangkapnya. Biasanya mereka memakai sejenis daun yang bisa membuat ikan lemas. Mirip-mirip proses hibernasi pada udang ketika hendak diekspor.



Aku pernah beberapa kali menemani ayah ke alahan di subuh hari. Ayah langsung ke alahan kalau hendak membeli bilih dengan jumlah besar. Minimal 3 ember. Biasanya kalau ada acara jamuan besar di kantor ayah. Pernah pula kita subuh-subuh ke alahan karena ada permintaan dari Gubernur. Beliau mau mengadakan jamuan di Padang buat pejabat-pejabat Jakarta.



Aku begitu menikmati proses penangkapan ikan di alahan ini. Bangun subuh. Naik motor dibonceng ayah. Melihat kesibukan orang di subuh hari. Memakai sebo hitam dan lampu senter. Berendam dalam air. Lalu menangguk bilih. Kemudian bilih mulai dicurahkan ke dalam ember-ember milik pedagang. Siap untuk dikirimkan ke pakan-pakan di wilayah Solok dan sekitarnya. Bau anyir tak pernah menggangguku. Yang aku lihat hanyalah kilatan putih bilih di temaramnya fajar. Sungguh, aku rindu masa-masa itu.



Lebaran 2002, saya ke Paninggahan. Ayahku ingin kesana katanya. Katanya disanalah bagian paling mengesankan dalam karir kerjanya. Ternyata selama 7 tahun diparkirkan karena dianggap anak PKI, ayah selalu merindukan Paninggahan. Mungkin ayah menganggap, hadiah naik haji yang diberikan negara banyak disumbangkan oleh periode tugasnya di Paninggahan. Jadi sebelum berangkat haji, kita berkunjung ke Paninggahan.


Tak banyak yang berubah di nagari ini. Sapaan masyarakatnya masih khas. Rumah-rumah di sepanjang jalan utama masih terlihat padat. Di Jorong Subarang kami mampir di rumah teman ayah. Rumahnya dekat dari danau. Danaunya bersih karena jauh dari rumah penduduk. Dari perkampungan ke danau, kita harus melewati persawahan lebih dulu. Disitu dulu kita sering berenang. Mencari bekas sendal jepit. Diberi layar. Berharap dibawa riak sampai ke Ombilin di seberang sana. Menyapa penumpang bus yang lagi makan di Rumah Makan Angin Berembus....



* Pernah diposting di milis RantauNet

Thursday, July 26, 2007

Alang Alang Darek

Orang eskimo punya banyak nama untuk varian salju. Orang-orang bermakan pokok beras, juga punya bermacam-macam nama bagi benda-benda yang dinamakan orang inggris hanya "rice". Orang China juga punya hal yang sama untuk makhluk berkategori bambu. Begitu juga orang minang. Bambu punya banyak varian yang berkata tunggal. Mulai dari rabuang, talang, aua, pariang dan seterusnya.

Pariang adalah sejenis bambu yang biasa yang sering dijadikan bahan dasar membuat layang-layang. Terutama alang-alang darek. Selanjutnya akan saya sebut saja layangan saja. Pariang adalah sejenis bambu berukuran sedang, berbuku panjang dan memiliki kelenturan tinggi. Sehingga, pariang sangat cocok dibuat sebagai layangan.

Di kampung saya pariang tidak banyak tumbuh, beda halnya dengan batuang yang bisa ditemui di banyak tempat. Di pekarangan belakang rumah saya sekarang saja, ada rumpun batuang. Seingat saya pariang hanya tumbuh di tiga tempat. Pertama di rumah bako saya, dipinggir sawah godang. Yang kedua di daerah sawah laweh, dan ketiga di kawasan sawah bungo. Enaknya tinggal di kampung, kita tak perlu membeli pariang perbekal layangan. Cukup meminta pada yang punya, kita sudah boleh langsung menebang pariang. Kalau pun tidak meminta, juga tidak apa-apa. Pariang sepertinya sudah menjadi milik bersama. Beda halnya dengan ubi kayu, yang secara konvensi diakui sebagai milik yang punya tanah atau yang menanam. Tapi pada prakteknya, anak muda seperti bersaing dengan babi hutan untuk menguasai ubi kayu yang ada di sebuah kebun.

Bulan Juni-Juli adalah bulan liburan sekolah. Biasanya kita menyebutnya libur panjang, pakansi panjang dan sebagainya. Di masa kecil, saya sangat menanti-nantikan masa liburan ini, karena saya pasti akan pulang kampung. Ini adalah masa yang indah, biasanya bulan ini jatuh pada musim kemarau. Padi telah selesai dipanen, pohon karet sedang berganti daun, petani libur menyadap. Sungai di kampung kami pun sedang sangat bagus-bagusnya buat dijadikan tempat mandi. Airnya tidak terlalu besar dan keruh. Jadi, sungai akan selalu ramai sepanjang hari. Mulai dari anak-anak sampai urang nan jolong gadang, bahkan para gaek yang lagi marando tagang.

Salah satu kegiatan yang cukup digemari di periode ini adalah main layangan. Ada beberapa tempat yang diminati sebagai arena bermain layangan. Yang pertama lapangan bola di tengah kampung. Lalu lapangan bola biaro dan ketiga di sawah gadang. Saya belajar membuat layangan pada Mr Buyuang Ladang, pada sebuah liburan kenaikan kelas SD di tahun 1988. Awalnya masih membuat alang-alang maco. Benang yang dipakai juga masih benang cap jaguang. Bukan benang nilon seperti yang lain. Tahun berikutnya, barulah saya diajarkan membuat alang-alang darek.

Ketika sudah SMP, saya sudah cukup lihai membuat layangan. Bersama dua orang mamak, saya mulai menjual layangan. Biasanya kami pasarkan pada anak-anak pegawai negeri di kampung kami. Mulai dari anak Pak Camat, Pak Polisi sampai anak guru-guru. Kalau anak kampung kami agak gengsi membeli layangan. Kalaupun tidak bisa, mereka cukup minta dibuatkan ke buyuang ladang. Pulangnya diberikan sebungkus Comodore atau Gudang Garam Filter.

Tahun berikutnya, kami mulai melakukan ekspansi bisnis layangan. Wilayah kampung dirasa sangat tidak cocok untuk bisnis ini. Penetrasi pasar sudah sangat tinggi, pemain juga banyak. In term of Quality, juga kami kesulitan bersaing. Kami mulai membidik pasar baru. Kali ini tidak lah tanggung-tanggung, langsung menyerbu ibukota propinsi. Cuma kami tidak menjual dalam bentuk barang jadi, yang kami bisniskan adalah bahan baku. Yaitu: Pariang! Seminggu dalam liburan, kami pergi ke Padang buat berjualan pariang. Pariang kami potong dan belah sepanjang dua ruas, seukuran bilah buat pagar. Untuk keperluan ini, kami membuat deal dengan keluarga bako saya dalam pengadaan pariang ini. Saya lupa harga per batangnya. Yang jelas, kami ketika itu menjual sebilahnya di Padang sebesar 1500 - 2000 rupiah. Seminggu di Padang, kami bisa membawa uang 2 jutaan.

Jadi, kalau dunsanak pernah tinggal di Wisma Indah III dan IV. Atau yang tinggal di komplek Jondul Rawang di era 1990 - 1995, mungkin kita pernah berbisnis. Dan kala itu, saya cukup senang berbisnis dengan anda.


Salam

UBGB
http://ubgb.blogspot.com/

Wednesday, July 11, 2007

Adat dan Estetika 2

Martin Luther pernah berselisih paham hebat dengan seorang tokoh lain penentang utama kepausan Roma. Berdasar pada teori musuh dari musuhmu adalah sekutumu, tak seharusnya mereka berselesih sebegitu hebatnya. Mereka menjadi berkelahi sebegitu hebatnya hanya karena tidak sepakat soal pengandaian roti dan anggur. Padahal semua orang tahu, roti ya roti, anggur ya anggur.

Saya tak hendak menjadi seorang Martin Luther dalam adat minang. Tak perlu nama ini terpaku dalam sejarah peradaban minangkabau ini. Saya hanya ingin menjadi paku kecil saja. Tentu sebagian kita pernah membeli secara knock down sebuah rak buku atau rak TV bermerek Olympic dan sejenisnya di toko serba ada. Ketika merangkai kembali potongan-potongan rak tersebut di rumah, kita akan berhadapan dengan sekrup dan paku-paku. Baik besar ataupun kecil. Biasanya bagian terakhir yang kita pasang dan paling gampang pula adalah triplek penutup sisi belakang. Direkatkan ke bingkai-bingkai utama dengan paku-paku kecil. Itulah mimpi saya: menjadi sebuah paku kecil di belakang itu.

Kembali soal adat dan estetika, bagi saya memang sudah begitu. Soal hormat kepada orang tua, membantu yang susah, apalagi memandang air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tak menjadi minang pun seyogyanya kita memang sudah harus begitu. Saya yakin dan percaya, masyarakat aztec atau suku inca juga punya nilai yang sama.

Tapi ini soal lain!

Ini soal ulayat, tata cara mengalokasikan tanah garapan oleh mamak kapalo kaum. Kebiasaan acara baralek, batagak pangulu atau tata cara berdukacita dan seterusnya. Apalagi hanya acara barundiang salasai makan, bajalan salapeh arak, soal tempat duduak urang sumando, induak-induak yang hanya mengurus hidangan saja. Lalu ketika keputusan sudah bulat, mamak kepala kaum berteriak ke induak-induak menyuarakan hasil keputusan. Disanalah ia menjadi estetika. Disana juga ia menjadi taplak meja dan pot bunga. Model rumah juga bisa. Kalau masih senang, silakan dipakai. Kalau tak senang lagi, cari model baru.