<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584</id><updated>2011-07-08T09:18:14.434-07:00</updated><title type='text'>Jejak Seorang Kampung Lagi Kampungan:UBGB</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-480666272046588094</id><published>2008-10-09T20:28:00.001-07:00</published><updated>2008-10-09T20:30:47.966-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Seorang Pemudik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="border-bottom: medium none; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: text; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1223608929_0"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;, perjalanan mudik yang saya lakukan berjalan dengan lancar, selamat pulang pergi.  Secara total, perjalanan mudik menempuh angka lima ribu kilometer.  Semua mencakup perjalanan pulang pergi dan mondar-mandir selama di kampung.  Semua dilakukan atas nama sebuah kegiatan pulang kampung alias mudik di hari yang suci ini.  Silakan pro dan kontra dengan hajatan ini.  Sampai hari ini, bagi saya mudik lebaran masih merupakan sebuah "exciting moment".  Sebuah pengalaman indah, berkumpul dengan kedua orang tua, adik-kakak dan seluruh sanak keluarga lainnya.  Terlebih lagi, keluarga besar masih banyak yang tinggal di kampung.  Perantau masih berhitung jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya berbakat untuk komplain atau bahkan mungkin bernama tengah "protes", untuk urusan mudik sulit bagi saya untuk melakukan protes kepada pemerintah, terutama berkaitan dengan infrastruktur.  Asumsi dasar pembangunan infrastruktur bukanlah pada kondisi hondoh poroh saat mudik.  Asumsi yang dipakai adalah sebuah kondisi mobilitas normal.  Untuk kondisi normal saja mereka sudah acak-acakan, konon kok pula ketika mudik.  Untuk alasan ini, saya bisa menerima berantri naik ferri selama 4 jam mobil terparkir di Merak. Justru saya menyesalkan keberadaan negara ini untuk melayani masyarakat hanya terlihat ketika mudik tiba.  Seolah mereka bekerja sepenuh hati hanya ketika mudik.  Polisi-polisi terlihat semangat berpatroli dengan pos-pos yang tersebar dimana-mana.  Mereka gesit mengatur lalu lintas.  Petugas SAR dan paramedik bersiaga penuh.  Kendaraan laut, darat dan udara bersedia siaga penuh selama kurun mudik.  Pak Camat, lurah dan seterusnya juga tidak boleh meninggalkan wilayah kerja dan harus tetap terus berkoordinasi.  Jalan-jalan segera diaspal licin, lampu jalan di tambah, alat-alat berat stand by di lokasi rawan longsor.  Padahal semestinya, tanpa kurun mudik pun mereka memang sudah bekerja dengan semangat yang sama.  Memang sudah kewajiban mereka seperti itu.  "Minimum requirement" orang-orang yang saya sebutkan di atas memang seperti itu.  Kurun lebaran atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di kampung halaman, setiap moment silaturahim memang saya nikmati.  Jauh di lubuk hati, saya sudah bertekad untuk menghindari kesan pamer untuk setiap kepulangan mudik.  Appearance berbentuk penyumbangan atau ota-ota untuk memajukan kampung tidak akan saya lakukan lagi.  &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1223608929_1"&gt;Saya&lt;/span&gt; pulang murni untuk bersilaturahmi.  Kalaupun ada halal bi halal kaum dan nagari, saya hadiri memang untuk bersilaturahmi.  Saya tidak mau menyumbang di acara itu, walaupun pembawa acara dan peminta sumbangan terus berteriak.  Saya hanya jawab nanti lah.  Berpendapat sok tau dan menggurui pun tidak dilakukan.  Banyak diam dan mendengar saja.  Kalaupun nanti saya dianggap sampilik dan sombong, saya sudah tidak peduli.  Saya pulang hanya untuk bersilaturahmi.  Soal sumbangan kepada kampung, ada cara dan jalan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya saya, masyarakat di kampung menanggapi sekadar saja terhadap para pemudik atau para perantau pulang basamo.  Tak perlu lah tebaran spanduk mengucapkan selamat datang.  Tak ada decak kagum berlebihan lagi.  Kalaupun mereka pulang, salami saja lah dengan sebuah salaman dek alah lamo indak basuo.  Tak perlu lagi drum-drum bekas di tengah labuah lengkap dengan orang membawa tangguak meminta kerilaan perantau untuk membangun masjid atau turnamen bolakaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya saya lagi, perantau pemudik tak lagi berebut membeli singgang ayam ketika pulang.  Tak perlu juga bertingkah-meningkah dalam menyebutkan jumlah sumbangan untuk surau dan masjid.  Cerita sok tau berupa seolah brief untuk kemajuan kampung perlu kita kurangi.  Kita pulang untuk bersilaturahim dan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai di kampung halaman.  Memaksakan diri untuk terlihat bergaya di kampung halaman mudah-mudahan tidak lagi kita lakukan.  Kita pulang apa adanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung, saya lihat kehidupan berjalan seperti nan taralah.  Menjadi Pegawai Negeri Sipil masih terlihat sebagai jalan keluar utama penyambung hidup.  Bagi sebagian orang berharap dengan menjadi anggota legislatif.  Spanduk dan baliho berisi lambang partai, foto diri dan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: text; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1223608929_2"&gt;ucapan selamat idul fitri&lt;/span&gt; bertebaran di seluruh pelosok kampung.  Sebagian masih berharap dari rasaki harimau, berharap menemukan emas di sepanjang sungai.  Sebagian apak dan mamak kita, masih gadang ota dan sok tau.  Sebagian lagi masih setia bertani di sawah, menggembalakan ternak dan berladang.  Sebagian anak muda masih rajin ke sekolah, surau dan masjid.  Sebagian muda lagi, rambutnya sudah diwarnai.  &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1223608929_3"&gt;Kampung&lt;/span&gt; kita masih mengalir dan bergerak.  Kampung juga sebuah kedimanisan.  Tapian tampek mandi sudah di setiap sudut kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, mudik tetaplah sebuah keindahan dan momen berharga.  Selamat menjadi pemudik.  Insya Allah, lebaran tahun depan saya akan mudik lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-480666272046588094?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/480666272046588094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=480666272046588094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/480666272046588094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/480666272046588094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/10/refleksi-seorang-pemudik.html' title='Refleksi Seorang Pemudik'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5753729466230217543</id><published>2008-08-21T09:15:00.001-07:00</published><updated>2008-08-21T09:15:55.325-07:00</updated><title type='text'>Rindu Kejutan F1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Menyaksikan pertunjukan F1 adalah menyaksikan sebuah pertarungan para pemilik modal dan penganut utama mahzab glamoritas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lihatlah uang dibelanjakan dan gaya hidup para pelakunya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mulai dari para eksekutif team, pembalab, teknisi, mekanik dan sampai pada sebagian besar penikmat setia tontonan ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua terlihat wah untuk ukuran rata-rata penduduk dunia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sulit bagi kita untuk membayangkan tontonan bareng F1 dilakukan di lapangan bulutangkis sebuah RT di tengah-tengah perkampungan Jakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alasan terkuat bagi para sponsor untuk mensponsori sebuah team atau tontonan F1 adalah eksklusifitas itu sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemewahan dan &lt;i style=""&gt;premiumness&lt;/i&gt; adalah magnet utamanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia meninggalkan konsep dasar efisiensi sebuah &lt;i style=""&gt;brand exposure&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa yang biasanya disebut sebagai biaya per kontak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saat ini kemewahan F1 menjadi seperti lepas kendali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ruang untuk ”team sekadar” menjadi tidak ada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertunjukkan F1 semakin melambung ke atas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tempat yang tersedia hanyalah bagi pemodal-pemodal besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Musim 2008 belum berakhir, sebuah team sudah menarik diri dari pertempuran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alasan finansial membuat Team Super Aguri colong playu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mundur dari gelanggang, karena isi kantong yang sudah kosong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Bermacam aturan telah dicoba untuk mengerem agresifitas team-team besar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Namun hasilnya belum lah signifikan untuk mampu membuat jarak antar team menjadi dekat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sebelum race dimulai, kita sudah bisa menebak team-team yang akan muncul di podium.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan lebih jauh lagi, sebelum sebuah session dimulai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akibatnya unsur kejutan sebagai sebuah daya tarik pertunjukkan menjadi sangat minim di F1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ada kecenderungan &lt;i style=""&gt;Formula One Race&lt;/i&gt; bergerak ke arah kemonotonan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walaupun di luar sirkuit, kita masih mendengarkan kejutan-kejutan dari persaingan antar team.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi secara teknis, kondisi monoton memang sudah di depan mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sudah saatnya F1 memuaskan keiniginan penikmat layar kaca.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang selalu berharap dengan kejutan-kejutan di setiap balapan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biar taruhan-taruhan kecil bisa dilakukan, sebagai sebuah pelengkap menikmati sebuah tontonan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perlu aturan-aturan dahsyat sebagai pengerem agresifitas team-team kaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Atau, mungkin para team besar ini membutuhkan pendekatan lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah sentuhan hati nurani, misalnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang jelas, salib-menyalib di tengah race semakin sering disaksikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Agar kami tak cepat bosan lalu beralih ke tempat lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ingat, kami punya sebuah alat bernama &lt;b style=""&gt;Remote Control&lt;/b&gt;!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5753729466230217543?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5753729466230217543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5753729466230217543' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5753729466230217543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5753729466230217543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/08/rindu-kejutan-f1.html' title='Rindu Kejutan F1'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-6742749841118835505</id><published>2008-05-23T07:49:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T07:50:15.739-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Biasa......</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Merenung diri menemukan cara pandang baru terhadap Indonesia adalah hal yang ingin sering saya lakukan saat ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Objektif perenungan ini adalah sebuah hal yang sederhana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yakni menemukan cara memandang Indonesia secara netral. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sudah terlalu sering saya merasakan naik turunnya suasana bathin ketika nama Indonesia disebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kadang saya begitu mencintainya, membencinya, terkadang meringis atau malah sangat skeptis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kali ini berharap untuk netral-netral saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti halnya ketika saya membaca headline berita olah raga yang membahas liga Jerman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak ada perubahan perasaan saya membaca hasil-hasil pertandingan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terserah siapa yang menang dan kalah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Klub mana yang juara atau terdegradasi ke liga dibawahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Berharap tak lama dari saat ini, saya menjadi biasa saja mendengar Malaysia mematenkan motif batik dayak dan pekalongan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kalaupun saya meringis tentang TKI yang diperkosa majikannya, kadar ringisan saya sama dengan berita tenaga kerja Zimbabwe yang mengalami penderitaan sama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebuah simpati sebagai sesama anak manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bukan ringisan yang terlontar karena ketidakrelaan terhadap perlakuan yang diterima seorang anak bangsa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Maunya ketika Olimpiade tiba, terhadap perolehan medali Indonesia sama dengan komentar saya terhadap perolehan medali Fiji atau Pasifik Samoa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tak ada lagi rasa gemas dan nelangsa, ketika melihat Tim Bulutangkis kita gagal meraih Piala Thomas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak lagi mencak-mencak ketika Bambang Pamungkas gagal menyarangkan bola ke gawang lawan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Juga diam saja ketika melihat Markus Horizon berkali-kali memungut bola dari gawangnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebuah diam tanpa emosi tentunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sungguh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Inginnya ketika berada di Orchard Road melihat para pelancong Indonesia menenteng tas belanja di kiri dan di kanannya, saya menjadi biasa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tanpa ada umpatan dalam hati, mereka telah mengeringkan ekonomi dalam negeri demi memajukan negeri red dot-nya Habibie. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kembali saya berharap, saya tak lagi ngedumel melihat pungli RT, Lurah, Camat dan seterusnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak peduli lagi pada realita pegawai golongan IVB -bergaji pokok dan tunjangan resmi sekitar tiga setengah juta- bisa membelikan ketiga anaknya Honda Jazz. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau tetangga saya yang seorang jaksa, yang mampu punya 3 mobil dengan kapasitas mesin diatas 3000 cc semuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saudara-saudara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mohon doakan saya bisa menjadi biasa saja dengan itu semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-6742749841118835505?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/6742749841118835505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=6742749841118835505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/6742749841118835505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/6742749841118835505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/05/menjadi-biasa.html' title='Menjadi Biasa......'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5002816668990009344</id><published>2008-05-21T11:58:00.001-07:00</published><updated>2009-06-19T05:49:48.114-07:00</updated><title type='text'>Melawat Jiran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_K20WSz3MFDc/SDRxXEO4g7I/AAAAAAAAAAU/fbqxNA1bvQU/s1600-h/P8180084.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5002816668990009344?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5002816668990009344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5002816668990009344' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5002816668990009344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5002816668990009344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/05/melawat-jiran.html' title='Melawat Jiran'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5439562136318867759</id><published>2008-05-07T22:10:00.001-07:00</published><updated>2008-05-07T22:10:57.425-07:00</updated><title type='text'>Manjadi Gubernur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gara-gara mencalonkan kawan saya Benni menjadi Gubernur Sumatera Barat, saya menjadi mimpi tadi malam.  Mimpinya benni menolak menjadi calon gubernur dan sepenuhnya mendukung saya maju.  Dan tiba-tiba saya sudah menjadi gubernur saha, siapa lawan saya dalam pemilihan dan berapa persentase kemenangan saya tidak terpapar jelas dalam mimpi itu.  Proses pelantikannya juga tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu point yang saya catat mengikuti cerita Goethe, bahwa ternyata jauh di alam bawah sadar saya menginginkan menjadi pejabat publik atau pemimpin komunitas.  Padahal prestasi besar saya dalam mengurus orang hanyalah menjadi ketua kelas waktu SMA dan ketua seksi transportasi panitia outing kantor.  Kalau mengikuti ramalan seorang saudara jauh, ini adalah sebuah tanda bahwa saya memang akan ditakdirkan menjadi seorang kapalo rombongan.  Ia dulu pernah menyatakan saya nanti akan menjadi serikat buruh atau pengurus YLKI.  Alhamdulillah sampai sekarang, belum kesampaian ramalan saudara jauh saya ini.  Sampai saat ini, saya masih menjadi kacung kampret.  Walaupun di kantor dibilangin kacung kampret yang tengil.  Karena dari satu rombongan, hanya saya yang bisa membawa barang duty free negara lain ke dalam pesawat tujuan Jakarta ketika transit di Changi.  Sementara dalam rombongan sayalah kacung paling terkacung.  Saya bisa karena saya masuk boarding room paling terakhir, ketika berantem soal barang duty free saya langsung menanyakan siapa yang in charge untuk urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal mimpi tadi.  Saya tiba-tiba terbangun dan mendapatkan semuanya hanya mimpi.  Mandi berberes dan saya langsung berangkat kantor.  Selama perjalanan ke kantor, di tengah kemacetan saya melamun dan bermenung tentang menjadi gubernur.  Dalam lamunan ini saya mulai berandai-andai soal program saya menjadi gubernur.  Pertama kali yang saya lakukan setelah dilantik mendagri adalah berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan tentunya untuk menjadi muslim yang benar.  Terutama shalat saya.  Saya berjanji akan mendirikan shalat sesuai perintahnya sebanyak lima kali sehari dan selalu di awal waktu.  Bersamaan dengan itu, saya akan melakukan review perda syariah terutama yang berkaitan dengan jilbab.  Saya akan mengusahakan perda jilbab tidak ada lagi.  MTQ akan saya review siklus penyelenggaraannya menjadi siklus lima tahunan saja.  Urusan spiritual dan keagamaan akan dikembalikan kepada masing-masing pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya akan mengumpulkan teman-teman kecil saya dulu.  Mulai dari Tanjung Balik, Singkarak, Paninggahan, Sawahlunto.  Akan saya katakan kepada mereka, bahwa saat ini teman anda menjadi gubernur.  Tolong beri saya masukan tentang apa permasalahan kalian saat ini dan menurut kalian apa jalan keluarnya.  Masukan mereka akan saya jadikan brief dasar program kerja kegubernuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu pemasok brief akan saya minta kepada para ibu-ibu yang sedang bekerja di sawah.  Caranya tidak akan pernah lewat kelompok tani binaan pemda.  Langsung saya berhentikan mobil di tempat ibu-ibu yang sedang menanam padi, tanpa memakai atribut gubernur saya mencoba mencari tahu keluhan dan harapan mereka.  Caranya tentu tidak "ujug-ujug" bertanya seperti itu.  Saya akan berpura-pura menjadi orang yang akan membeli tanah di daerah itu, untuk mendirikan penggilingan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasok brief berikutnya adalah dari para dosen perguruan tinggi di Padang.  Dosen yang saya tanyakan adalah dosen yang masih menggunakan kijang tahun 84 atau sepeda motor bebek untuk berulang ke kampus.  Bukan dosen yang manjadi ketua jurusan, pimpinan fakultas/universitas juga bukan dosen yang sudah menggunakan mobil ke kampus.  Caranya?  Gampang, saya tanyakan kepada adik dan sepupu saya, siapa dosennya yang paling kere dan miskin.  Saya temui.  Pendapat mereka akan saya rekap untuk saya jadikan brief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan perantau?  Sudah tentu saya jadikan sumber masukan.  Tapi mohon maaf, bukan perantau yang bergabung dengan Gebu Minang, FSSM atau ikatan keluarga level kabupaten.  Yang akan saya dengarkan dan kumpulkan pendapatnya adalah perantau yang baru turun di terminal rawamangun, pengusaha sogo jongkok, rumah makan padang 4 meja dan para penjual DVD.  Lalu saya coba menghubungi para dosen asal minang, yang kalau pulang kampung hanya bertemu sanak saudara belaka.  Saya bertanya, lalu mereka menjawab, dan saya kumpulkan menjadi semacam brief resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Terakhir dan memang kurang begitu penting.  Temuan Bappeda, Anggota DPRD dan institusi resmi lainnya.  Ini hanya sekadar syarat saja.  Mereka saya iyakan, tapi yang lalu yang saya punya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5439562136318867759?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5439562136318867759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5439562136318867759' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5439562136318867759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5439562136318867759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/05/manjadi-gubernur.html' title='Manjadi Gubernur'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-119354410596152920</id><published>2008-04-03T04:47:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T19:29:50.749-07:00</updated><title type='text'>Melawat Jiran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan maret ini saya harus dua kali membayar fiskal kepada negara.  Kedua-duanya karena melawat ke negara jiran, dima visa sudah tidak diperlukan lagi.  Kunjungan ke negara pertama adalah sebuah tugas kantor, yang mau tak mau harus dipenuhi.  Lagian saya memang cukup lama juga tidak menyambangi.  Sekali-kali kita memang perlu juga meyambangi "red dot-nya habibie" ini.   Mentune-up jiwa kita akan sebuah kerapihan dan sebuah keseriusan pemerintahan.  Tapi jangan lama-lama tinggal disana.   Sensitivitas humanistik kita bisa menurun.  Bisa jadi akan bermuara pada sebuah kekakuan dan kegaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja di Singapura adalah pilihan terakhir aktifitas saya selama di sana.   Tak perlu lagi biasanya kita membahas bagaimana pola dan tingkah laku kebanyakan orang Indonesia dalam berbelanja di sana.   Apalagi di musim, sale-salean tiba.  Sudah banyak yang membahas dan mengomentari itu.   Dan sialnya, saya pernah menjadi bagian dari team provokator orang-orang Indonesia agar menggila dalam berbelanja.   Di perjalanan kemarin itu, saya hanya membeli sekantung coklat, sebuah tas untuk orang tersayang dan beberapa buku cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri "red dot" ini masih seperti biasa saya lihat.   On weekdays, penduduk asli terlihat sibuk mondar-mandir di pagi dan sore hari.   Di akhir pekan, negara kota ini sudah dipenuhi oleh pelancong belanja-yang kebanyakan dari Indonesia.   Atau para tenaga kerja asing, yang sedang pesiar sekadar cuci mata atau mencari tambatan hati.   Jadi ingat pada sebuah penggalan masa, ketika menjadi tenaga kerja asing disana.   Ketika memamerkan tempat gedung kantor, flat dan jenis pekerjaan adalah sebuah kebanggaan tersendiri kepada mbak-mbak di Lucky Plaza.   Menikmati keterperangahan mereka tentang betapa beruntungya si Sijunjung norak ini.   Tapi ya sudahlah, itu hanyalah masa lalu dari cerita jiwa yang masih sangat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu berlepas, jiran lain saya jelang.   Sebuah jiran yang saya benci dan juga saya bangga.   Saya banggakan mereka karena bisa membuktikan orang melayu juga bisa maju dan diatur.   Walaupun selentingan saya dengar, melayu-melayu asli sana semakin malas dan manja saja.   Saya membenci karena kok mereka bisa maju, sementara guru saja mereka pernah mengimpor dari kita.   Kok bisa ya, orang yang sama-sama suka Kangen Band, Matta, Ungu, Radja dst bisa lebih maju daripada kita.   Kalau soal mereka menyolong-nyolong budaya kita mah, saya tidak peduli.   Kita aja yang bego.   Tak bisa memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawatan ke KL adalah sebuah kegiatan iseng-iseng berhadiah.  Bahasa Sijunjungnya, side job atau mencari other income.   Mumpung di Indonesia sedang libur panjang, lalu di Malaysia ada perhelatan balap bernama Formula Satu.   Seperti standarnya orang-orang kaya (juga setengah kaya) Indonesia, tentu mereka ingin sekali menyaksikan balapan ini.   Tak peduli mereka tahu apa itu F1, siapa itu Kimi, Force India dan sebagainya.   Kalau Hamilton ya semua mungkin tahu, orang kulit hitam pertama yang membalap di F1.   Tapi itu tidak menjadi penting.   Yang penting presence.   Foto sana foto sini di circuit.  Beli merchandise (dengan mengomel tentunya karena mahal).   Semua sudah cukup.   Yang penting, ketika orang ngoceh tentang Sepang.   Kita ngoceh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari ajakan seorang kawan agar saya menemani menjadi salah satu kru yang mengurus perjalanan mereka.   Saya pun mengiyakan.   Lumayanlah, dapat uang saku dan jalan-jalan ke luar negeri pula.   Akhirnya berangkat lah saya.   Sekitar tiga hari saya mendampingi mereka.   Menjadi orang yang sok tahu, mencoba memahami keinginan presence-presence mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto disana, foto disini.   Ceritanya antar belanja.   Sedikit belanja banyak fotonya.   Tapi tak apalah, yang penting semuanya bahagia.  Everybody happy!   Malaysia happy, ekonominya bertumbuh.   Indonesia senang, dapat fiskal sejuta per kepala.   Ditambah alasan PR (Public Realtion-pen) pemerintah, bahwa ekonomi kita juga tumbuh.   Buktinya jumlah kunjungan ke luar negeri meningkat.   Siapa bilang pemerintah tak bekerja.   Saya juga dapat uang saku.   Bisnis kawan saya tetap bisa berjalan.   Walaupun seorang kawan mengatakan saya sedikit mengeringkan perekonomian Indonesia, uang malah dibawa keluar.   Coba biaya orang ke Sepang diconvert jadi cendol dan martabak, berapa tukang martabak dan cendol yang akan kaya.   Ia benar.   Tapi saya sudah ilfil ama negara ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-119354410596152920?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/119354410596152920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=119354410596152920' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/119354410596152920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/119354410596152920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/04/melawat-jiran.html' title='Melawat Jiran'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-2967400874709134904</id><published>2008-02-07T22:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T23:01:01.396-08:00</updated><title type='text'>Manampiak dan Manukiak</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi yang sering bermain layangan di kala kecil, kedua kata ini bukanlah istilah asing.  Kata yang menjadi judul postingan ini adalah istilah umum orang minang dalam permainan layangan.  Keduanya memiliki hasil akhir sama, yakni layangan gagal terbang setelah untuk beberapa saat pernah mengangkasa di udara.  Walaupun begitu, proses untuak kedua kata ini sangat bertolak belakang dalam memanfaatkan angin dan melakukan proses tarik ulur.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Manampiak adalah posisi layangan kehilangan daya angkat, akibat terlalu banyak mengulur.  Biasanya terjadi ketika pemain layangan over confidence dengan arah angin dan laju perubahan ketinggian yang cukup berpihak.  Ketika ini terjadi, layangan menjauh.  Benang terus terulur, tapi ia menjadi lebih rendah.  Dan pada akhirnya menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manukiak adalah proses sebaliknya.  Terlalu semangat menarik.  Arah dan kecepatan angin kurang dipertimbangkan.  Terlalu percaya diri dengan perubahan ketinggian vertikal yang terjadi.  Mungkin dalam hati, berharap segara tagak tali.  Sayang yang terjadi, layangan bergerak dengan kecepatan tinggi.  Namun bukan ke atas, ia kembali bergerak ke bawah.  Mencium tanah nun jauh di ujung kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manukiak dan manampiak adalah sebuah kegagalan.  Walaupun begitu, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari keduanya.  Pelajaran tentang kekurangcermatan membaca arah angin, kurang terlatih menarik-ulur.  Yang satu terlalu asyik menarik.  Satu lagi terlalu asik mengulur.  Sayang layangan tak jadi menjulang tinggi di angkasa, ia kembali menyium tanah.  Benang tak tergulung dan layangan tak pasti akan kembali ke tangan si empunya.  Mungkin ia sudah beralih ke tangan pengejar layangan putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses berhukum formal mengacu ABS SBK di tanah minang, adalah sebuah cerminan proses menaikkan layangan.  Rasanya dari masa 18-an kita sudah membicarakan ini.  Masing-masing kubu sudah mencoba bertarik ulur dan membaca angin.  Situasinya mungkin terlalu banyak menarik, sehingga ia manukiak.  Atau terlalu asyik mengulur, dan ia pun menampik.  Yang namanya layangan tak pernah juga naik ke atas.  Mengangkasa dan menyapa kita-kita yang ada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kekinian, kembali ada yang bermain layangan ini.  Sayang sungguh sayang, baru sebatas "maanjuang".  Mungkin ia tak akan pernah sampai pada sebuah proses tarik ulur.  Baru maanjuang saja, benang sudah kusut.  Atau angin berubah arah pula.  Teman yang diharapkan membantu membawa layangan ke ujung padang, berganyi pula.  Ia pun sepertinya hendak menaikkan layangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Di beberapa tempat di minangkabau, manampiak sering juga dilafalkan manapiak, atau malapiak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-2967400874709134904?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/2967400874709134904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=2967400874709134904' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2967400874709134904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2967400874709134904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2008/02/manampiak-dan-manukiak.html' title='Manampiak dan Manukiak'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-706779559335931091</id><published>2007-12-06T01:10:00.000-08:00</published><updated>2008-04-06T21:02:45.878-07:00</updated><title type='text'>Menghadiri Acara HASS</title><content type='html'>Jumat malam saya ke PTIK.  Karena dekat kantor, saya sempatkan kesana.  Sekaligus menghilangkan penasaran terhadap organisasi kedaerahan seperti ini.  Disana saya bertemu dengan beberapa orang yang pernah saya temui di beberapa rapat MAPPAS dan MPKAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat saya punya gambaran awal tentang acara ini, yang hanya akan berisi kumpulan sambutan-sambutan para tetua.  Lalu cerita tentang keberhasilan dan ditutup dengan harapan untuk memajukan minangkabau.  Tanah minangkabau dan orangnya.  Dan memang, gambaran awal saya ini terbukti.  Menambah rasa pesimis saya dengan kegiatan-kegiatan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dipandu oleh seorang laki-laki cukup berumur.  Dan kenapa harus dia?  Memangnya tidak ada orang muda yang mampu buat menjadi pembawa acara.  Lalu rangkaian pidato seperti biasa.  Ini juga masih tokoh-tokoh yang sama.  Yang seharusnya sudah tidak berada di depan lagi breteriak-teriak.  Cukuplah menjadi seorang tempat bertanya ketika akan pergi dan berberita ketika sudah pulang.  Apakah yang muda tak ada yang berani muncul, ataukah para tetua tetap menjadi seorang banci tampil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara ini saya mencoba membuat sebuah analisa (yang sangat dini tentunya) tentang orang-orang yang hadir.  Dan ketika itu pula saya ingat ucapan seorang guru saya, tentang sebuah komunitas.  Katanya, dalam sebuah komunitas apapun bentuknya.  Jumlah anggotanya yang aktif, maksimal adalah akar kuadrat dari komunitas tersebut.  Jika ada 100 orang, yang akan aktif maksimal hanyalah 10 orang.  Saya coba menguji hipotesa guru saya ini terhadap organisasi HASS.  Lalu Gebu Minang, SSM dan seterusnya.  Irisan atau overlap anggotanya sangatlah besar.  Universe HASS, Gebu Minang dan SSM rasanya itu-itu juga.  Berlaku juga untuk anggota yang aktif sebagai akar kuadrat komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya.  Penggiatnya organisasi minang ini adalah L4.  Loe Lagi Loe Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, maka dari itu.  Kenapa organisasi minang tidak kita jadikan satu saja.  Toh program-programnya itu-itu juga, apalagi penggiatnya.  Parat tetua yang akan memberikan pidato juga masih orang-orang yang sama.  Biar efisien dan efektif saja tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;HASS: Himpunan Alumni SMA Se-Sumbar&lt;br /&gt;MPKAS: masyarakat Pencinta Kereta Api Sumbar&lt;br /&gt;MAPPAS: Masyarakat Peduli Pariwisat Sumbar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-706779559335931091?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/706779559335931091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=706779559335931091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/706779559335931091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/706779559335931091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/12/menghadiri-acara-hass.html' title='Menghadiri Acara HASS'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7569201151624753351</id><published>2007-10-27T08:34:00.000-07:00</published><updated>2007-11-04T22:14:11.536-08:00</updated><title type='text'>Istanbul, Sebuah Timur di Barat...2</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Bonaparte pernah berujar, jikalau dunia ini adalah sebuah negara tunggal, Istanbul adalah ibukotanya. Mungkin ucapan ini terlontar karena keindahan kota Istanbul, atau bisa jadi karena posisi geografis Istanbul yang memang cukup ideal sebagai sebuah ibukota di masa itu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Apalagi dikaitkan dengan adanya benteng alami bernama selat bosphorous dan golden horn, yang membuat perlindungan kota lebih gampang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di masa, dimana peperangan memang lumrah terjadi kapan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Bagiku, kedua alasan ini masuk akal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Istanbul memang indah dan strategis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama 5 hari di kota ini, aku menyempatkan diri mengenal keindahan fisik dan eksotisme budayanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Satu hal yang menggelitik selama berada disana adalah soal pemerintahannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Baik di masa lalu, setengah lalu, setengah kini dan saat ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bagiku Istanbul (baca Turki) sungguh sangat unik dan membuat ingin tahu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Perbincanganku dengan kawan-kawan penduduk asli memperkaya pemahamanku jauh di luar informasi yang aku dapat selama ini tentang Turki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebanyakan yang kukenal disana, adalah pendukung sekularisme.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedikit saja yang masih berbau puritan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Aku selalu memancing dengan pertanyaan kenapa Partai Islam yang menang di tengah prinsip dasar sekluarisme negara anda.  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku berada disana ketika belum ada kepastian pelantikan Abullah Gul sebagai Presiden. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawaban mereka sungguh beragam, sesuai dengann latar belakang pandangan mereka terhadap sekularisme. Sebagian besar menjawab, masyarakat memilih Erdogan (dan partainya) lebih karena bukti kinerjanya ketika memerintah Istanbul. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang kawan malah mengatakan, karena keberhasilan Erdogan membersihkan Golden Horn (teluk Istabul) ketika menjadi walikota. Sehingga sekarang ia jadi bisa memancing dari pinggir jembatan, tak seperti dulu airnya sangat hitam dan pekat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Satu orang yang menjawab karena, masyarakat Turki rindu akan sebuah sistem pemerintahan Islam masa Ottoman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu orang inilah yang menemaniku di masjid biru, ketika aku bilang hendak mencoba Shalat Ashar di mesjid tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sementara yang kawan-kawan yang lain menunggu di sebuah cafe sambil meminum bir khas turki ”efes”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebuah minuman, yang aku juga suka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;" lang="SV" &gt;Note: Ketika Transit dalam perjalanan pulang, terdengar berita kalau Abullah Gul telah dilantik sebagai Presiden Turki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7569201151624753351?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7569201151624753351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7569201151624753351' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7569201151624753351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7569201151624753351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/istanbul-sebuah-timur-di-barat2.html' title='Istanbul, Sebuah Timur di Barat...2'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-1308643471944386319</id><published>2007-10-23T23:11:00.000-07:00</published><updated>2007-10-23T23:12:36.927-07:00</updated><title type='text'>Baru Sebatas Barandai</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lupakanlah harapan untuk orang minang perantauan bisa bekerjasama dan melakukan sebuah kerja besar.  Apalagi bermimpi untuk menjadi sebuah gerakan kesukuan besar seperti orang &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1193206246_0"&gt;Israel&lt;/span&gt; dan China lakukan.  Jangan pernah kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kita cocoknya memang sekadar berkumpul bersama, merencanakan dan melaksanakan pertunjukkan randai, saluang, domino barabab dan sebagainya.  Lebih dari itu.  Susah rasanya.  Lihatlah contoh ka nan sudah dan tuah ka nan manang.  Usulan mangumpuakan pitih seribu yang dilontarkan Soeharto di tahun 80an, tak pernah berkembang dengan baik.  Cuma begitu-begitu aja.  Tak sepenuhnya salah, ada orang yang beranggapan organisasi ini hanya jadi alat mempopulerkan pengurusnya, atau mempertahan posisi publik pengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kawan saya, sesama minang kita tidak punya lagi yang namanya trust.  Katanya lagi, bisa jadi karena orang yang selama ini diberikan kepercayaan, tak pernah sungguh menjalankannya.  Pragmatis belaka.  Katanya juga, tak heran sebuah organisasi pengumpul dana abadi sosial, performancenya  tak lebih bagus dari sebuah panitia pembangunan mesjid.  Padahal organisasi ini dipayungi oleh orang nomor satu di ranah dan rantau.  Pelaksananya juga banyak bergelar profesor, dan sebagian besar pengurusnya adalah orang yang berkategori well educated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ini menurut kawan saya.  Dan, saya lagi menimbang-nimbang komentar kawan saya ini.  Hmmm.... rasanya kawan saya ini ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-1308643471944386319?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/1308643471944386319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=1308643471944386319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1308643471944386319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1308643471944386319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/baru-sebatas-barandai.html' title='Baru Sebatas Barandai'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-1653969923545199536</id><published>2007-10-09T03:54:00.000-07:00</published><updated>2007-10-09T03:55:37.053-07:00</updated><title type='text'>Bengkulu</title><content type='html'>&lt;div&gt;I.&lt;br /&gt;dulu.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bengkulu adalah wilayah administrasi Inggris&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;singapura administrasi Belanda&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;lalu keduanya dipertukarkan&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;begitulah di zaman dulu&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;orang Eropa mengkapling-kapling dunia &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;seperti kita membelah-belah lepis legit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;.......................&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;mari kita hening sejenak&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;berpikir dengan hati dan logika&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;apa yang terjadi seandainya pertukaran itu tak pernah ada...&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;apakah singapura akan tetap maju seperti sekarang&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;jikalau hanya menjadi sebuah kota kabupaten di bawah propinsi kepulauan riau&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;kalau bernasib baik menjadi sebuah propinsi&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;apakah bengkulu semaju singapura sekarang&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;menjadi sebuah negara merdeka dan modern&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bersih, teratur dan kaya pula&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;II.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;dari sebuah notulen rapat BPUPKI&lt;/div&gt;   &lt;div&gt;sekelompok orang pernah mewacanakan&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;semenanjung melayu dan british borneo&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;menjadi wilayah negara baru janjian jepang ini kelak&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;kelompok lain menjawab tak perlu&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;cukup wilayah administrasi hindia belanda saja&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;lalu katanya pula, ada permintaan dari saudara-saudara kita&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;di Sabah dan tanah Malaka&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;kalau memang tidak bisa menjadi wilayah negara godokan BPUPKI ini&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;tolong dikirimkan saja pemimpin-pemimpin dari Batavia di tanah Jawa&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;sampai orang melayu bisa memimpin pula&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bayangkan kalau ini sampai terjadi..&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;III&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Hittler adalah penjahatnya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;memulai perang dunia II&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;dan kalah pula&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;semua menjadi berubah karenanya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;negara-negara baru muncul hanya berdasar wilayah jajahan siapa&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bukan  karena "nation" usalinya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;akibatnya terlahir negara bernama Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;IV.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;mari berandai perang dunia II tak pernah ada&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;......................................&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;di tahun 20-an&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;administrasi hindia belanda sudah benar rasanya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;dari sekian ribu tentara KNIL, isinya sudah inlander hampir semuanya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;pribumi sekolah semakin banyak jumlahnya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;contoh lagi&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bengkel kereta api untuk sumatera dibangun di Lahat&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;padahal jalurnya baru ada sampai linggau saja&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;baru ada lagi di Logas&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;belanda punya rencana&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;sumatera akan dihubungkan rel kereta api semuanya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;lahat konon berada di tengah-tengah&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;saya bukan hendak beromantika&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;kalau Mega lebih bagus daripada SBY&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Gusdur lebih hebat daripada Mega&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Habibie  jagoan dibanding Gus Dur&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Soeharto lebih top daripada Habibie&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Soekarno lebih bagus dibanding semuanya&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Jepang, Belanda dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;bukan..&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;sekali lagi bukan&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;saya hanya bermaksud membangunkan kita semua&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;tertutama diri saya sendiri&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-1653969923545199536?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/1653969923545199536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=1653969923545199536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1653969923545199536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1653969923545199536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/bengkulu.html' title='Bengkulu'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7765684028155791609</id><published>2007-10-09T03:38:00.000-07:00</published><updated>2007-10-09T03:54:01.077-07:00</updated><title type='text'>Yeltsin</title><content type='html'>&lt;div&gt;Dunia Dalam Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;1989.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Gorbachev, Ivan Lendl, van Basten, Tepi Barat Jalur Gaza, Najibullah Mujahiddin, tembok berlin diruntuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;1990.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Gorbachev Yeltsin, Ivan Lendl, van Basten, Tepi Barat Jalur Gaza, Najibullah Mujahiddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;2007.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Yeltsin meninggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;::::::::::::::::::::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Samar kumengerti waktu itu.  Baru kelas VI SD.  Uni Soviet bisa bubar.  Tak banyak lagi berita laporan kegiatan Gorbachev.  Yang sering terlihat hanyalah Yeltsin.  Badan besar dan muka kaku.  Beda dengan Gorbachev (kemudian aku tahu dia popular dipanggil Gorby) yang mukanya simpatik dengan bahasa tubuh menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;:::::::::::::::::::&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Yeltsin adalah orangnya.  Sadar akan kemajemukan dan persatuan semu Uni Soviet.  Padahal dia berasal dari anggota federasi terbesar.  Yang biasanya adalah kelompok yang paling inginkan mempertahankan status quo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Yeltsin tidak begitu.  Ia sadar semua ini hanyalah semu.  Satu saat semuanya pasti akan ambruk.  Lebih baik, keambrukan ini direncanakan.  Diatur sedemikian rupa, biar ia berjalan baik dan tak banyak membawa korban.  Baik itu nyawa ataupun harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Selamat jalan Yeltsin...&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;berharap ada Yeltsin baru&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;DISINI!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7765684028155791609?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7765684028155791609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7765684028155791609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7765684028155791609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7765684028155791609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/yeltsin.html' title='Yeltsin'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5210271558034043631</id><published>2007-10-08T22:48:00.000-07:00</published><updated>2007-10-09T03:37:12.115-07:00</updated><title type='text'>Nation State</title><content type='html'>&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Jangan ragukan rasa kebangsaan Indonesia saya sampai umur 22 tahun.  Ketika mendengar ada propinsi yang hendak merdeka, hati saya sangatlah dongkol bukan kepalang.  Bahkan ketika orang tua saya dicabut hak-haknya berkarir sebagai pegawai negeri sipil gara-gara isu tidak bersih lingkungan, rasa kebangsaan saya pun masih tinggi.   Paman jauh saya, sejak tahun 70 sudah mengganti kewarganegaraan mereka sekeluarga.  Ketika mereka pulang mudik di tahun 1993, hati saya masih marah betapa mereka dengan mudah mengganti kewarganegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Saya malah menyayangkan kenapa kita semua pernah berada dalam administrasi hindia belanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Sangat saya sayangkan!!   Timor Timur adalah sebangsa dengan NTT (Kupang dan Pulau Timornya).  Cuma, ketika di eropa lagi musim mengkapling-kapling dunia asia dan afrika, mereka berbeda pengkapling.  Dan akhirnya, mereka terpisah secara negara.  Walaupun Soeharto pernah berusaha nekat mempersatukan si Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Ini mungkin cerita basi dan telah diulang berulang-ulang kali.  Bahwa Sumatera lebih dekat ke Malaysia daripada tanah Jawa ini.  Cuma, ketika di eropa lagi musim mengkapling-kapling dunia asia dan afrika, mereka berbeda pengkapling.  Dan akhirnya, mereka terpisah secara negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Sampai saat ini, nation kita masih berada di tataran suku bangsa.  Nation state building sudah berada di fase leg, tanpa melewati sebuah fase log yang ciamik.  Artinya ia stagnan saja, tak berubah dari era 1908.  Baru sebatas nation state sebagai bangsa dibawah administrasi hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;Benedict Anderson boleh saja berkoar-koar tantang gejala akan terbentuk komunitas khayal sebagai trend terbaru berkebangsaan dunia.  Tapi faktanya?  Di Indonesia belum duduk sampai sekarang permasalahan ini.  Ketika menanyakan asal muasal seseorang, bertanya sesama Indonesia masih belum sama dengan orang amerika sesama mereka menanyakan hal yang sama.  Enam puluh tahun sudah kita lewati masa trial end error ini.  Dan apa yang kita dapat??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 12pt; font-family: times new roman,new york,times,serif; text-align: justify;"&gt;India, Pakistan dan Bangladesh, sebagai daerah yang pernah bermaharaja satu di London sana, tak lagi berada satu negara.  Seorang Gandhi bahkan dari awal sudah menyadari, terlalu mahal biayanya jika dipaksakan terus bersatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan giliran kita??&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5210271558034043631?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5210271558034043631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5210271558034043631' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5210271558034043631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5210271558034043631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/nation-state.html' title='Nation State'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-243687941802164522</id><published>2007-10-04T23:10:00.000-07:00</published><updated>2007-10-04T23:24:22.598-07:00</updated><title type='text'>Bung, aku kecewa!</title><content type='html'>&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;kecewaku padamu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;meyakinkan Yamin saja kau tak mampu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang tak perlunya Papua dalam Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang statebond dan federalismenya bentuk negara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kecewaku padamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang kegagalanmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menjelaskan pada pendiri negara ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang ketakutanmu pada sebuah nasionalisme chauvinistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dan berhala persatuan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kembali ku kecewa padamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang ketidakbisaanmu menahan laju&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;luapan semangat persatuan simbolik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tentang semangat kejayaan masa lalu nan semu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kecewaku padamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;FYI, saat terlalu banyak gegap gempita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;teriakan asbun en ka er i&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dari orang yang kami namakan tokoh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-243687941802164522?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/243687941802164522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=243687941802164522' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/243687941802164522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/243687941802164522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/10/bung-aku-kecewa.html' title='Bung, aku kecewa!'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7826385041271521701</id><published>2007-09-06T09:00:00.000-07:00</published><updated>2007-09-06T09:03:51.086-07:00</updated><title type='text'>ISTANBUL, Sebuah Timur di Barat...1</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rasa lelah 12 jam perjalanan udara dari Singapura langsung hilang, ketika roda pesawat Turkish Airlines menyentuh landasan Bandara Internasional Attaturk di kota Istanbul, Turki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rasa penasaran akan sebuah kota penuh sejarah ini langsung memenuhi pikiran ini.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Otakku langsung dipenuhi imajinasi berseting Turki di akhir abad ke 19 seperti dalam Novel Tariq Ali berjudul Perempuan Batu, selang setahun lalu kutamatkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kisah tentang keluarga bangsawan diplomat kesultanan Usmaniyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selepas urusan kantor, sorenya aku langsung berjalan-jalan menyusuri kota ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beruntung ada yang menjadi guide bagiku menikmati perjalanan selepas jam kerja ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alhamdulillah ini summer, matahari baru terbenam pukul 8 malam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi, aku masih sempat menikmati pemandangan siang kota dua benua ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Betapa aku berdecak kagum di tengah lalu lalang ribuan orang di Taksim Square.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagian besar terlihat berlari mengejar waktu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagian kecil terlihat duduk santai, menikmati sajian teh khas turki di lorong jalan Istiqlal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagian lagi juga larut dalam kenikmatan simbol-simbol modern.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Starbucks, Burger King dan Pizza Hut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kukagumi setiap perempuan muda turki yang terlihat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu cantik dan eksotiknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perpaduan postur eropa dan balutan kulit lembut asia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sungguh, mereka akan selalu terlihat cantik bagiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kembali aku membayangkan masa lalu dimasa kesultanan Usmaniyah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetap bersetting Novel Perempuan batu, selang setahun lalu kutamatkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sapaan Effendi dan Hanim Effendi, berseliweran di kupingku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Para perempuan dan laki-laki memakai pakaian khas turki.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berseling dengan laki-laki asing berpakaian jas atau berjubah khas arab.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagian mereka adalah para diplomat asing dan para musafir niaga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin aku akan mencoba duduk bersama mereka di sebuah kedai kopi, bercerita tentang negeri kami masing-masing.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akan kuceritakan kepada mereka tentang islam di negeriku , sebuah negeri di timur jauh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sambil sesekali meneguk Raki* atau Ouzo dari negeri tetangga mereka, Yunani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sempat aku berdoa, di Taksim Square ini kutemukan mesin waktu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Agar aku bisa melihat langsung semua suasana itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak sebatas khayal dan lamunan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;* Raki (baca rake, sejenis arak khas Turki)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7826385041271521701?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7826385041271521701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7826385041271521701' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7826385041271521701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7826385041271521701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/09/istanbul-sebuah-timur-di-barat1.html' title='ISTANBUL, Sebuah Timur di Barat...1'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7082216851860232622</id><published>2007-08-16T01:13:00.000-07:00</published><updated>2007-08-16T01:23:48.650-07:00</updated><title type='text'>Amir dan Thomas Edison</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dari kecil Amir begitu mengagumi Thomas Alfa Edison.  Itu bermula ketika Guru SD Amir bercerita tentang penemu listrik.  Walaupun ketika tiba di rumah, Ayah dan Ibunya merevisi, bahwa Edison sebenarnya adalah penemu bola pijar.  Apa pun itu, Amir tetap menganggap Edison adalah orang hebat.  Bahkan ketika di kelasnya ada anak baru, pindahan dari Jambi bernama Edison, Amir sempat iri bin bingik.  Kenapa ia dulu tidak diberikan nama Edison oleh ayah ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Menurut Amir kecil, kalau tidak ada Edison ia tidak akan bisa menonton TV seperti sekarang ini.  Menyaksikan Film Si Unyil, Dari Gelanggang ke Gelanggang terutama bagian relly mobilnya, atau menyaksikan film Flash Gordon.  Ketika listrik padam di rumahnya, kekagumannya pada Edison makin tak terbatas.  Benar-benar gelap dunia ini tanpa Ediosn, begitu kira-kira.  Di perpustakaan SDnya, Amir menemukan sebuah buku bergambar yang bercerita tentang Edison.  Di buku itu tertulis, kalau Edison memiliki puluhan paten atas namanya.  Ketika di luar, orang berbicara tentang kepatenan.  Amir dengan lantang akan berkata, dia tidak berhak disebut "paten".  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Di dunia ini yang berhak disebut paten hanyalah &lt;st1:place st="on"&gt;Edison&lt;/st1:place&gt;.  Yang lain cuma sok paten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di kelas IV SD, Amir menangis sedih ketika Guru Agama menceritakan semua orang yang bukan islam akan masuk Neraka.  Berarti Thomas Edison dan Om Sinaga tukang kredit Ibunya akan masuk Neraka. Edison adalah orang hebat.  Om Sinaga adalah orang baik.  Suka memberikan kipang kacang padanya.  Membantu ibu-ibu membelikan Panci, Seprai, Lapiak lipek dan sebagainya.  Termasuk memberikan Imsakiyah menjelang bulan puasa, yang dihisab oleh Bapak Arius Saikhi.  Amir tidak terima kalau Edison dan Om Sinaga masuk neraka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;SMP dan SMA, Amir sudah mulai melupakan Edison.  Ia lebih tertarik dengan wanita.  Juga lagu Metallica.  Sebenarnya dangdut juga.  Cuma Amir sedikit gengsi.  Soalnya di majalah HAI yang ia baca, Metallica dan kawan-kawanlah yang dianggap gaul di Jakarta.  Nike Ardilla dan Deddy Dorres aja dianggap kampungan, apalagi Kalau Dangdutnya Anis Marsela.  Begitu juga lagu Malaysia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan, Amir pun kuliah di tanah Jawa.  Sekamar dengan Bang Rajab asal Sidempuan.  Dari si Abang, Amir banyak belajar tentang dunia, di luar kuliah dan teman wanita.  Amir dan Rajab sering berbincang tentang apa saja.  Akhirnya sampai juga pembicaraan tentang Thomas Edison.  Ketika bicara tentang Edison, abang biasa saja menanggapi.  "Tak adalah itu, kalaupun si Edison tidak ada lampu pijar pasti ditemukan orang juga nya", begitu kata abang.  Paling juga tertunda 5 tahun saja.  Tapi Amir memang Minang sajati: Iyo kan nan di urang laluan nan di awak.  Baginya Thomas Edison tetap orang hebat.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Amir pun mulai terlibat dalam pergulatan pemikiran dengan Bang Rajab.  Banyak hal mereka sulit untuk sepakat.  Dari sedikit yang mereka sepakati hanyalah soal ketidakadilan konsep penghuni sorga dan neraka versi mutakhir kawan-kawan lain.  Bagi Rajab dan Amir, kebajikan seseorang kepada manusia dan peradaban adalah sorga itu sendiri.  Bukan yang lain.  Lalu Rajab dan Amir mulai berdoa, "Ya Allah. Ya Tuhan kalau memang sorga akan kau berikan kepada manusia ini.  Berikan juga untuk Thomas Edison, Abu Thalib dan Isaac Newton.  Betapa mereka telah banyak berbuat kebaikan untuk dunia ini.  Layaklah sorga-Mu itu sebagai apresiasi bagi mereka.  Kalaupun mereka tidak pernah menjadi muslim,  Bukankah mereka juga mengakui Tuhannya Ibrahim sebagai Tuhan mereka pula... Amin".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Amir dan Rajab segera menyalakan Sampoerna Mild.  Mengambil gitar, menyanyikan lagu Isabella yang lagu Malaysia.  Diteruskan dengan Manuk Dadali yang lagu Sunda.  Kemudian bercerita tentang pacar-pacar mereka.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Mereka, udah loe apain aja....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7082216851860232622?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7082216851860232622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7082216851860232622' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7082216851860232622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7082216851860232622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/08/amir-dan-thomas-edison.html' title='Amir dan Thomas Edison'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-779267321556003312</id><published>2007-08-15T01:26:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T01:32:04.316-07:00</updated><title type='text'>Pulang Kampung (Surat Untuk Seorang Perantau)</title><content type='html'>&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Assalamualaikum,&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dunsanak,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Sama seperti anda, saya juga perantau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya berada dalam barisan besar gerombol orang minangkabau yang disebut perantau.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Merantau sebenarnya adalah pilihan terakhir buat saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau boleh memilih, sebenarnya saya ingin tinggal di kampung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengurus sawah, parak gatah dan sekali-kali mencari ikan di batang sinama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun apa daya, orang tua menyekolahkan ke tanah jawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keinginan pun menjadi berubah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sisi materialistis telah muncul menjadi sebuah hal yang sangat penting.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Keinginan sederhana masa kecil telah dikalahkan oleh hasrat untuk mencari bentuk kesuksean lain berupa materi dan posisi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Telah menjadi kebiasaan saya sejak bekerja dan lulus sekolah untuk pulang kampung tiga bulan sekali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetap ada sisi romantis dalam diri ini untuk tetap mengunjungi kampung tercinta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setahun pertama, kepulangan saya ke kampung baru sebatas berkumpul dengan keluarga dan teman-teman lama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kesan pamer tak bisa dihindari.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sudah merasa paling hebat dibanding orang-orang kampung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerjaan saya hilir mudik, trus nongkrong di lapau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap menit saya benar-benar begitu menikmati sapaan “Hey, bilo tibo?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Iyo alah sanang  kini yo?”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak peduli sapaan itu benar-benar tulus atau hanya basa basi belaka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang penting saya benar-benar jadi besar kepala.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebetulan rumah kami bertetangga dengan &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;rumah wali nagari, setiap pulang selalu saya sempatkan main ke sana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di depan Pak Wali saya kembali terlihat sok hebat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya berkoar-koar menyampaikan nasehat buat kemajuan kampung ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan kembali saya tetap tak peduli, apakah pak wali benar-benar tulus mendengarkan atau tertawa dalam hati.&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Beberapa teman-teman lama pengurus karang taruna semangat pula mengajak saya berdiskusi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pernah pula saya diajak beraudiensi dengan Pak Camat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan saya diminta untuk menyusun proposal menyusun feasibility study proyek kelompok usaha ikan keramba milik Karang Taruna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Modalnya berasal dari Dinas Koperasi Kabupaten.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti biasa, proyek ini hanya berlangsung satu siklus produksi saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun tak apalah, sebagian uang pakan ikan ada dibelikan ke bola voli dan biaya organ tunggal malam hiburan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di  acara itu, saya sempatkan pula membeli singgang ayam lewat acara lelang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dunsanak,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Setelah sekian kali saya pulang kampung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya mulai bosan dengan public appereance seperti yang sudah-sudah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebosanan ini sengaja dibikin pedih oleh garah kudo seorang teman di lapau yang  katanya saya hanya mampasamak kampuang dan mampadiah parasaan urang kampuang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segera saya teringat ungkapan seorang teman di sebuah milis yang katanya, &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:black;"  &gt;orang rantau minang hanya bisa membuat orang-orang minang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;yang ada di kampung punya hasrat ikut-ikutan merantau. Atau, mereka tak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;mampu membuat orang-orang berhenti merantau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ucapan ini sangat terasa benarnya. Saat ini kampung kita benar-benar sekarat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang hidupnya cukup lumayan tinggal kelompok pegawai negeri dan birokrat lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Secara ekonomi kampung kita sudah sakit.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="IN" &gt;Dunsanak,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="IN" &gt;Saya bukanlah perantau sesukses anda, apalagi kalau  indikator kesukesan berbentuk materi dan kedudukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sangatlah jauh di bawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi di balik kecilnya peran sosial dan terbatasnya materi, saya mulai mencoba bergerak nyata di kampung saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Soal hasil, itu urusan nomor dua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap kepulangan berikut, saya mencoba melakukan sesuati yang lebih nyata. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Terutama untuk keluarga satu rumpun dulu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mulailah kami berkolam ikan dan pelihara bebek.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua tak pernah lagi melibatkan Pak Walinagari termasuk Karang Taruna juga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Duduak di lapau atau hilia mudiak keliling kampung pun sudah saya kurangi.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Saya baru sadar, kepuasan terhadap  achievement kita terletak pada hati nurani kita sendiri, bukan pada ekspose media apalagi penerimaan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-779267321556003312?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/779267321556003312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=779267321556003312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/779267321556003312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/779267321556003312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/08/pulang-kampung-surat-untuk-seoran.html' title='Pulang Kampung (Surat Untuk Seorang Perantau)'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7321727562596269432</id><published>2007-08-02T04:19:00.001-07:00</published><updated>2007-08-03T00:18:42.287-07:00</updated><title type='text'>Bilih Singkarak</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari ini aku makan bilih. Seorang kawan lama mengantarkan ke rumah. Langsung dari Paninggahan, sebuah nagari di tepian barat danau singkarak. Setelah sebulan sebelumnya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Ia pun bercerita, kalau hendak pulang kampung. Tak lupa kuminta dititipkan bilih goreng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku kembali ke masa kecil di Paninggahan, dan nagari-nagari lain di tepian danau singkarak. Dua belas tahun awal kehidupan kuhabiskan disini. Dua adikku dilahirkan di Singkarak, yang bungsu lahir di Paninggahan. Aku sendiri lahir di Sulit Air. Danausingkarak begitu mempengaruhi masaku tumbuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyak kenanganku di Paninggahan. Sebagian besar daerah ini sudah aku jelajahi. Mulai dari gando di sisi timur sampai Subarang di perbatasan Malalo. Ke selatannya juga aku sudah pernah. Daerah kapalo aia dan gagauan. Kalau diteruskan kita bisa sampai ke kawasan hutan tempat Gamawan Fauzi pernah nyasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang masih kuingat adalah alahan di tepian danau singkarak. Alahan adalah tempat nelayan danau menangkap bilih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya alahan adalah muara banda atau sungai kecil di danau singkarak. Ikan bilih biasanya sangat senang berkumpul di muara banda ini. Mungkin karena kandungan oksigen air yang masuk lebih tinggi daripada air di tengah danau. Biasanya subuh-subuh nelayan danau menangkap ikan. Alahan ini akan mereka bendung pada subuh. Dan ikan yang sudah ada akan terperangkap. Mereka menggunakan tangguak untuk menangkapnya. Biasanya mereka memakai sejenis daun yang bisa membuat ikan lemas. Mirip-mirip proses hibernasi pada udang ketika hendak diekspor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah beberapa kali menemani ayah ke alahan di subuh hari. Ayah langsung ke alahan kalau hendak membeli bilih dengan jumlah besar. Minimal 3 ember. Biasanya kalau ada acara jamuan besar di kantor ayah. Pernah pula kita subuh-subuh ke alahan karena ada permintaan dari Gubernur. Beliau mau mengadakan jamuan di Padang buat pejabat-pejabat Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu menikmati proses penangkapan ikan di alahan ini. Bangun subuh. Naik motor dibonceng ayah. Melihat kesibukan orang di subuh hari. Memakai sebo hitam dan lampu senter. Berendam dalam air. Lalu menangguk bilih. Kemudian bilih mulai dicurahkan ke dalam ember-ember milik pedagang. Siap untuk dikirimkan ke pakan-pakan di wilayah Solok dan sekitarnya. Bau anyir tak pernah menggangguku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang aku lihat hanyalah kilatan putih bilih di temaramnya fajar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sungguh, aku rindu masa-masa itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran 2002, saya ke Paninggahan. Ayahku ingin kesana katanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Katanya disanalah bagian paling mengesankan dalam karir kerjanya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ternyata selama 7 tahun diparkirkan karena dianggap anak PKI, ayah selalu merindukan Paninggahan. Mungkin ayah menganggap, hadiah naik haji yang diberikan negara banyak disumbangkan oleh periode tugasnya di Paninggahan. Jadi sebelum berangkat haji, kita berkunjung ke Paninggahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang berubah di nagari ini. Sapaan masyarakatnya masih khas. Rumah-rumah di sepanjang jalan utama masih terlihat padat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di Jorong Subarang kami mampir di rumah teman ayah. Rumahnya dekat dari danau. Danaunya bersih karena jauh dari rumah penduduk. Dari perkampungan ke danau, kita harus melewati persawahan lebih dulu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Disitu dulu kita sering berenang. Mencari bekas sendal jepit. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Diberi layar. Berharap dibawa riak sampai ke Ombilin di seberang sana. Menyapa penumpang bus yang lagi makan di Rumah Makan Angin Berembus....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;* Pernah diposting di milis RantauNet&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7321727562596269432?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7321727562596269432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7321727562596269432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7321727562596269432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7321727562596269432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/08/bilih-singkarak.html' title='Bilih Singkarak'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7193615598535944964</id><published>2007-07-26T07:07:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:11:15.013-07:00</updated><title type='text'>Alang Alang Darek</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang eskimo punya banyak nama untuk varian salju.  Orang-orang bermakan pokok beras, juga punya bermacam-macam nama bagi benda-benda yang dinamakan orang inggris hanya "rice".  Orang China juga punya hal yang sama untuk makhluk berkategori bambu.  Begitu juga orang minang.  Bambu punya banyak varian yang berkata tunggal.  Mulai dari rabuang, talang, aua, pariang dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pariang adalah sejenis bambu yang biasa yang sering dijadikan bahan dasar membuat layang-layang.  Terutama alang-alang darek.  Selanjutnya akan saya sebut saja layangan saja.  Pariang adalah sejenis bambu berukuran sedang, berbuku panjang dan memiliki kelenturan tinggi.  Sehingga, pariang sangat cocok dibuat sebagai layangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung saya pariang tidak banyak tumbuh, beda halnya dengan batuang yang bisa ditemui di banyak tempat.  Di pekarangan belakang rumah saya sekarang saja, ada rumpun batuang.  Seingat saya pariang hanya tumbuh di tiga tempat.  Pertama di rumah bako saya, dipinggir sawah godang.  Yang kedua di daerah sawah laweh, dan ketiga di kawasan sawah bungo.  Enaknya tinggal di kampung, kita tak perlu membeli pariang perbekal layangan.  Cukup meminta pada yang punya, kita sudah boleh langsung menebang pariang.  Kalau pun tidak meminta, juga tidak apa-apa.  Pariang sepertinya sudah menjadi milik bersama.  Beda halnya dengan ubi kayu, yang secara konvensi diakui sebagai milik yang punya tanah atau yang menanam.  Tapi pada prakteknya, anak muda seperti bersaing dengan babi hutan untuk menguasai ubi kayu yang ada di sebuah kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juni-Juli adalah bulan liburan sekolah.  Biasanya kita menyebutnya libur panjang, pakansi panjang dan sebagainya.  Di masa kecil, saya sangat menanti-nantikan masa liburan ini, karena saya pasti akan pulang kampung.  Ini adalah masa yang indah, biasanya bulan ini jatuh pada musim kemarau.  Padi telah selesai dipanen, pohon karet sedang berganti daun, petani libur menyadap.  Sungai di kampung kami pun sedang sangat bagus-bagusnya buat dijadikan tempat mandi.  Airnya tidak terlalu besar dan keruh.  Jadi, sungai akan selalu ramai sepanjang hari.  Mulai dari anak-anak sampai urang nan jolong gadang, bahkan para gaek yang lagi marando tagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan yang cukup digemari di periode ini adalah main layangan.  Ada beberapa tempat yang diminati sebagai arena bermain layangan.  Yang pertama lapangan bola di tengah kampung.  Lalu lapangan bola biaro dan ketiga di sawah gadang.  Saya belajar membuat layangan pada Mr Buyuang Ladang, pada sebuah liburan kenaikan kelas SD di tahun 1988.  Awalnya masih membuat alang-alang maco.  Benang yang dipakai juga masih benang cap jaguang.  Bukan benang nilon seperti yang lain.  Tahun berikutnya, barulah saya diajarkan membuat alang-alang darek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah SMP, saya sudah cukup lihai membuat layangan.  Bersama dua orang mamak, saya mulai menjual layangan.  Biasanya kami pasarkan pada anak-anak pegawai negeri di kampung kami.  Mulai dari anak Pak Camat, Pak Polisi sampai anak guru-guru.  Kalau anak kampung kami agak gengsi membeli layangan.  Kalaupun tidak bisa, mereka cukup minta dibuatkan ke buyuang ladang.  Pulangnya diberikan sebungkus Comodore atau Gudang Garam Filter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, kami mulai melakukan ekspansi bisnis layangan.  Wilayah kampung dirasa sangat tidak cocok untuk bisnis ini.  Penetrasi pasar sudah sangat tinggi, pemain juga banyak.  In term of Quality, juga kami kesulitan bersaing.  Kami mulai membidik pasar baru.  Kali ini tidak lah tanggung-tanggung, langsung menyerbu ibukota propinsi.  Cuma kami tidak menjual dalam bentuk barang jadi, yang kami bisniskan adalah bahan baku.  Yaitu: Pariang!  Seminggu dalam liburan, kami pergi ke Padang buat berjualan pariang.  Pariang kami potong dan belah sepanjang dua ruas, seukuran bilah buat pagar.  Untuk keperluan ini, kami membuat deal dengan keluarga bako saya dalam pengadaan pariang ini.  Saya lupa harga per batangnya.  Yang jelas, kami ketika itu menjual sebilahnya di Padang sebesar 1500 - 2000 rupiah.  Seminggu di Padang, kami bisa membawa uang 2 jutaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau dunsanak pernah tinggal di Wisma Indah III dan IV.  Atau yang tinggal di komplek Jondul Rawang di era 1990 - 1995, mungkin kita pernah berbisnis.  Dan kala itu, saya cukup senang berbisnis dengan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UBGB&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://ubgb.blogspot.com/"&gt;http://ubgb.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7193615598535944964?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7193615598535944964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7193615598535944964' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7193615598535944964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7193615598535944964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/07/pariang.html' title='Alang Alang Darek'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7688800587472176411</id><published>2007-07-11T18:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T18:51:56.649-07:00</updated><title type='text'>Adat dan Estetika 2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Martin Luther pernah berselisih paham hebat dengan seorang tokoh lain penentang utama kepausan Roma. Berdasar pada teori musuh dari musuhmu adalah sekutumu, tak seharusnya mereka berselesih sebegitu hebatnya.  Mereka menjadi berkelahi sebegitu hebatnya hanya karena tidak sepakat soal pengandaian roti dan anggur.  Padahal semua orang tahu, roti ya roti, anggur ya anggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak hendak menjadi seorang Martin Luther dalam adat minang.  Tak perlu nama ini terpaku dalam sejarah peradaban minangkabau ini.  Saya hanya ingin menjadi paku kecil saja.  Tentu sebagian kita pernah membeli secara knock down sebuah rak buku atau rak TV bermerek Olympic dan sejenisnya di toko serba ada.  Ketika merangkai kembali potongan-potongan rak tersebut di rumah, kita akan berhadapan dengan sekrup dan paku-paku.  Baik besar ataupun kecil.  Biasanya bagian terakhir yang kita pasang dan paling gampang pula adalah triplek penutup sisi belakang.  Direkatkan ke bingkai-bingkai utama dengan paku-paku kecil.  Itulah mimpi saya: menjadi sebuah paku kecil di belakang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali soal adat dan estetika, bagi saya memang sudah begitu.  Soal hormat kepada orang tua, membantu yang susah, apalagi memandang air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tak menjadi minang pun seyogyanya kita memang sudah harus begitu.  Saya yakin dan percaya, masyarakat aztec atau suku inca juga punya nilai yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini soal lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini soal ulayat, tata cara mengalokasikan tanah garapan oleh mamak kapalo kaum.  Kebiasaan acara baralek, batagak pangulu atau tata cara berdukacita dan seterusnya.  Apalagi hanya acara barundiang salasai makan, bajalan salapeh arak, soal tempat duduak urang sumando, induak-induak yang hanya mengurus hidangan saja.  Lalu ketika keputusan sudah bulat, mamak kepala kaum berteriak ke induak-induak menyuarakan hasil keputusan.  Disanalah ia menjadi estetika.  Disana juga ia menjadi taplak meja dan pot bunga.  Model rumah juga bisa.  Kalau masih senang, silakan dipakai.  Kalau tak senang lagi, cari model baru.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7688800587472176411?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7688800587472176411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7688800587472176411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7688800587472176411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7688800587472176411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/07/adat-dan-estetika-2.html' title='Adat dan Estetika 2'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-6142946570787930265</id><published>2007-06-28T05:20:00.000-07:00</published><updated>2007-06-28T18:47:41.990-07:00</updated><title type='text'>Mancigok</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi sebagian orang, cerita ini agak sedikit ofensif&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Sebagian lelaki minang yang besar di kampung, dimasa remajanya pasti punya pengalaman mengintip lawan jenisnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baik sengaja direncanakan atau sengaja karena ada kesempatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baik mengintip lawan jenis mandi atau mengintip sebeang kawan sekelas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terutama, di masa pemandian umum masih ramai digunakan dan ketika di sekolah umum belum banyak perempuan berkerudung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Saya punya pengalaman unik soal cigok-mancigok ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika saya tinggal di pinggiran Danau Singkarak, walaupun di rumah sudah ada kamar mandi dan sumur pompa, saya masih sering dengan kawan-kawan mandi di tepian danau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Disana disebut pasia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebenarnya tempat mandi laki-laki dan perempuan terpisah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Laki-laki berada di sisi kanan dan permpuan di sisi kiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dua sisi ini dipisahkan oleh sebuah surau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cuma, yang namanya anak kecil jolong gadang, sering juga sekali-kali berenang dekat-dekat tepian perempuan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sinilah proses pengintipan dimulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Di kampung saya lain lagi, pemandian umum ada dua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertama adalah mata air kecil di dasar lereng, kami terbiasa menamakan sumua. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Biasanya terletek di pinggir sawah. Tempat kedua adalah tapian batang sinama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada bermacam-macam tapian yang saya kenal, yakni tapian godang, tapian aia tajun, tapian muro dan seterusnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di sumua ini, biasanya sudah diperuntukkan dengan jelas antara sumuanya laki-laki dan sumuanya perempuan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kecuali untuk beberapa sumua kecil, biasanya bergantian saja mandi disana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau di tepian batang aia, pemisahan tempat mandi laki dan perempuan tidak begitu jelas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalaupun ada, pandangan antar tepian ini tidak begitu tersangkut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita masih bisa melihat, siapa saja yang mandi di tepian perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Di kampung, yang mandi telanjang bulat hanyalah anak-anak kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Paling besar mungkin kelas 3 SD.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Usia rata-rata orang kampung disunat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang lain mandi menggunakan kain basahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau laki-laki menggunakan celana pendek.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa orang, ada juga yangg menggunakan celana kolor segitiga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biasanya bermerk Hings atau Swan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perempuan menggunakan kain basahan berupa sarung, yang disarungkan di bagian atas dada.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walaupun tertutup sopan, tentu saja masih menyisakan sedikit ”sebeang” objek intipan laki-laki kecil jolong gadang atau para gaek-gaek gata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebeang-sebeang ini ditambah juga oleh aliran sungai dan gerak si perempuan mandi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa ada juga yang menggunakan langsung daster/baju lalok untuk mandi di sungai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Mengintip yang mandi di sungai jauh lebih mudah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cukup pura-pura berenang ke tengah, bermaksud mencari arus air yang cukup bersih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu mulailah mencuri-curi pandang ke tepian mandi perempuan untuk melihat sebeang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa orang memang ada yang sengaja mengintip dari balik semak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biasanya dilakukan oleh laki-laki marando lamo atau gaek-gaek gata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya dan kawan-kawan tak pernah melakukan metode pengintipan seperti ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Amit-amit...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ini cerita nyata lain lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kejadiannya ketika saya kelas 3 SMP dan sudah mimpi basah pula.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sedang libur panjang di kampung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suatu siang, saya dan kawan-kawan merencanakan mencari pauah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mencari pauah ini adalah cerita menarik juga, nanti akan saya ceritakan suatu saat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kembali ke topik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kali itu, kami berniat mencari puah di sebuah tempat bernama ujuang tanjuang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk ke sana, harus melewati &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persawahan bernama sawah ilia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di tengah perjalanan, kami melihat seorang perempuan muda sedang berjalan sendiri menuju sebuah dangau sawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Let’s say namanya Dewi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kawan saya berbisik, itu si Dewi sedang mau pacaran tuh, tunggu sebentar lagi akan lewat pacarnya Dewa (nama palsu juga).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu kami bersembunyi di balik semak kebun kopi yang tak terurus.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ternyata benar, sekitar lima belas menit berselang sang arjuna Dewa terlihat berjalan sendiri menuju tempat yang sama dengan Dewi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kami menunggu beberapa saat sambil menyusun rencana pengintipan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lima belas menit setelah Dewa, kami pun bergerak menuju tempat yang sama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mulailah kami bergerak pelan, tanpa menimbulkan derak bunyi apa pun. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mulai merapat ke dinding dangau sawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan memang, Dewa dan Dewi melakukan sebuah pekerjaan purba yang seharusnya disakralkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kami mengikuti adegan ini selama 5 menitan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Takut ketahuan, kami pun segara kabur meninggalkan dangau ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Melanjutkan mencari pauh, sambil terus membicarakan adegan 5 menit tadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jujur, waktu itu terangsang juga...;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-6142946570787930265?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/6142946570787930265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=6142946570787930265' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/6142946570787930265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/6142946570787930265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/mancigok.html' title='Mancigok'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-1027223510361014344</id><published>2007-06-27T05:29:00.000-07:00</published><updated>2007-06-27T05:34:04.388-07:00</updated><title type='text'>Adat Hanyalah Estetika</title><content type='html'>Bagi sebagian orang, cerita ini agak sedikit ofensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya adat hanyalah estetika.  Seperti memilih warna taplak meja dan pot bunga.  Kalau suka, tarohlah disana.  Tak suka, biarkan saja.  Tidak ada konsekuensi apa-apa.  Tak membuat masuk penjara, apalagi masuk neraka.  Karena yang saya tahu, kalau takut dengan penjara ikuti hukum negara.  Kalau urusan dengan neraka, ada namanya hukum agama.  Hukum adat?  Sekali lagi hanyalah estetika belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal estetika adalah bicara tentang sebuah rentetan waktu.  Konon dulu dulu perempuan cantik adalah yang bongsor.  Sekarang?  Perempuan sensitif ditanya berat badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mengutamakan fungsi, silakan minimalis.  Minimalis juga boleh buat yang beralasan budget rendah.  Yang mau ribet dan compilcated, juga silakan.  Memang sih, menjadi pusat perhatian ketika kita minimalis di tengah lingkungan complicated dan ribet. Tapi kita boleh kok teriak who's care!!  Peduli amat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagi saya adat ini adalah estetika.  Sekarang sih, saya masih melihat sebagian adat kita masih indah.  Tidak tahu nanti, apakah masih indah menurut saya.  Kalau pun tak berasa indah, saya tinggalkan saja.  Atau saya pragmatis memilih saja, yang masih indah saya pakai.  Yang menurut saya sudah tak indah, saya tinggalkan saja.  Toh zaman selalu dinamis berubah.  So what gitu loh!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;note:&lt;br /&gt;di Tahiti, air juga mengalir ke bawah&lt;br /&gt;disana yang beginian, bisa jadi disebut adat nan sabana adat juga&lt;br /&gt;lalu apa bedanya??&lt;br /&gt;plis deh... hari gini masih berlindung dibalik adat nan ampek&lt;br /&gt;lagian hari gini ngapain masih berkelahi ngomong adat&lt;br /&gt;cape  deh...&lt;br /&gt;adat cuma estetika kok! gak jauh beda ama taplak meja dan pot bunga di atasnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-1027223510361014344?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/1027223510361014344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=1027223510361014344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1027223510361014344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1027223510361014344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/adat-hanyalah-estetika.html' title='Adat Hanyalah Estetika'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-3679737052661708612</id><published>2007-06-25T05:25:00.000-07:00</published><updated>2007-06-25T07:16:56.176-07:00</updated><title type='text'>Palangai dan Kabut Pagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sendirian menuntun sepeda.  Menembus kabut pagi menyadap karet.  Suatu ketika. Pada sebuah masa di tahun 80an.  Ketika di kampungku: pagi hari selalu berkabut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memanggilnya Pak Palangai.  Anas gelar Sutan Palangai, sampai saat ini aku tidak tahu palangai itu artinya apa.  Sedari aku kecil sampai sekarang, tak banyak perubahan garis wajahnya.  Gaya hidupnya juga masih sama.  Memakai kemeja bergaya safari, berwarna tanah.  Peci yang agak kemerahan, dan sebuah sepeda tua.  Mendorong sepeda tua, melewati jalan kecil di samping rumah nenek.  Menyapa kami yang sedang berkumpul.  Kadang ia juga berhenti sebentar, ngobrol dengan ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah teman sepermainan ayahku dari kecil.  SR mereka tamatkan bareng.  Di desa kami, tahun itu hanya 8 orang yang sampai kelas terakhir SR.  Salah satunya Pak Palangai.  Kalau ayahku meneruskan ke SMP, tidak begitu dengan Pak Palangai.  Ia hanya berijazah SR saja.  Baginya sudah cukup.  Kalau kata ayahku lain lagi, Pak Palangai merasa percuma meneruskan ke SMP ataupun SMEP, kalau tidak akan meneruskan ke SMA.  Ia pesimis dengan alasan latar belakang ekonomi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Palangai dan keluarganya tidak tinggal di pusat kampung.  Ia tinggal di pelataran sawah.  Tepatnya Sawah tabek.  Disana ia tinggal dengan isteri dan kedua orang anak perempuannya.  Hari-harinya sangat biasa.  Pagi menyadap karet, siang kerja sawah dan kebun palawija.  Malamnya, ia akan pergi ke pusat kampung untuk duduk di lapau.  Menonton TV bersama-sama warga lain.  Beberapa hari sekali, Pak Palangai mengambil aki yang sedang dicharge buat keperluan ia menyetel TV dan Radio di rumah sawahnya.  Di hari pakan, Ia punya kesibukan lain.  Yakni, mencukur rambut di pasar.  Peralatan sederhana, gunting, alat cukur botak manual, kaca ukuran sedang.  Di hari pekan ini pula Pak Palangai punya pakaian khusus.  Ia memakai baju batik biru korpri.  Entah darimana Pak Palangai mendapatkan kemeja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika listrik PLN menerangi nagari kami, jumlah warga yang tinggal di pelataran sawah semakin berkurang.  Mereka berbondong-bondong ke pusat kampung (kami biasa menyebutnya koto).  Pak Palangai tidak ikut-ikutan.  Ia tetap memilih tinggal di sawah.  Tetap setia dengan lampu cogok dan TV bersumber listrik aki.  Sekali-kali ia menyalakan petromaks bagi warga kampung kami disebut stronkiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kami pulang kampung.  Setelah mengunjungi rumah ibunya (nenekku-pen), ayah akan mengunjungi Pak Palangai.  Aku sering diajak menuruni bukit kecil menuju sawah Pak Palangai.  Dan Pak Palangai sudah tahu, kalau yang datang adalah aku dan ayah.  Kalau ia sedang di dalam rumah, ia akan segera keluar.  Begitu juga, kalau ia sedang ada di kebun atau sawah.  Pekerjaanya langsung ditinggalkan.  Ayah pun segera ambil posisi di balai-balai depan rumah sawah Pak Palangai.  Aku biasanya ke dapur, ngobrol dengan isterinya sekaligus meminta dipetikkan kelapa muda.  Disitulah aku belajar mengupas kelapa muda, dimana teman-temanku di Jakarta ini jarang yang bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah sepertinya sangat menikmati setiap obrolan dengan Pak Palangai.  Banyak yang mereka bicarakan.  Dimulai dari situasi keluarga besar mereka, lalu situasi nagari kami, sampai pada situasi negeri ini.  Komunikasi ini berlangsung dua arah.  Pak Palangai sepertinya bisa mengimbangi pembicaraan ayah, padahal dilihat dari pendidikan formal, mereka cukup terpaut jauh.  Kalau nangkanya ada yang berbuah dan matang, ayah pasti akan meminta nangka dari kebun Pak Palangai.  Kata ayahku, nangka Palangai sangatlah beda dengan dengan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ayah sudah bermobil dinas kijang merah dan kijang super, tradisi ke rumah Pak Palangai terus berlanjut.  Aku juga sudah mulai terlibat dengan percakapan mereka.  Di situ aku tahu, pengetahuan pak palangai cukup luas untuk ukuan seorang yang tinggal di pelataran sawah.  Analisanya terhadap sebuah isu besar, selalu menarik untuk ditelaah.  Aku masih ingat, ketika ribut-ribut pemilihan gubernur di masa periode kedua Hasan Durin, Pak Palangai bilang ke ayahku pasti Durin terpilih lagi.  Katanya, untuk sebuah alasan tertentu Durin cukup mantap dalam mengelola konflik.  Rudini tak akan cukup untuk mengganjal Durin.  Saya bingung, darimana Pak Palangai bisa tahu hal-hal seperti ini.  Kemudian aku sadar, Singgalang hasil pinjaman di kantor kepala desa, RRI Programa Padang gelombang 75, dan TVRI sudah cukup memberikan informasi pada beliau.  Informasi ini telah menjadi input yang cukup bagi analisa di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ayahku kehilangan haknya untuk menduduki jabatan struktural karena persoalan bersih lingkungan, Pak Palangai lah yang menasehati ayah untuk pulang kampung saja.  Berkebun dan memelihara tabek, bagus buat obat stress katanya.  Ia juga yang rutin menyambangi ayah, hanya sekadar untuk bercerita di rumah.  Ia juga yang mendorong ayahku, agar aktif di kegiatan publik di nagari kami.  Padahal, Pak Palangai tak pernah sekalipun ikut dalam strukutr formal lembaga desa.  Pak Palangai yang paling aktif memunculkan semangat dan percaya diri ayah dan kami sekeluarga.  Ketika aku libur kuliah dari tanah jawa, Pak palangai pula yang memberikan semangat agar aku tetap fokus dalam sekolah.  Urusan kampung dan keluarga, janganlah terlalu dipikirkan.  Kami yang di kampung ini sudah terbiasa mengelola seso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun setelah itu -tepatnya di era awal Megawati-, ayahku kembali memiliki hak karir birokratnya. Menjadi seorang eselon III di kantor Bupati.  Pak Pelangai kembali ke posisi awal, ia kembali larut di sawah dan kebunnya.  Ke rumah kami, ia juga menjadi jarang.  Takut mengganggu ayahku alasannya.  Katanya bolak balik sejauh 60 kilo sehari, pasti membuat ayahku capek.  Paling sesekali, isterinya mengantarkan nangka ke rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ayah pensiun di awal tahun ini, Pak Palangai mulai sering ke rumah.  Ia banyak membantu ayah dan mamakku dalam meremajakan kebun karet satu setengah hektar kami.  Ia selalu menyisihkan seminggu sekali mengunjungi sawah kami.  Pak Palangai dan isterinya selalu hadir dalam proses luluak, batanam, basiang, manyabik tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Palangai.  Sedikit dari orang yang kukenal tanpa pamrih.  Begitu menikmati kesederhanaan.  Mungkin, baginya ikhlas melepas semua harapan adalah sebuah kebebasan yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==&lt;br /&gt;Minggu lalu, sebuah sms memberi tahu&lt;br /&gt;Tek Ju, isteri Pak Palangai telah meninggal dunia&lt;br /&gt;Perempuan sederhana tempatku sering minta dipetikkan kelapa muda&lt;br /&gt;Berangkat tenang menuju alam sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Palangai memiliki dua anak perempuan&lt;br /&gt;Yang pertama, bekerja sebagai guru di nagari kami&lt;br /&gt;Yang kedua, saat ini bekerja di sebuah Bank Swasta di Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-3679737052661708612?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/3679737052661708612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=3679737052661708612' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/3679737052661708612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/3679737052661708612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/palangai-dan-kabut-pagi.html' title='Palangai dan Kabut Pagi'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-94106489909928999</id><published>2007-06-12T23:54:00.000-07:00</published><updated>2007-06-13T00:02:00.098-07:00</updated><title type='text'>Stasiun Doksan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Menelusuri dinginnya kota.  Menuju Stasiun Doksan.  Satu kilo rasanya tidak terlalu jauh.  Dulu waktu SMP, aku biasa berjalan 4 kilo sehari dari dan menuju sekolah.   Disini, orang lain juga banyak yang berjalan kaki.  Malah banyak yang pakai dasi dan jas pula.  Beruntung, tempat umum ada huruf latinnya.  Bertanya pada penduduk sering percuma.  Sedikit yang mau berbahasa Inggris.  Entah karena tidak bisa, atau karena malas berbahasa inggris.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Itu dia stasiun Doksan.  Beli tiket 1000 won, sudah bisa kemana saja.  Untuk sekali jalan tentunya.  Melihat ke peta.  Sembilan stasiun selepas ini adalah stasiun Seoul City .  Tempatku turun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maksud hati hari ini hendak melihat Museum Perang Sipil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berdiri menunggu.  Sekaligus bertanya kereta mana yang harus kunaiki.  Sebuah kereta peluru lewat ke arah yang lain.  Lewat saja tidak berhenti.  Itu kereta tujuan Busan.  Melaju cepat seperti peluru.  Kagum bercampur bengonglah, si sijunjung bersuku kampai ini.  Pertama kali ia melihat kereta secepat ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Lima menit, kereta yang kutunggu tiba.  Segera naik. Mulai menghitung stasiun biar nanti tak terlewat.  Kucoba menyapa penumpang lain untuk bertanya.  Sayang, semua berlangsung dengan bahasa tarzan.  Kok bisa ya, negara ini bisa maju sementara yang bisa bahasa inggris sedikit.  Selepas 4 stasiun, kereta mulai masuk ke bawah tanah.  Ini sih bukan pengalaman pertama.  Pernah juga nyobain dulu di negeri singa.  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Entah di stasiun mana, seorang lelaki naik.  Sedikit kumal di banding penumpang lain.  Berdiri di depanku.  Mungkin karena melihat aku membawa peta dengan muka bingung, ia bertanya aku dari mana.  Alhamdulillah, ia bisa berbahasa Inggris.  Awalnya, ia menyangka aku dari Philipina.  Setelah kubilang dari Indonesia, ia mengangguk-angguk.  Ia seperti ngeledek ketika menanyakan, apakah di Indonesia ada subway.  Sudah begitu, ngomongnya keras dan bau alkohol  pula.  Tak berminat lagi aku bicara dengannya.  Cuma kuingatkan, "kalau sampai stasiun city kasih tau yah!"&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Stasiun Seoul City.  Aku pun turun.  Besar juga ternyata.  Belasan pintu keluar dengan berapa lantai juga.  Aku baru sadar.  Kota ini adalah kawasan greater area kedua terbesar dunia.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Nomor satunya &lt;st1:city st="on"&gt;Tokyo&lt;/st1:City&gt; , lalu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Mexico City&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; .  &lt;st1:state st="on"&gt;New  York&lt;/st1:State&gt; persis di bawah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; ini.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pantesan stasiun utamanya besar sekali.  Aku harus keluar di pintu no 12.  Dan mulailah melihat denah stasiun.  Udara dingin kembali menyapa.  Sebatang Sampoerna Mild mungkin bisa menghangatkan sejenak.  Dan mulailah berjalan mencari pintu keluar, dan ternyata cukup jauh.  Mesti melewati beberapa kali tangga dan beberapa lorong.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Keluar pintu, segera terlihat sebuah bangunan besar.  Museum Perang Sipil Korea.  DI depannya berkibar puluhan bendera.  Selain bendera korea dan amerika, ada beberapa bendera negara eropa.  Mungkin ini negara-negara yang membantu Korea Selatan dalam menghadapi saudaranya di utara sana.  Beberapa patung terdapat di halaman.  DI samping-sampingnya terdapat berapa pesawat tempur dan angkut militer.  Juga terdapat banyak tank-tank militer.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Aku pun masuk ke dalam.  Melihat diorama-diorama, foto-foto dan tulisan tentang perang korea.  Tentu saja dari kacamata selatan.  Di dalam banyak juga turis bule.  Dari yang sudah uzur sampai yang masih balita.  Mungkin veteran perang yang hendak bernostalgia, sekalian mengajarkan anak cucu tentang perang  di semenanjung ini.  Perhatianku kembali difokuskan ke sejarah perang ini.  Lumayan banyak yang bisa didapat tentang perang sipil saudara ini.  Perang yang secara resmi belum berakhir sampai hari ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;kamsia hamida..&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-94106489909928999?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/94106489909928999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=94106489909928999' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/94106489909928999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/94106489909928999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/stasiun-doksan.html' title='Stasiun Doksan'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-2752505242801998529</id><published>2007-06-12T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T23:21:18.839-07:00</updated><title type='text'>Tanah Ulayat dan de Soto</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saya tidak pernah mempelajari ekonomi secara khusus.  Pengetahuan saya soal ekonomi sangatlah terbatas, mungkin mendekati nihil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendengar nama Hernando de Soto sekilas.  Terutama menyangkut pemikirannya soal kemiskinan di dunia ketiga.  Yang katanya disebabkan oleh pola kepemilikan lahan tidak jelas.  Lebih banyak secara informal. Ini menyebabkan, akses ke permodalan tidak pernah ada.  Kata de Soto pula, Jepang dan Amerika maju karena sistem kepemilikan lahan mereka jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama mendengar gagasan ini, saya langsung ingat pada sistem tanah ulayat pusako tinggi di kampung saya.  Dan menurut saya -yang muda mentah ini- sangatlah tidak jelas.  Namanya juga tanah komunal, idealnya memang untuk kepentingan komunitas.  Tapi prakteknya, subjektivitas penggarapan pasti akan selalu ada.  Mamak kepala kaum, mamak kepala waris, para tungganai atau apapun istilahnya tetap akan sulit 100% objektif dalam pendistribusian tanah garapan.   Apalagi jika dalam sebuah suku sudah terbagi dalam paruik-paruik, dimana distribusi orang dan lahannya juga akan sulit merata pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar de Soto dan melihat kondisi paruik, suku dan nagari saya.  Saya jadinya manggut-manggut.  Pantasan kita tidak pernah maju di bidang ekonomi.  Di tanah jawa, juga begitu.  Kata kawan saya yang orang jawa, kepemilikan tanah juga masih kabur.  Katanya akibat culture stelseel zaman dulu.  Diaman setelah itu hanya meninggalkan istilah tanah negara, garapan, sultan grant, girik dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya ingin bertanya kepada anggota milis ini tentang pendapat Mr de Soto ini dan tanah ulayat kita.  Maklumlah, saya tak mengerti ekonomi.  Tak paham hukum agraria.  Yang saya pahami, hanyalah saya tak punya uang.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Dunsanak di kampung banyak yang kere pula.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-2752505242801998529?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/2752505242801998529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=2752505242801998529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2752505242801998529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2752505242801998529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/tanah-ulayat-dan-de-soto.html' title='Tanah Ulayat dan de Soto'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7724054556537021182</id><published>2007-06-07T06:05:00.000-07:00</published><updated>2007-06-07T06:07:15.784-07:00</updated><title type='text'>Sejenak Melepaskan Keminangkabauan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin kita memang harus berpikir untuk secara bersamaan menjadi amnesia bahwa kita adalah orang minang.  Melepaskan embel-embel orang minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon katanya, kita baru bisa merasakan pentingnya sesuatu saat kita kehilangan sesuatu tersebut.  Kali ini kita mencoba sejenak menghilangkan keminangan kita.  Lalu kita renungkan, bagaimana kita sekarang tanpa embel-embel minangkabau.  Apakah berbeda nyata pengaruhnya kepada diri kita, keluarga, RT/RW, Kelurahan, dan seterusnya sampai kepada semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pelupaan sejenak ini, kita lakukan dengan pendekatan top down.  Kita minta tolong Pak Yusuf Kalla mengatakan pada orang rumah beliau, jangan mengaku orang minang dulu.  Sehingga beliau otomatis, sementara tidak menjadi orang sumando.  Pak Azwar Anas kita minta melepaskan atribut minangkabaunya lengkap dengan gelar Datuak Sulaiman beliau.  Lalu dilanjutkan oleh Pak Hasan Basri Durin, Abdul Latief, dan seterusnya.  Seratusan Anggota DPR diminta untuk segera mengeluarkan press release, yang isinya bantahan sementara tentang gosip selama ini soal keturunan minang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini terus berlanjut kepada organisasi-organisasi minang di rantau.  Membekukan diri untuk sementara.  Kalau yang sudah punya sekretariat, sementara dijadikan saja dulu warung pecel lele atau warung pembuatan anek juice.  Kemudian berlanjut pada individu-indiviud minangkabau.  Kalau tetangga dan teman di kantor menanyakan orang mana, jawab saja sekenanya.  Jangan lagi menjawab mengaku orang padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...................................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah melepaskan keminangan ini mengganggu  kita?&lt;br /&gt;Berapa orang di antara kita yang mendadak gila karena tidak menjadi minang lagi?&lt;br /&gt;Berapa orang yang jatuh miskin?&lt;br /&gt;Yang kena TBC, Eksim, Panuan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kita bikin dua buah lingkaran perlambang himpunan.&lt;br /&gt;Tak boleh ada irisan!&lt;br /&gt;Lingkaran A: orang minang&lt;br /&gt;Lingkaran B: orang tak minang pun tak apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7724054556537021182?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7724054556537021182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7724054556537021182' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7724054556537021182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7724054556537021182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/sejenak-melepaskan-keminangkabauan.html' title='Sejenak Melepaskan Keminangkabauan'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5365567691949949289</id><published>2007-06-06T05:53:00.000-07:00</published><updated>2007-06-06T05:57:00.696-07:00</updated><title type='text'>Shalat Jumat dan Tebak-Tebak Buah Manggis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Boleh dihitung dengan jari aku melewatkan Shalat Jumat.  Bahkan ketika punya alasan sah buat meninggalkan shalat jumat, tetap aku usahakan menjalani Shalat Jumat.  Bagiku Shalat Jumat adalah hal yang mengasikkan.  Seperti tebak-tebak buah manggis, terutama bagian sebelum khotib naik.  Sangat banyak variasi yang aku temui.  Bukan bermaksud sombong, aku sudah menunaikan Shalat Jumat di 20 Propinsi dan beberapa negara di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid-masjid memberikan variasi yang berbeda di bagian pra khutbah dan khutbahnya.  Dan aku menikmati proses ini dengan berdebar-debar.  Takut pengurus masjidnya kelamaan berbicara atau khotib yang ngomong kepanjangan, monoton dan kadang mulutnya sampai berbuih putih di ujung bibirnya.  Atau aku malah menemukan khotib yang isinya berbobot, singkat dan tepat sasaran.  Dengan pidato pengurus masjid yang to the point pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampungku, ada 3 buah masjid yang rutin melaksanakan shalat jumat.  Yang pertama adalah masjid Muhammadiyah, diisi oleh pedagang, pegawai kecamatan, dan keluarga besar bakoku.  Soalnya rumah mereka dekat masjid ini.  Yang kedua masjid banda malintang, isinya adalah orang di kawasan pinggir kampung dan para musafir.  Lokasinya di pinggir jalan besar.  Yang ketiga adalah mesjid koto.  Dekat dengan rumahku, isinya adalah warga asli nagari kami.  Para tetua adat.  Inilah masjid resmi nagari.  Lokasinya di dekat kantor wali nagari dan kantor KAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Koto punya tradisi yang unik.  Khotibnya hanya rotasi dari 3 orang saja.  Malin Bungsu, Malin Paduko dan Malin Marajo.  Imamnya juga bergilir 2 orang, Mak Etek Idin dan Da Sidang.  Muadzinnya juga itu ke itu saja, yaitu Mr Dius atau Saat.  Pengurus Masjid yang suka ngomong yang rada banyak, Sailan, Kakekku Jasam, Pakiah Bagindo, Pak Nazar Guru atau Rangkayo Bungsu.  Katanya sudah tradisi nagari kami seperti itu.  Kepala KUA adalah orang kampung kami asli.  Lulusan IAIN ini tidak pernah jadi khotib Jumat di kampung kami, soalnya ia bukan khotib nagari.  Ia hanya rutin berkhotbah di masjid-masjid lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara jumatan di kampungku sangat bertele-tele.  Pidato pengurus masjidnya sangat panjang.  Belum lagi sekali-kali ada petuah dari Pak Wali Nagari tentang gotong royong dan ini itu segala macamnya.  Khotbah jumatnya apalagi.  Khotib hanya membaca buku kumpulan khutbah jumat.  Stocknya pun tidak seberapa.  Gaya membacanya pun kurang meyakinkan.  Seperti bernyanyi.  Aku saja yang jarang tinggal di kampung, pernah mendengar khutbah yang sama sebanyak 5 kali.  Aku ingat betul kata-kata khotibnya, “banyak yang reput (repot-pen), tapi tetap sembayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kuliah aku suka sholat jumat di kampus dan masjid dekat kos.  Kalau di kampus, standar saja lah.  Acara dimulai oleh pidato anak DKM, mahasiswa jenggotan, ngomong pelan, celana yang senteng di atas mata kaki.  Khotibnya pake bahasa yang tinggi.   Seringnya menghujat amerika dan kapitalis, dan menyerukan kembali ke sistem islam.  Kalau masjid dekat rumah, biasa masjid kampung.  Khotibnya seperti orang pake kerudung.  Membawa tongkat pula.  Tapi masih pake bahasa Indonesia, kalau di tempatku KKN dulu mereka bergaya sama tapi pakai bahasa arab.  Ritual pra khutbahnya, sedikit mirip di kampungku.  Bedanya cuma pakai bahasa sunda saja.  Situasi seperti ini banyak kita temui di daerah-daerah pedalaman Jawa dan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di masjid dekat kantorku, ritualnya mirip-mirip di masjid kampus.  Bedanya, yang datang kebanyakan ketika khutbah udah berlangsung seperempatnya.  Dan ketika khotib berkutbah, banyak yang jongkok sambil merokok.  Untuk khotib, beberapa kali ada beberapa orang nama terkenal.  Pilihan kata dan intonasi mereka biasanya mantap-mantap.  Terkadang ada juga habib yang berkhotbah.  Suaranya sengau arab.  Sangat energik berpidato.  Terutama pada bagian menentang amerika dan pengaruh televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku Shalat Jumat di Beijing saat musim dingin baru berakhir.  Masjidnya jauh di pinggir kota, kesananya naik bus dengan beberapa orang kawan.  Airnya begitu dingin ketika wudhu.  Jamaatnya adalah orang cina dan turunan arab/persia.  Pidato pengurus dan khotbah menggunakan bahasa yang aku tak mengerti.  Ketika shalat berlangsung, selepas al-fatihah, aku dan kawan-kawan langsung berteriak amin keras-keras, seperti di tanah air.  Ternyata disana, jamaahnya hanya diam saja selepas imam membaca al fatihah.  Banyak jemaah lain yang menoleh ke kami.  Mereka bingung mungkin dengan perangai dan penampakan kami yang berbeda dengan mereka.  Abis jumatan, kami pun langsung kabur.  Tidak mau dilihat orang-orang dengan sorot mata aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pedalaman Cililitan Jakarta beberapa tahun silam. Di sebuah masjid kampung kecil, aku menemukan pengalaman jumatan yang berkesan.  Isi khotbahnya sangat menarik hatiku, intinya sebuah ajakan untuk berbuat baik.  Mirip-mirip jargon 3 M, AA Gym.  Cuma si khotib menyampaikan dengan bahasa yang sangat menarik.  Sedikit puitis dan filosofis.  Penasaran, aku menunggu beliau di teras selepas sholat di teras masjid.  Biasanya abis salam, aku langsung kabur mencari warung buat makan siang, atau pulang ke rumah kalau shalatnya di masjid dekat rumah.  Aku ajak beliau bersalaman, kami pun sempat ngobrol sebentar.  Lalu ia menanyakan kerja dan kuliahku, lalu ia bilang dulu banyak alumnus tempat kuliahku di tempat kerjanya dulu.  Sambil menyebut sebuah perusahaan besar dan terkenal di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, khotbah seperti di Cililitan tak pernah lagi kudengar.  Isi khotbah sekarang, kebanyakan hanya berisi hujatan, cacian dan sikap menyalahkan.  Kadang-kadang kepanjangan pula retorika-retorikanya.  Jamaah pun lebih memilih lalok-lalok ayam daripada serius mendengarkan.  Menebak buah manggis ritual shalat jumat, menjadi tak seru lagi.  Sebelum wudhu, aku sudah bisa memperkirakan materi yang disampaikan khotib.  Untuk ke depan, memperkirakan jumlah hasil celengan jemaah mungkin lebih menantang.  Aku pun bisa terpacu datang duluan ke masjid, biar laporan keuangan pengurus tidak terlewat.  Kan yang datang duluan dapat kambing. Hehehehe....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5365567691949949289?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5365567691949949289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5365567691949949289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5365567691949949289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5365567691949949289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/shalat-jumat-dan-tebak-tebak-buah.html' title='Shalat Jumat dan Tebak-Tebak Buah Manggis'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-3151355592984841665</id><published>2007-06-05T02:47:00.000-07:00</published><updated>2007-06-05T03:39:26.974-07:00</updated><title type='text'>Pak Sulan, Tukang Kincir Kakek</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beliau adalah warga nagari sebelah.  Nama nagarinya, Guguak.  Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.  Sebagian nagari guguk ini dilewati ruas jalan Tanjung Ampalu-Lintau-Payakumbuh.  Koto nagari ini terletak agak di dalam, sekitar 2 kilometer dari ruas jalan raya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guguak adalah sebuah nagari yang cukup sederhana.  Jika keberhasilan perantau dan jumlah PNS, dan tingkat pendidikan formal dijadikan indikator keberhasilan sebuah nagari.  Nagari Guguk bisa dibilang agak tertinggal.  Tapi keberhasilan dan pencapaian lebih dari sekadar itu semua.  Lagian indikator keberhasilan kawasan yang ada saat ini, lebih dilihat dari kacamata kaum kapitalis.  Nathan Setiabudi, seorang rohaniawan kristen malah pernah menggugat definisi SDM yang berkembang saat ini.  Seseorang hanya dinilai berdasar potensi kapital yang bisa diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sosok Pak Sulan.  Ia adalah generasi terakhir kehidupan serba bisa, sebelum era spesifikasi dimulai.  Pak Sulan bisa membuat rumah pondok, membuat jaring atau jala ikan, membuat perahu juga bisa, memperbaiki kincir, sepeda rusak pun ia tak akan membawanya ke bengkel.  Memasak pun saya rasa Pak Sulan bisa.  Sebuah pondok di tengah ladang di pinggir sawah adalah tempat pak Sulan tinggal.  Aku ingat betul di tahun 1994, ketika aku SMA  aku pernah kesana.  Berdua dengan mamakku berjalan kaki empat kilometer, menyampaikan pesan kakek meminta Pak Sulan datang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sulan adalah tipe orang yang kemana-mana masih memakai sendal jepit, kopiah beludru hitam lusuh kekuningan, baju berwarna gradasi hitam sampai warna celana parmuka dengan celana bahan berwarna sama.  Rokok Pak Sulan adalah cerminan dari isi kantongnya.  Mulai dari Gudang Garam Surya sampai pada rokok daun nipah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu aku menyampaikan pesan kakek, meminta waktu beliau untuk datang ke kampungku.  Minggu depan ada pekerjaan kincir yang rada ribet.  Memasang amo-amo.  Ia tak banyak bicara pada kami.  Hanya mengangguk saja sambil terus menggulung daun nipah bakal dijadikan rokok.  Terkesan seperti seorang dukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah itu ia datang ke kampung kami.  Berjalan kaki saja.  Zaman itu memang belum banyak sepeda motor ataupun ojek.  Ia datang sore hari, dan sudah komplit membawa perlengkapan pertukangan beliau beserta pakaian ganti.  Rencananya ia akan menginap dua malam di rumah kami.  Beliau masih berkesan angker dan sombong.  Ia hanya mau bercerita banyak dengan kakekku ia panggil angku.  Kakekku dan Pak Sulan, sibuk bercerita apa saja.  Kebanyakan mengenai persoalan ternak dan kehidupan keagamaan.  Mungkin memang ini topik yang bisa menyatukan kakekku dan Pak Sulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok paginya, kami semua bergerak ke kincir di Sawah Taruko.  Sulan sudah ambil posisi menilik-menilik perumahan kincir kami.  Ia juga mulai menginspeksi amo-amo, kayu tempat tatakan amo-amo, sama sumbu baru buat kincir kami.  Lagaknya seperti seorang kepala teknik sebuah pabrik melihat anak buahnya bekerja.  Aku dan mamakku berbisik-bisik, lihat Pak Profesor Kincir lagi melihat kerja para anak buahnya.  Lalu Pak Sulan mulai melakukan pekerjaan, kakekku memposisikan diri sebagai asisten merangkap mandor.  Sesuai perintah Pak Sulan, kami disuruh di posisinya masing-masing.  Aku kebagian tugas memegang pancang utama kincir bertiga dengan mamak-mamakku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam makan siang, seluruh amo-amo sudah terpasang di batang besar tatakannya.  Hanya ujung-ujungnya belum diikatkan.  Lingkaran kincir belum sempurna terbentuk.  Dan kami pun mulai makan siang.  Makan siang di pinggir kali adalah sebuah kenikmatan.  Penuh canda tawa dan obrolan sok tau khas orang minang.  Dan, inilah kali pertama aku melihat Pak Sulan ikut nimbrung bicara dengan kami yang muda-muda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan makan siang, aku melihat betapa Pak Sulan sangat menghargai keahliannya sebagai ahli kincir air.  Malah sedikit berlebihan.  Ia menganggap kincir air adalah penemuan hebat orisinal urang minang.  Orang bule pun katanya pernah berdecak kagum melihat kincir buatannya beroperasi.  Katanya dulu ada serombongan bule mamudiak batang ombilin dan sinama.  Asumsi saya sih, orang yang lagi survay geologi.  Sempat berhenti di Kincir Pak Sulan, dan katanya bule itu terkagum-kagum melihat cara kerjanya.  Terutama ketika Pak Sulan mengerjakan pekerjaan mengganti batang sumbu kincir.  Tanpa menurunkan kincirnya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai Pak Sulan bercerita, mamak saya ngoceh pelan.  “Mano pulo ka heran bana bule jo kincia ko, basi se lai bisa dibueknyo tabang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apapun itu, Pak Sulan adalah orang yang sangat mencintai dan bangga dengan profesinya.  Walaupun itu hanya sebatas kincir air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UBGB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Model Kincir Air Sinamar &amp; Ombilin Air ini, sudah dibuat versi bajanya oleh PT Freeport Indonesia di Mile 21, Timika, Papua.   Konon, engineernya berkunjung ke Sumbar untuk mempelajari bentuk kincirnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-3151355592984841665?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/3151355592984841665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=3151355592984841665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/3151355592984841665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/3151355592984841665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/pak-sulan-tukang-kincir-kakek.html' title='Pak Sulan, Tukang Kincir Kakek'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-5796479798617219970</id><published>2007-06-04T09:05:00.000-07:00</published><updated>2007-06-04T09:06:51.752-07:00</updated><title type='text'>Kincir Air untuk Sawahku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kami punya sebidang sawah di pinggir batang sinamar.  Sebenarnya bukan sawah kaum saya, itu adalah sawah kaum malayu.  Cuma sudah sekian lama tapandam pada kaum kami.  Namanya sawah taruko, luasnya sekitar satu setengah hektar.  Hanya ada 3 petak sawah, untuk hamparan seluas itu.  Di kampung saya disebut Lupak.  Yang terluas adalah lupak godang, luasannya sekitar satu hektar.  Sisanya adalah lupak muko bosuik dan lupak panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berada di pinggir sungai, tekstur tanahnya sedikit berpasir.  Akibatnya, air tak bisa bertahan lama di sawah.  Merembes ke dalam tanah.  Sehingga demand sawah ini akan air sangatlah tinggi.  Air banda tak pernah cukup.  Sehingga dibutuhkan irigasi tambahan untuk mengairi sawah.  Beruntung sawah ini terletak di pinggir sungai. Parumahan untuk kincirnya juga cukup baik.  Air deras, tebing lumayan curam, bisa dimasuki mobil pula walaupun jalan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering menemani kakek memperbaiki kincir.  Terutama ketika pulang kampung disaat musim libur tiba.  Kalau ketika libur tiba, pekerjaan di sekitar kincir sangatlah menyenangkan.  Karena banyak bermain airnya. Tapi ketika kami sudah tinggal di kampung, pekerjaan ini terasa berat dan menjemukan.  Bermain air tak lagi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kincir air terdiri dari berbagai bagian.  Cuma, tidak semuanya istilah teknisnya saya bisa ingat lagi.  Yang saya ingat hanyalah bosuik, amo-amo, lantak, kabuang dan palanta kincia.  Yang lain saya lupa.  Bosuik adalah pipa bambu yang mengaliri air ke sawah.  Amo-amo adalah semacam jari-jari pada kincir.  Lantak, kabuang dan palanta saya rasa kita semua sudah tahu.  Untuk amo-amo ini aku punya cerita banyak.  Setiap kincir biasanya akan mengganti seluruh amo-amo ini setahun sekali.  Masanya bagi kincir untuk over haul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amo-amo terbuat dari kayu, lurus berdiameter 5-7 cm.  Kayu ini bukan kayu biasa, haruslah kayu yang kuat.  Dan jenis kayu amo-amo ini sudah tidak ada lagi di tengah kampung.  Mencarinya harus di hutan primer.  Karena biasanya kayu di hutan primer, lurus, teksturnya kuat.  Mungkin karena efek kompetisi memperebutkan hara dan sinar matahari.  Tempat yang biasa kami kunjungi mencari amo-amo ini adalah di sebuah bukit di pinggir kampung.  Biasanya mamak-mamak, urang sumando, anak pisang berkumpul pada suatu hari untuk mencari amo-amo.  Satu hari disisihkan untuk berangkat ke bukit.  Membawa peralatan perang.  Mengambil amo-amo secukupnya.  Diturunkan ke bawah bukit dan ditumpuk dipinggir jalan.  Dan nanti akan tiba mobil menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, amo-amo akan dipotong sama panjang sesuai jari-jari kincir yang akan dibuat.  Lalu direndam selama seminggu di sungai.  Baru amo-amo siap di pasang.  Amo-amo akan dipasang di sebuah dudukan yang istilah teknisnya saya lupa.  Dudukan ini terbuat dari sebuah potongan kayu besar, sepelukan orang dewasa.  Dibuat bulat, tengahnya dibolongi buat bakal sumbu kincir,  Bagian luarnya akan dipahat berlubang petak-petak, tempat amo-amo akan ditancapkan.  Kakekku biasanya membuat sendiri dudukan ini.  Kalau waktu mepet, beliau akan meminta bantuan Angku Sulan dari kampung sebelah(Nama aslinya Ruslan).  Aku dan mamak-mamakku, memanggil Angku Sulan ini Profesor Kincir.  Karena beliau memang cukup mumpuni mengurusi kincir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu amo-amo direndam, adalah waktu menyiapkan kabuang, palanta kincir, basuik dan sebagainya.  Aku hanya bisa mengerjakan pembuatan basuik.  Bambu dipotong-potong sepanjang dua meter.  Lalu dibolongi, dengan dilantak pakai suli.  Trus ujungnya dipapat-papat agar bisa masuk ke potongan bambu lain.  Tak lupa, buku-buku di ruas bambu dihilangkan.  Sebagai pencegah kebocoran di sambungan, digunakanlah sabut kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua selesai.  Kincir siap ditegakkan.  Pak Sulan pun tiba dari kampungnya.  Lalu mulai memasang amo-amo.  Kabuang.  Rotan pengikat ujung amo-amo.  Memasang anyaman bambu di sela amo-amo agar air bisa memutar kincir.  Ketika kincir mulai berputar, kabung mulai dipasang dan air bisa masuk ke bak penampung di atas rasa cape langsung hilang.  Tinggal kaji menurun memasang basuik dan memastikan tak ada kebocoran sampai kesawah.  Sawah mulai tergenang.  Buat lumpur dan benih pun siap disemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Hari ini kincir itu masih berdiri.&lt;br /&gt;Bersela berputar seiring musim tanam&lt;br /&gt;Menunggu masa tergilas peradaban&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-5796479798617219970?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/5796479798617219970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=5796479798617219970' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5796479798617219970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/5796479798617219970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/kincir-air-untuk-sawahku.html' title='Kincir Air untuk Sawahku'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-1788883472339052014</id><published>2007-06-04T09:03:00.000-07:00</published><updated>2007-06-04T09:05:10.489-07:00</updated><title type='text'>Kampungku dan Adatnya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Walaupun secara administratif, kampungku terletak di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung tapi menurut tetua kampung termasuk Luhak Tanah Datar.  Sebenarnya masuk akal saja, karena kampungku berbatas langsung dengan Tanah Datar.  Soal kelarasan, aku tidak begitu tahu, apakah kampungku berlaraskan Bodi Chaniago atau Koto Piliang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di nagariku ada sembilan suku, yakni Malayu, Kampai Tolang, Kampai Ombak, Kandang Jua, Patopang, Cikarau, Piliang IV Rumah, Piliang III Rumah, dan Chaniago.  Aku sendiri bersuku Kampai Tolang dan babako ke Malayu.  Sembilan suku ini terbagi 2 membentuk semacam asosiasi bernama sapamalayuan dan sapiliangan.  Empat suku  pertama masuk ke Sapamalayuan dan sisanya adalah Sapiliangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap suku memiliki perangkat ampek jinih, yakni Pangulu, Manti, Malin dan Dubalang.  Kampai Tolang sukuku, pangulunya bergelar Datuak Rajo Bagagah.  Malinnya bergelar Khatib Dubalang, Mantinya Gaga Marajo dan Dubalangnya adalah Dubalang Sutan, mamak kandungku.  Sapamalayuan juga memiliki semacam ampek jinih juga, yang diambil dari suku-suku anggotanya.  Misalnya, yang menjadi pengulu adalah Datuak Sampono Marajo pangulunya urang Malayu.  Malinnya diambil dari kampai ombak, mantinya adalah manti kampai tolang dan dubalangnya dari Kandang Jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, nagari kami juga memiliki 3 orang inyiak.  Konon ketiga inyiak ini dulu yang manaruko nagari kami untuk pertama kali.  Tiga inyiak ini dipimpin oleh inyiak pucuak bergelar Datuak Cumano (Inyiak Cumano), yang merupakan orang Kampai Tolang.  Dua orang yang lain adalah Inyiak  Rangkayo Bungsu dan Inyak Majo Lelo.  Dua inyiak yang kedua ini merangkap juga sebagai pangulu di sukunya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup kompleks memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ayahku, di zaman dulu sering sekali diadakan pertandingan bola antar surau.  Dimulai pertandingan antar suku sesama balahan sapamaluan atau sapiliangan.  Jarang berkelahi.  Setelah dilanjutkan antar balahan.  Biasanya diakhiri dengan perkelahian.  Tapi karena sudah menjadi tradisi bocah-bocah, perkelahian ini ditanggapi biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap suku tentu memiliki bermacam-macam suduik.  Di kampungku disebut rumah.  Rumah ini dipanggil berdasarkan pemangku adat utama di kaum tersebut.  Misalnya rumahku, di sebut rumahnya Dubalang Sutan.  Bagi rumah yang tidak memiliki perwakilan di barisan empat jinih, dipanggil berdasarkan pemangku gelar yang lain, biasanya yang paling tua.  Misalnya rumah pandito mudo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem warih bajawek untuk masing-masing gelar adalah berdasarkan rumah suduik mereka.  Aku tidak akan mungkin menjadi Pangulu, Manti ataupun Malin.  Karena di rumahku hanya ada Dubalang.   Jadi level tertinggi yang mungkin aku raih hanyalah gelar Dubalang Sutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran empat jinih sangat mutlak untuk acara-acara penting, terutama pernikahan.  Untuk sukuku, malah menjadi lima.  Karena Inyiak Cumano, pemimpin nagari ada di sukuku.  Tanpa kehadiran lengkap mereka pada sebuah acara pernikahan, jangan harap para tetamu sekampung akan menyantap nasi.  Akan dibilang, “yang patuik tampak ndak nampak”.  Biasanya kalau sudah kejadian begini, pihak tuan rumah akan menyodorkan carano ke tengah tamu.  Pertanda minta maaf, sekaligus pemberitahuan kalau di keluarga kami sedang ada masalah dengan para pemimpin kaum.  Ini sering jadi bahan kuncian (kartu as) bagi para niniak mamak untuk para keponakannya yang bandel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika salah satu empat jinih ada yang merantau?  Bukan masalah, karena biasanya dia berwakil ke kemenaknnya yang dikampung.  Panungkek istilah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman terakhirku berurusan dengan kaum adat ini adalah ketika kaum kami punya permasalahan tanah dengan suku malayu.  Suku Bapakku.  Kedua kaum ini mengklaim sebagai pemilik sah pasa taranak di mudiak pasa.  Dan kedua suku ini sepakat mencoba melalu jalan perundingan adat.  Sungguh sebuah penyelesaian yang sangat unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesnya dimulai dari perundingan yang melelahkan.  Bergantian tempatnya antara rumah kami dan rumah kaum melayu.  Dan tak juga menemui kata sepakat.  Lalu karena, kami masih satu balahan sapamalayuan.  Masalah ini dibawah ke dewan sapamalayuan.  Untuk urusan tanah seperti ini diserahkan kepada Tuo Taratak Gindo Sutan, mantinya kaum kampai ombak.  Dan masalah ini juga tidak bisa beliau putuskan.  Akhirnya diserahkan kepada Inyiak Cumano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun inyiak cumano, satu suku denganku.  Beliau berjanji netral menyelesaikan masalah ini.  Dan beliau memutuskan, bahwa segala perundingan akan dilaksanakan di lokasi perkara.  Disinilah aku pernah hadir beberapa waktu.  Dan mulailah beberapa kali kami datang lokasi, ibu-ibu menyiapkan makanan.  Sebelum berangkat, kami kaum kampai tolanh rumah dubalang sutan melakukan konsolidasi.  Lobi ke inyiak cumano.  Rencana akting marah-marah dan seterusnya.  Cukup seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana ayahku dalam posisi ini.  Beliau tidak pernah hadir dalam rapat konsolidasi kita.  Di kaumnya pun beliau seperti menarik diri, beliau bilang urusan kantor lagi banyak.  Tapi ibuku selalu mengupdate status pada beliau.  Apakah beliau bercerita juga pada dunsanaknya, aku tak pernah tahu.  Tapi rasanya beliau bisa menyimpan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali bersidang, lengkap dengan intrik-intrik dan ketegangannya.  Tibalah hari keputusan Inyiak Cumano.  Dimulai dengan petatah petitih tak tanggung panjangnya.  Ia pun mulau menyurahkan riwayat tanah nagari kami.  Bagaimana dulu apra tetua kampung membagi tanah-tanah lengkap dengan riwayat gadai, solang (pinjam-red) dan tralala-trilili lainnya.  Akhirnya diputuskan bahwa pemilik sah tanah ini adalah kaum suku malayu.  Dan kami pun lemas semuanya.  Untungnya, kami bisa menerima kekalahan ini dan tidak berusaha meneruskan kasus ini menjadi kasus perdata di pengadilan.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-1788883472339052014?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/1788883472339052014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=1788883472339052014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1788883472339052014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/1788883472339052014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/06/kampungku-dan-adatnya.html' title='Kampungku dan Adatnya'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-7448852613779844166</id><published>2007-05-28T01:00:00.000-07:00</published><updated>2007-06-21T04:24:38.827-07:00</updated><title type='text'>Sawahlunto</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku merasa Sawahlunto adalah homelandku yang sebenarnya.  Walaupu  kedua orang tuaku berasal (dan saat ini juga kembali tinggal disana) dari Kumanis, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung.  Memang dari Sawahlunto, kampungku cukup dekat.  Lewat Talawi atau Padang Sibusuk, tidak jauh beda lamanya di jalan.  Ditarik garis lurus, dari kampungku ke Sawahlunto pasti lebih dekat lagi.  Satu hal yang bisa memaafkanku menjadi orang kumanih berhomeland Sawahlunto, adalah sebenarnya mereka satu saja.  Apalagi kalau ada yang berperkara baik lewat pengadilan negeri ataupun agama, kalau berbuat di Kumanih sidangnya tetap di Sawahlunto.  Bukan di Muaro Sijunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali menginjakkan Sawahlunto adalah ketika aku kelas 3 SD.  Ketika kami abis mudik ke kampung dan hendak kembali ke Paninggahan.  Kami menyempatkan mampir ke Sawahlunto dulu.  Orang tuaku ada urusan.  Yang paling kuingat hanyalah mabok darat akibat perjalanan dari Muaro Kalaban ke Pasar Sawahlunto.  Kala itu jalannya masih sempit belum selebar sekarang,  tikungannya pun benar-benar mengocok perutku.  Ditambah jenis mobilnya yang memang sangat membantu mempercepat proses pemabukkan seseorang: Datsun Minibus.  Mobil kecil berkepala lonjong, antara sopir dan penumpang tak dapat bicara, terhalang kaca.  Dan pula, posisi sopir berada sedikit di bawah penumpang.  Jadinya sesampainya di pasar Sawahlunto, saya benar-benar mabuk dengan muka pucat pasi tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai keberadaan Sawahlunto sebagi kota tambang, rasanya sudah cukup banyak yang tahu.  Sejarah kota Sawahlunto sedikit banyak mempengaruhi sejarah Sumatera Barat, terutama di bidang infrastruktur perkeretaapian dan pelabuhan teluk bayur, yang dulu bernama Emma Haven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit ringkasan sejarah tambang Sawahlunto adalah dimulai dari  hasil temuan beberapa geologist Belanda tentang deposit batubara di aliran Sungai Ombilin.  Sampai pada penandatanganan Notaricle Acte di tahun 1888, oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang Jaar St. Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.  Diantara hasil realisasi akta ini adalah pembangunan rel kereta api dan pelabuah teluk bayur.  Akte ini juga pernah digugat oleh kalangan buruh lokal di tahun 20an, dimana di Silungkang pernah terjadi pemberontakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari namanya, Sawahlunto berasal dari dua kata Sawah dan Lunto.  Sawah berarti sawah tempat orang bercocok tanam.  Lunto adalah sebuah nagari berbatas dengan Silungkang dan Lumindai, masih disekitar kota Sawahlunto juga.  Nama nagari ini juga dipakai sebagai nama sungai kecil yang melintasi kota Sawahlunto.  Sawahlunto mungkin berarti sawahnya orang Lunto atau bisa juga berarti sawah di pinggiran bantang Lunto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawahlunto adalah contoh sebuah kota yang penuh pasang surut kehidupan.  Pernah menjadi sebuah kota yang jaya dan pernah pula mengalami keterpurukan.  Kota ini pernah cukup maju sebelum penjajahan Jepang, ketika batubara mencapai puncak produksinya di tahun 1938.  Kota ini pernah pula menjadi kota yang berpengaruh di Sumatera Tengah di bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian.  Ekspatriatnya juga cukup banyak.  Belanda pernah beseliweran hilir mudik di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Saleh Mangudiningrat, seorang Jawa priyayi, generasi pertama dokter pribumi lulusan belanda pernah bertugas di kota ini.  Di kota ini pula lahir dua orang anak beliau, Siti Wahyunah Syahrir dan Soedjatmoko.  Kelak kedua orang Jawa ini cukup berpengaruh dalam peta politik Indonesia di zaman pergerakan.  Sebuah penugasan dokter senior lulusan belanda menunjukkan bahwa kota ini dulunya cukup diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawahlunto juga pernah redup sementara ketika masa PRRI dan G 30 S, dimana aktivitas politik mengganggu aktivitas penambangan.  Padahal penambangan adalah sektor ekonomi utama kota ini.  Konon katanya, di masa ini pula lah kristenisasi cukup gencar di kota ini.  Yang sampai sekarang menyisakan populasi kaum katolik dan protestan yang cukup tinggi, di atas kota-kota lain di Sumatera Barat.  Saya tidak akan banyak membahas tentang kristenisasi ini, karena pandangan pribadi saya menyatakan agama adalah hak individu.  Urusan kita dengan sang pencipta.  Kalaupun ada kristenisasi, kita tidak bisa juga semerta-merta menyalahkan para pekabar injil.  Toh, ketika masa sulit itu memang hanya mereka yang konsisten membantu orang-orang kesulitan.   Yang jelas, saya cukup menikmati pemandangan gereja dan sekolah Santa Lucia di pusat kota Sawahlunto.  Membawa saya pada fantasi sesudut kota kecil eropa, yang biasa saya saksikan di film-film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini produksi batubara Sawahlunto berada di titik terbawah sepanjang sejarah tambang kota ini.  Gemuruh kereta api pengangkut batubara tak bisa lagi kita dengarkan di alam sumatera barat.  Dentingan logam aktivitas para pekerja di bengkel utama tak lagi terdengar.  Perjalanan batubara dari lubang tambang menuju silo besar penampungan melalui ban berjalan (conveyor belt) juga sudah tidak ada.  Yang masih terlihat hanyalah aktivitas para penambang rakyat dan sedikit kontraktor kecil resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin cadangan batubara masih banyak di perut bumi Sawahlunto.  Cuma dengan berlimpah ruahnya batubara di Kalimantan, batubara Sawahlunto tak lagi seksi di mata investor.  Biaya produksi dan investasinya terlalu besar.  Sementara di kalimantan, menggali lubang buat menanam karet saja, kadang batubara ditemukan.  Memang, di kalimantan kalori batubaranya lebih rendah.  Tapi, itu bukanlah menjadi sebuah masalah besar saat ini.  Ketel-ketel uap saat ini sudah dimodifikasi untuk batubara berkalori rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kota Sawahlunto sedang berusaha menemukan alternatif penggerak utama perekonomian warganya.  Walikotanya sudah berusaha membuat terobosan di bidang pariwisata dan perkebunan coklat rakyat.  Saya tidak begitu mengetahui sejauh mana keberhasilan semua ini.  Semoga saja berhasil, dan Sawahlunto bisa bangkit lagi.  Karena kota ini memang sudah terbiasa mengalami pasang surut sepanjang sejarahnya.  Intinya, harapan masih tetap ada.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-7448852613779844166?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/7448852613779844166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=7448852613779844166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7448852613779844166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/7448852613779844166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/05/sawahlunto.html' title='Sawahlunto'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-710441324314465674</id><published>2007-05-28T00:59:00.000-07:00</published><updated>2007-05-28T01:00:14.666-07:00</updated><title type='text'>Paninggahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Selepas dari Singkarak, di tahun 1984 ayah sempat dipindah ke Tanjung Balit lagi.  Tapi hanya sebentar, sekitar 6-8 bulan saja.  Disana kami mengontrak rumah yang agak ke tepi kampung.  Arah jalan ke Paninjauan.  Tak banyak kenangan di masa ini, selain main gundu, jalan di tengah kebun kopi ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 1985, ayah diangkat jadi kepala perwakilan kecamatan X Koto Singkarak di Paninggahan, yang meliputi wilayah Paninggahan dan Muara Pingai.  Sekarang daerah ini sudah menjadi kecamatan penuh, namanya Kecamatan Junjuang Sirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengontrak rumah di dekat Pasar, disana disebut Balai.  Masa-masa berdiam di adalah masa yang paling kami ingat.  Banyak sekali pengalaman unik di daerah sini.  Adik bungsuku lahir disini, di tahun 1986.  Mungkin ratusan cerita bisa terlahir disini, karena begitu banyaknya pengalaman yang kami rasakan sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ayah waktu itu sangat berat, terkait dalam proses pemenangan Golkar.  Maklum di tahun 1982, disini Golkar kalah.  Yang menang adalah PPP.  Dari cerita ayah, hubungan beliau dengan elit-elit nagari sangatlah dinamis.  Begitu menarik katanya, dan berbeda dengan nagari-nagari lain tempat beliau ditugaskan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari kondisi pemilu 1982, wilayah ini begitu menjadi sorotan pejabat.  Silih berganti mereka datang ke wilayah ini.  Mulai dari Gubernur Azwar Anas, sampai ke Hasan Basri Durin.  Dan tentu saja, ayah dan ibu yang dibikin sibuk.  Rumah kami tak ubahnya seperti ruang sekretariat.  Beruntung, di tahun 1987 Golkar menang di wilayah ini, suaranya lumayan pula 69% dari sebelumnya hanya 45%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa ini, kami punya seekor yang anjing yang sangat patuh.  Namanya Pilo.  Ritual paginya adalah berlari di belakang Honda Win ayah menuju kantor.  Lalu ia tidur-tiduran di teras kantor ayah sampai jam 10 pagi.  Setelah itu, ia pulang ke rumah menunggu rumah.  Ketika ayah dan Ibu pulang, ia akan berlari menjemput ke ujung gang.  Lalu mulai menggonggong meminta makan.  Dan Ibu pun memberikan makan.  Jam 2 adalah waktu Pilo untuk adikku yang nomor 3.  Adikku suka menjadikan Pilo kuda tunggangan, atau sesekali adikku memasangkan bajak kecil ke pundak pilo.  Selesai bermain dengan adikku, pilo melanjutkan kegiatan sosialisasinya dengan sesama komunitas anjing lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal galak, Pilo jangan diragukan.  Begitu hebat sebagai seekor anjing penjaga rumah.  Ia hanya akan baik pada kami sekeluarga ditambah beberapa orang yang sering ke rumah.  Pernah suatu ketika ajudan Bupati datang ke rumah, menyampaikan pesan Bupati.  Pilo langsung menyalak dan memanjat si ajudan.  Untung ayah melihat, kalau tidak, mungkin si ajudan sudah digigit atau minimal sudah mengambil langkah seribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali di akhir 1989, ketika itu ayah sudah menjadi camat Singkarak tapi kami masih tinggal di Paninggahan.  Sore itu kami sekeluarga-dengan mobil dinas pak camat kijang merah- hendak ke Koto Baru (Kantor Bupati Solok-pen) menemani ayah.  Pilo lagi berkeliaran di dengan komunitasnya, dan kami pun tidak sempat mengikat.  Menjelang Sumani, adikku menengok ke belakang dan ia berteriak memberi tahu di belakang ada Pilo.  Segera ayah memberhentikan mobil, dan memang pilo lagi terengah-engah di belakang.   Langsung Pilo dibawa ke rumah seorang Kepala SD kenalan kami, diikat disana untuk dilepas lagi nanti sampai kami nanti pulang dari Koto Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami pindah dari Paninggahan tahun 1990, pilo berikan ke keluarga Tek Jaminar.  Ketika kami berkunjung kesana 6 bulan berikutnya, Pilo masih mengenal kami.  Masih berusaha bermanja-manja ke Ayah dan adikku si penunggangnya.  Tahun 1993 ketika kami berlebaran ke Paninggahan, Pilo dikabarkan sudah mati setahun sebelumnya.  Kulihat adikku (11 tahun waktu itu) tertunduk lama.  Mungkin ia menangis kehilangan Pilo untuk selamanya....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-710441324314465674?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/710441324314465674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=710441324314465674' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/710441324314465674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/710441324314465674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/05/paninggahan.html' title='Paninggahan'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-8634166558433417945</id><published>2007-05-28T00:57:00.000-07:00</published><updated>2007-05-28T00:59:31.312-07:00</updated><title type='text'>Singkarak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Singkarak sungguh beruntung, nama nagari ini diabadikan sebagai nama danau terbesar di Sumatera Barat.  Menurut saya kajian mengapa danau ini bernama Singkarak merupakan suatu hal yang menarik.  Kenapa danau ini tidak bernama danau Malalo, Sumpur, Kacang, Paninggahan atau seterusnya.  Karena kalau dilihat berdasarkan sumber air danau, Sumani mungkin lebih tepat dijadikan sebagai nama danau ini.  Karena Batang Gumanti/Batang Sumani bermuara di danau ini, sehingga menjadi sungai secara relatif di nagari ini batas “bendungan” alami danau singkarak.  Atau, berdasar ke tempat outletnya air danau ini, Danau Ombilin juga lebih tepat.  Mirip penamaan waduk Jatiluhur, atau Cirata di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berdasar ukuran panjang “pantai”, Danau Kacang lebih tepat juga disebut.  Karena nagari yang memiliki pantai danau terpanjang adalah Kacang.  Mulai dari biteh (batas dari ombilin) sampai ke batas Tikalak relatif lebih panjang dari pantai lain.  Singkarak mungkin termasuk nagari yang memiliki pantai danau yang pendek dibanding nagari-nagari lain.  Tapi anyway, Singkarak memang sangat beruntung nama nagarinya diabadikan sebagai nama danau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang punya kenangan yang kuat dengan Danau Singkarak dan Nagari Singkarak.  Tahun 1979, kami pindah dari Tanjung Balik (Kecamatan X Koto di Atas) ke Singkarak.  Ayah menjadi Pak KK di kantor camat Singkarak.  Kami mengontrak rumah sebuah rumah panggung di jorong pasia.  Disinilah memori masa kecilku mulai tumbuh.  Banyak kenangan di rumah panggung ini.  Mulai dari pesta ulang tahun, kelahiran adik kedua.  Kelahiran adik pertama, aku tidak ingat sama sekali.  Maklum jaraknya denganku hanya satu setengah tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling aku ingat disini adalah suara motor ayah, suzuki warna kuning berlogo pemilu 1982.  Kalau sudah mendengar suara motor ini, aku biasanya buru-buru keluar berlari.  Apalagi kalau ayah membawa nasi bungkus sisa rapat di kantor.  Biasanya langsung kita tambahkan dengan nasi di rumah, lalu kita makan beramai.  Hua hua.. kepedesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita ayah, terlihat masa ini adalah masa yang cukup berkesan sepanjang penugasan beliau.  Beliau menjadi KK melayani 4 atau 5 camat yang datang silih berganti.  Juga banyaknya kegiatan-kegiatan besar yang beliau tangani dimasa itu.  Mulai dari pekan penghijauan nasional di Aripan, dimana Soeharto datang.  Pembangunan SMA, kantor camat baru, hingga pembangunan sebuah Balai Penelitian Departemen Pertanian.  Beberapa proyek pembangunan ini tentu membutuhkan lahan.  Ayahku selalu terlibat penuh dalam upaya pembebasan lahan untuk beberapa pembangunan ini.  Dan tentu saja, semuanya tidak selalu mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran tiba adalah masa yang paling indah bagiku dan adik-adik.  Setiap tahun di Singkarak diadakan semacam pesta rakyat.  Bermacam-macam permainan diadakan.  PJKA juga membuka kembali untuk seminggu angkutan penumpang dengan rute Stasiun Solok-Stasiun Singkarak-ke Batu Taba.  Jualan mainan anak berlimpah ruah.  Benda yang paling kuingat adalah kamera plastik imitasi yang berisi air, kalau dipencet airnya keluar menembak mata orang di depan.  Bau khas plastik mainan ini, sampai sekarang masih berada di memori indra penciumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Singkarak selalu ramai setiap lebaran, kami tidak pernah merayakan lebaran di tempat nenek.  Ayah harus selalu stand by di lokasi.  Berjaga-jaga agar pesta rakyat ini tetap dalam jalurnya.  Tidak ada perahu yang tenggelam, buaian kaliang patah,  permainan judi dadu kuncang. perkelahian antar kampung dan seterusnya.  Tapi itu tidaklah menjadi masalah, justru lebaran kedua dunsanak-baik jauh ataupun dekat-dari kampung berdatangan  rumah kami.  Selain berkunjung ke keluarganya, mereka juga sekalian berwisata ke Singkarak.  Raun-raun ke Singkarak memang sudah jadi tradisi orang kampung kami.  Dan kali ini mereka punya tempat singgah yang pas.  Tak jarang mereka menginap lebih dari dua malam.   Aku dan adik-adik senang saja.  Mereka suka memberi salam tempel.  Dan uangnya bisa kubelikan bermacam-macam mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang pesta rakyat semacam di danau Singakarak ini masih menjadi mindset utama para birokrat pengurus pariwisata.  Sedari saya kecil tidak pernah berubah, semua masih dilihat dari jumal entry tiket masuk ke objek wisata.  Menggarap wisata masih berkonsep keramaian buaian kaliang dan pasar malam.  Mengembangkan pariwisata jauh lebih kompleks daripada sekadar itu semua.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-8634166558433417945?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/8634166558433417945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=8634166558433417945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/8634166558433417945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/8634166558433417945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/05/singkarak.html' title='Singkarak'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-897205118940376584.post-2542829655675883525</id><published>2007-05-27T01:53:00.000-07:00</published><updated>2007-05-27T01:55:09.033-07:00</updated><title type='text'>Tanjung Balit, Tanah Kelahiran</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mengenang jejak masa lalu selalu punya keasyikan tersendiri.  Mungkin karena sembari mengingat-ingat, perasaan kita juga diaduk-aduk.  Kali ini saya mencoba meretas ingatan masa lalu ke dalam sebuah tulisan.  Mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Balit, Kecamatan X Koto di Atas.  Di nagari ini, aku dilahirkan di Tahun 1978.  Untuk selanjutnya, nama nagari tercantum di akte kelahiran, Ijazah SMP, SMU dan Universitas.  Untuk KTP, aku menggunakan Solok saja.  Kata Pak Lurah dulu, cukup nama daerah tingkat dua saja yang dicantumkan.  Untuk ke tanjung Balit ada dua jalan utama ketika itu, lewat Paninjauan atau Sulik Aia.  Kedua simpang jalan ini berada di Singkarak.  Jarak tempuhnya juga tidak beda jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tak ada memori tentang masa sangat kecil ini di Tanjung Balit.  Kalaupun ada, hanyalah dari cerita orang tua dan keluarga lainnya.  Aku lahir ketika ayah bertugas di Kantor Camat X Koto di Atas.  Ini merupakan daerah penugasan pertama ayah selepas beliau menamatkan APDN Bukittinggi.  Di masa ini pula, ayah dan ibuku menikah dan aku dilahirkan.  Waktu itu, kantor camatnya baru pindah dari Sulit Air ke Tanjung Balit.  Kalau nagari-nagari di kecamatan ini diranking, mungkin Tanjung Balit berada di posisi ke tiga setelah Sulit Air dan Paninjauan.  Tapi tidak tahu juga, kenapa Ibu Kecamatannya ada di Tanjung Balit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita orang-orang, aku mengambil kesimpulan bahwa masa itu adalah masa yang cukup menyenangkan.  Ayah dan Ibu mengontrak rumah keluarga cukup terpandang di Tanjung Balik.  Yang paling aku ingat adalah nama Ibu Nia dan Ibu De.  Ibu Nia adalah seorang Guru SD di Tanjung Balit ini.  Salah satu keluarga mereka adalah pemilik mobil Tanjung Harapan.  Bis kecil yang melayani rute Tanjung Balit dan Kota Solok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga besar ini cukup dekat dengan kami.  Generasi kedua keluarga ini memanggil Ayah dan Ibuku dengan Uni dan Uda saja.   Sedangkan generasi pertama memanggil cukup memanggil nama.  Secara aku dilahirkan disana, mereka sangat menyayangi aku.  Katanya aku lah tangisan bayi pertama setelah sekian lama tidak ada tangisan bayi di komplek keluarga ini.  Sampai sekarang pun, mereka masih menganggap aku keponakan kecil mereka.  Walaupun sebentar lagi, aku sudah bisa memberikan mereka cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kakek, aku juga mendapat cerita perjalanan kaki beliau dari Sulit Air ke Tanjung Balit.  Atau cerita lain berjalan kaki ke Sawahlunto via Sibarambang, Kajai atau Talago Gunuang.  Kakek memang sangat hobi berjalan kaki.  Mungkin itu yang menyebabkan fisik beliau tetap kuat di usia yang sudah menginjak kepala delapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari keluarga tempat ayah mengontrak rumah, cerita yang paling sering kudengar adalah cerita tentang tangisku yang keras ketika dimandikan.  Baik ketika masih mandi di baskom di depan rumah, sampai ketika sudah mulai mandi di Batang Katialo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayah dan ibu, lain lagi cerita uniknya.  Masa bulan madu mereka, adalah masa yang cukup panas.  Masa dimana Pemilu dan Sidang Umum MPR didramatisir oleh pemerintah orde baru lewat Kopkamtibdanya.  Sebagai camat muda-istilah untuk lulusan APDN yang baru ditugaskan-, ayahku diberikan sepucuk pistol.  Dasar wong sipil ndeso, punya pistol bukannya tambah berani, malah jadi takut.  Pikiran jadi kemana-mana.  Mulai dari takut ada yang  nyolong, sampai takut dibunuh.  Akhirnya mereka di malam pertama pistol menginap, tidak bisa tidur.  Dan mulai malam berikutnya, si pistol diinapkan di tempat yang tak layak.  Kalau tidak salah dibalik periuk yang lagi digantung di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase kedua di Tanjung Balit, adalah di tahun 1984.  Selepas dari Singkarak, ayah sempat dipindah ke Tanjung Balit lagi.  Tapi hanya sebentar, sekitar 6-8 bulan saja.  Disana kami mengontrak rumah yang agak ke tepi kampung.  Arah ke Sibarambang.  Walaupun fase ini sebentar saja, kenangannya cukup berbekas. Main gundu, dan main suruak-suruakan (petak umpet kalau di jawanya) di sebuah surau adalah rutinitas soreku.  Paginya, memintas jalan di tengah kebun kopi kalau hendak ke sekolah juga sebuah kenangan indah.  Walaupun kata orang-orang kampung sana, aku pernah tasapo di kebun kopi itu sehingga pernah menderita demam panas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain ke rumah Bu Nia dan Bu De juga menjadi rutinitas kami.  Ibu berdua ini sudah menganggap aku cucunya.  Jadi kalau ketemu di pasar bersama kawan-kawan, beliau suka marah melihat aku yang dekil.  Hal lain yang cukup membekas adalah ketika ke Sulit Aia, aku langsung terkagum-kagum melihat kemegahan masjid, puskesmas dan pasarnya.  Disitu juga aku mulai tahu, bahwa perantau sulit air sukses-sukses.  Melebihi nagari-nagari lain di kecamatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat aku akan kembali ke Tanjung Balit, membawa keturunanku.  Menapaktilasi sebuah tempat yang tercantum di akte kelahiranku.  Melewati jalan menanjak berliku sambil memandang birunya danau singkarak dari jauh.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/897205118940376584-2542829655675883525?l=ubgb.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubgb.blogspot.com/feeds/2542829655675883525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=897205118940376584&amp;postID=2542829655675883525' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2542829655675883525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/897205118940376584/posts/default/2542829655675883525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubgb.blogspot.com/2007/05/tanjung-balit-tanah-kelahiran.html' title='Tanjung Balit, Tanah Kelahiran'/><author><name>Jejak Seorang Kampung UBGB</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16282293974172287835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
